Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 105 - Didikan Keyvan


__ADS_3

Hampir jam empat pagi, dan tugas Mikhayla tuntas juga akhirnya. Keyvan tampak berpikir dan menyadari makna pesan sang papa. Dia terjebak dalam keadaan, matanya sudah mengantuk luar biasa, kepala Keyvan bahkan terasa pening. Lama tidak berperang dengan tugas menyebalkan itu, otaknya seakan panas dan mungkin jika bisa dilihat kepalanya sudah berasap.


"Dasar istri durjana, wajar saja dia seyakin itu menggodaku."


Hendak marah tapi sudah terlanjur, Keyvan hanya bisa menghela napas panjang melihat sang istri dan tidur pulas bak puteri kerajaan. Sama sekali tidak berpikir bagaimana lelahnya sang suami yang harus mengorbankan pikiran dan waktunya demi tugas semacam itu. Akan tetapi, meski merasa dipermainkan Keyvan tetap merapikan meja belajar dan tugas-tugas Mikhayla dengan baik agar dia siap besok pagi.


Pria itu naik ke tempat tidur kemudian dengan nyawa yang seakan hilang sebagian. Keyvan tetap memeluknya meski jiwa Keyvan ingin sekali mencekik wanita itu. Andai saja bukan istri, mungkin sudah kesulitan bernapas sejak tadi. "Eeungh," lenguh Mikhayla kala sang suami memeluk tubuhnya, mungkin merasa tidurnya terganggu.


"Berani menolak pelukanku?"


Keyvan berdecak dan mengunci tubuh mungil Mikhayla dalam pelukannya, tidak peduli meski wanita itu seakan tidak nyaman. Sebisa mungkin dia akan tetap bertahan dengan posisinya Mikhayla menyerah pada akhirnya.


Tidak butuh waktu lama untuk Keyvan tertidur pulas, rasa kantuk yang menyerangnya membuat pria itu benar-benar tidak berdaya. Sementara Keyvan tertidur, Mikhayla yang sedikit sesak kini terbangun dari tidurnya.


"Mau kemana?"


Mata pria itu terpejam, tapi dia sadar jika Mikhayla hendak melepaskan diri dari pelukannya. Kasihan sebenarnya, suara Keyvan terdengar lemah dan dia bisa memahami betapa lelahnya sang suami.


"Hm? Belum tidur?"


"Tidur," jawab Keyvan dan itu benar-benar terdengar lucu bagi Mikhayla, sontak wanita itu terkekeh seraya memainkan rambut Keyvan yang mulai sedikit panjang.


"Woah tugasnya sudah selesai?"


Mikhayla tidak akan berhenti bicara, sudah tahu suaminya mengantuk parah. Bisa-bisanya wanita itu tetap mengajaknya bicara, Keyvan yang sedikit kesal kini membuka matanya yang sudaj luar biasa kecil itu.


"Hm, katakan pada dosenmu itu ... tugas ada batasnya," gumam Keyvan kemudian kembali terpejam dan berusaha mengabaikan Mikhayla yang kini tampak kagum dengannya.

__ADS_1


"Tapi hebat, ini belum jam empat sudah selesai ... biasanya Papa sampai jam empat tiga puluh, itupun belum selesai semua," tutur Mikhayla yang membuat Keyvan yakin betul jika bukan hanya dia korban kemalasan Mikhayla.


"Sudah kuduga," gumam Keyvan pelan dan itu tidak terlalu Mikhayla dengarkan, dia terlalu bahagia dan sudah tentu kecerdasan Keyvan tidak akan kalah dari sang papa.


"Sayang upahnya mau dibayar sekarang?"


Sayang, panggilan itu memang hanya ada di waktu-waktu tertentu saja. Mikhayla bertanya lembut seraya mengusap pelan wajah tampan sang suami, akan tetapi Keyvan yang mengantuk berat tampak tidak begitu tertarik dengan tawaran Mikhayla.


"Lain kali saja, aku lelah, Mikhayla." Suaranya bahkan terdengar begitu lemah, saat ini yang Keyvan inginkan hanya tidur. Tenaganya sudah habis terkuras akibat mengerjakan tugas dari guru besar bernama Harun itu.


"Lelah? Kamu tidur saja, aku yang kerja ... yakin tidak mau?"


Masih berusaha, kali pertama Mikhayla merayunya begini. Itu pun dia lakukan karena Keyvan tampak tak berdaya bahkan ciiuman saja tidak punya selera. "Sayang?"


"Khay, tidurlah ... besok kamu harus bangun pagi, aku juga lelah sumpah."


"Kamu tidak menginginkanku lagi ya?"


Ya Tuhan, Mikhayla!! Batin Keyvan menjerit. Istrinya menyebalkan sekali malam ini, Keyvan membuka matanya yang kini memerah. Dia menatap lekat manik indah sang istri yang sepertinya memang sengaja menggodanya.


"Kenapa bicaranya sembarangan begitu? Lihat mataku, 'kan? Ngantuk, Sayang mana bisa kita silahturahmi ... Habis tenagaku, Mikhayla." Meski Mikhayla sempat bicara akan mandiri, Keyvan sama sekali tidak percaya karena pada akhirnya yang memimpin permainan adalah dirinya.


"Tawarannya aku anggap hangus ya, aku sudah bilang selesai tugas kamu bebas ... kalau maunya tidur ya sudah," ucapnya dan berhasil membuat Keyvan bangkit dari tempat tidurnya, pria itu berlalu ke kamar mandi dan segera mencuci wajahnya.


Mikhaya terkekeh melihat Keyvan yang rela berperang dengan rasa kantuknya. Tidak puas membuatnya tersiksa tadi malam, pagi ini tampaknya Mikhayla hendak memberikan siksaan kembali untuk Keyvan. Hanya saja, sedikit berbeda dan bisa dipastikan pria itu menyukainya.


"Sudah?"

__ADS_1


"Hm, ayo bayar."


Keyvan duduk di sisi Mikhayla, wajahnya tampak basah bahkan sampai dadanya. Hanya saja mata Keyvan tetap terlihat merah karena memang dia pasti mengantuk parah.


"Mulai dari?"


"Lakukan sebisamu."


Keyvan merebahkan tubuhnya, jujur saja dia sedikit bercanda karena tidak yakin dengan ucapan sang istri. Akan tetapi, Mikhayla benar-benar memulainya dengan kecupan manis meski sekilas di bibir Keyvan.


"Khay?"


Mata pria itu membulat sempurna kala Mikhayla berinisiatif membuka celananya. Pria itu sontak menggigit bibirnya, dan masih sedikit tidak percaya jika istrinya tidak bercanda.


"Kenapa?"


"Ti-tidak ... aku oouuh shiitt_" mulut Keyvan terbuka lebar ketika merasakan sentuhan lembut jemari Mikhayla ketika berusaha menyenangkannya.


siallan, dari mana dia belajar


Terlalu menyepelekan, Keyvan bahkan dibuat seakan gila padahal Mikhayla baru memulainya. Rasa kantuk yang tadinya seakan membunuh Keyvan kini terhempas begitu saja, kesalnya pada Mikhayla hilang seketika. Biasanya Mikhayla yang akan dibuat meracau dengan buaian Keyvan, kini sebaliknya.


Oh my gosh, Khayla!! Dia benar 18 tahun? Hah?!!


Keyvan bertanya-tanya seraya memandangi Mikhayla yang tengah memanjakannya dengan mata yang kini tengah ditutupi kabut asmara, padahal tadi malam dia tidak sempat bermimpi dan kini merasakan sebuah kebahagiaan di ambang batasnya.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2