
"Lalu bagaimana dengan Papa?"
Setelah mendengar penjelasan Mikhayla panjang lebar, pria itu kini bertanya perihal papanya. Karena memang yang menjadi penghalang dalam hal ini adalah Mikhail, bukan Zia ataupun Ibra.
"Belum sih, tapi kemungkinan kalau minta izin Papa tidak akan dapat izin ... lebih baik kita diam-diam saja," tutur Mikhayla mengeringkan matanya, Keyvan yang saat itu tengah menatapnya begitu lekat sontak tertawa sumbang.
Tanpa dijelaskan nyatanya Mikhayla paham watak sang papa. Keyvan begitu bangga dengan pola pikir sang istri yang kerap kali mengajak durhaka demi suaminya. Kadang kala Keyvan merasa istimewa, dia yang dahulu bahkan harus memohon untuk bisa memiliki anak, kini Tuhan justru menghadirkan wanita yang rela tanpa harus diminta.
"Diam-diam hamil maksudmu?"
"Iya, kalau perlu nanti kita pulang pas sudah mau melahirkan ... biar Papa tidak bisa berbuat macam-macam," ujar Mikhayla benar-benar yakin jika dia siap mengandung buah hati Keyvan, dengan segala resiko apapun itu.
"Hahah anak nakal, aku bisa dipancung papa kalau sampai benar-benar begitu, Mikhayla."
Keyvan tidak habis pikir kenapa bisa istrinya sesantai itu mengutarakan ide super gila yang bisa saja mengancam nyawa Keyvan sebagai suaminya. Mikhayla hanya terkekeh kala pria itu mengacak rambutnya, biasanya dia akan marah dan tidak terima.
"Papa tidak sekeji itu lah, semarah-marahnya Papa paling cuma pukul. Mana pernah dia sampai membunuh orang."
Deg
Keyvan sontak menarik tangannya dari rambut Mikhayla, raut wajahnya berubah dan menghela napasnya perlahan. Keyvan hanya tersenyum kaku kala Mikhayla menatapnya, entah kenapa dia sedikit tersentil dengan ucapan Mikhayla padahal sama sekali tidak bermaksud menyinggungnya.
Perubahan Keyvan yang begitu tampak jelas membuat Mikhayla sejenak terdiam. Suaminya memang semudah itu berubah, hanya saja saat ini yang menjadi sebabnya ucapan Mikhayla sendiri.
"Kenapa?"
"Tidak ada, aku hanya bersyukur jika sudah Mama izinkan."
Keyvan tersenyum tipis, berusaha bersikap biasa saja meski sedikit tidak nyaman usai mendengar ucapan sang istri. Sementara Mikhayla yang merasa sedikit lelah menyandarkan tubuhnya di sofa, masih dengan setia menatap sang suami penuh tanya.
"Yakin tidak ada?"
"Hm, yakin."
Keyvan menghela napas panjang kemudian turun menyandarkan tubuhnya. Bahu Mikhayla yang kecil tetap terasa nyaman untuk dia jadikan sandaran, Mikhayla mengusap pelan rambut sang suami dengan lembutnya.
__ADS_1
"Rani ikut kita, Om Babas juga untuk mengawasimu pergi jika tanpa aku ... kata Papa akan lebih baik begitu," ucap Keyvan kemudian, Mikhayla hanya mengangguk mengerti tanpa bertanya karena keputusan Mikhail biasanya bersifat mutlak dan tidak bisa ditentang.
"Iya."
Beberapa menit berlalu, Keyvan yang tadinya tampak segar kini terlelap lantaran terbawa suasana dengan sentuhan sang istri yang membelai rambutnya. Mikhayla yang menyadari sang suami terlelap di bahunya segera merogoh ponselnya, sebagai manusia yang kerap mengabadikan segala sesuatu, jelas tidak akan dia sia-siakan.
Cekrek
"Ck, mukanya kurang dewasa kalau nunduk begini." Mikhayla membenarkan posisi Keyvan agar ketampanannya terpancar lebih kuat.
"Nah gini pas," ucapnya kemudian kembali bersiap untuk mengambil foto mereka.
Cekrek
"Lumayan buat manas-manasin mantan," ucapnya tersenyum bangga, dalam keadaan tidurpun Keyvan masih terlihat amat tampan di matanya.
Lebih dari satu bulan mereka menjalani pernikahan sembunyi-sembunyi. Simpang siur kabar di kampus tentang dirinya tersebar cepat, tentu saja itu adalah mulut jahat Alka yang membuat skenario seburuk itu tentang Mikhayla pasca diusir Keyvan beberapa waktu lalu.
Dia yang muak dan tidak ingin mendapat pertanyaan dari beberapa temannya tanpa pikir panjang memposting foto dirinya bersama sang suami. Tidak peduli meski itu tanpa izin, dia dengan jemari kreatifnya membuat caption yang nantinya akan menjadi huru hara dan mungkin saja membuat Keyvan pusing kepala.
Merasa kurang dengan foto yang tampak biasa, Mikhayla sengaja mengecup wajah Keyvan sebelum dia mengambil foto dirinya bersama sang suami. Tentu saja itu akan dia posting juga sebagai bahan tambahan untuk membakar jiwa Alka sebagai pria.
Dia tersenyum simpul kemudian mematikan ponselnya. Tidak lama lagi laman sosial medianya tentu akan banjir komentar dari orang-orang yang mengenalnya. Sengaja ingin tenang sesaat sebelum huru hara yang dia rencanakan berhasil, Mikhayla turun memejamkan mata di sebelah sang suami.
.
.
.
Hari yang cukup panjang kali ini berlalu cepat. Keyvan yang baru sudah mandi dibuat heran kala sang istri begitu fokus dengan ponselnya seraya tertawa kecil tiada hentinya. Tidak biasanya Mikhayla seperti itu, kala dia mendekat sang istri mengakhiri kesibukannya dan meletakkan ponselnya ke atas nakas.
"Kenapa kamu tertawa begitu?" tanya Keyvan kemudian duduk di hadapan Mikhayla, pria itu curiga dan menatap tajam ponsel sang istri yang kini sudah aman di atas nakasnya.
"Ada yang lucu," jawabnya kemudian, tidak mungkin dia mengatakan apa yang sebenarnya menjadi sebab Mikhayla tertawa.
__ADS_1
"Coba lihat," titah Keyvan menggerakkan jemari agar Mikhayla memberikan ponselnya.
"Mukanya biasa saja kenapa sih," gumam Mikhayla mencebikkan bibir, kenapa Keyvan semudah itu memberikan wajah garangnya.
"Aku bisa mendengarmu, Mikhayla."
Terserah, Mikhayla tidak begitu peduli sekalipun dia mendengar semua gerutunya. Andai dapat hukuman juga tidak akan membuatnya mati, pikir Mikhayla.
Mikhayla mencoba menggapai ponselnya, belum juga dia ulurkan pria itu menariknya sedikit kasar. Tentu saja karena perasaan yang alami keluar dalam dirinya.
Keyvan memeriksa pesan dan juga telepon yang masuk, tidak ada yang mencurigakan dan Mikhayla hanya menyimpan nomor telepon orang-orang yang Keyvan juga mengenalnya.
Hati Keyvan memang sedikit lebih lega setelah itu, hanya saja wajah Mikhayla kenapa masih mencurigakan hingga dia bingung sendiri istrinya tersenyum tanpa sebab.
"Apa yang kamu sembunyikan sebenarnya?" tanya Keyvan menatap ponsel dan wajah Mikhayla bergantian, dia terlampau curiga akan terus bertanya sebelum dijawab dengan sebenarnya.
"Sini-sini."
Mikhayla meminta ponselnya kembali, mau tidak mau Keyvan harus berikan. Wanita itu memperlihatkan hasil foto yang tadinya dia ambil diam-diam, Keyvan yang tadinya tampak kusut kini terlihat lebih santai dan emosinya berkurang.
"Lucu kan?"
"Biasa saja," jawabnya santai padahal saat ini dirinya tengah berbunga-bunga lantaran Mikhayla kagumi.
"Tidak asik sama sekali, padahal ini lucu."
Foto itu terlihat manis memang, tapi sama sekali tidak ada lucunya. Keyvan tidak yakin jika alasan Mikhayla segirang itu hanya karena foto itu, pikir Keyvan.
"Hm, lucu sekali sampai aku sendiri bingung kamu kenapa malam-malam jadi begini," ungkap Keyvan lama-lama kesal lantaran Mikhayla masih saja belum berhenti dengan ekspresi misteriusnya itu. Sekali saja menatap mata Keyvan dia akan terbahak tiada henti. Baru kali ini Keyvan merasa tidak punya harga diri di hadapan sang istri.
"Aduh, kenapa jadi selucu ini ya."
"Sudah tidur sana." Keyvan menenggelamkan wajah Mikhayla tepat di ketiaknya, berharap istrinya akan diam dan berhenti tertawa persis manusia kurang waras itu.
- To Be Continue -
__ADS_1