
Keraguan Keyvan diawal ternyata patah ketika Mikhayla sudah menggunakan mode seriusnya. Wanita itu menikmati setiap proses yang harus dia jalani, dan tentu saja Keyvan harus memposisikan diri lantaran Mikhayla benar-benar sibuk dan sepertinya niat dia untuk menjadi dokter sungguhan kembali tertanam.
Dia yang sempat meminta koas ditunda, ternyata setelah dijalani bahkan lebih semangat dari Mikhail. Kini, hanya perlu beberapa waktu lagi untuk dia benar-benar membahagiakan hati Zia lantaran harapan tentang putrinya akan terwujud. Ya, meski tidak mudah bukan berarti tidak mungkin bagi Mikhayla menyelesaikannya.
Penampilannya yang masih begitu cantik dan menawan, serta pembawaan Mikhayla yang pintar dan dewasa jika di luar membuat dia mudah disukai banyak orang. Keyvan yang mengetahui jika istrinya menjadi primadona mulai ketar-ketir tentu saja. Padahal, sama sekali tidak ada niat dalam diri Mikhayla untuk berselingkuh atau apapun itu, hanya saja memang pria itu yang takut istrinya tergoda dengan dokter-dokter muda yang tentunya tidak kalah tampan darinya.
"Kenapa merenung?"
"Sayang, pulang jam berapa?" tanya Keyvan sebelum melepas kepergian Mikhayla, mereka sudah tiba di rumah sakit sejak tadi. Akan tetapi, Keyvan masih menahannya bahkan sudah lima belas menit pria itu berada dalam pelukan Mikhayla.
"Seperti biasa, kenapa memangnya? Kamu sakit atau _ tapi tidak panas," ungkap Mikhayla merasakan suhu tubuh Keyvan namun tidak merasakan hal yang aneh.
"Tidak sakit, masih rindu saja."
Pria itu kembali menenggelamkan wajahnya di dada Khayla. Sementara Bastian dia minta menunggu di luar karena Keyvan risih jika bola mata pria gendut itu menyaksikan kehangatan mereka.
"Rindu, setiap hari ketemu padahal."
"Kamu lama di luar sekarang, hanya malam saja waktu kita bertemu ... itupun kita tidur, Khay."
Entahlah, kenapa hari ini Keyvan seakan ingin membawa Mikhayla ke kantor saja. Tidak ada Zavia di sini, putrinya juga sudah tidak bisa Keyvan bawa sesukanya ke kantor. Usianya saat ini tengah mengeyam pendidikan di usia dini menjadi tanggung jawab Rani dan juga Zia.
"Apa aku terlalu sibuk?"
Masih bertanya, jelas saja iya. Keyvan mengangguk dan dia masih enggan melepaskan pelukannya dari Mikhayla. Wanita itu mengelus pelan rambut Keyvan yang semakin hari semakin panjang itu. Telepon Mikhayla bergetar, Keyvan menggeleng dan tidak memberikan izin untuk menerimanya.
__ADS_1
"Nanti dulu, lima menit lagi, Sayang."
Lima menit lagi, ini adalah lima menit ke-enam yang dia minta. Mikhayla terkadang merasa lucu dengan Keyvan yang begini, akan tetapi jika dia ingat-ingat lagi memang dia terlalu sibuk. Jadi, wajar saja jika suaminya merasa kurang perhatian seperti itu.
"Okay, lima menit lagi ya."
"Hm."
Kebiasaan sekali, dianya baik-baik Keyvan menjawab sependek itu. Bahkan, Mikhayla terkadang sebal jika jawaban Keyvan demikian. Usia Keyvan sudah semakin dewasa, hanya saja tidak ada yang berubah dari pria itu sama sekali.
Beberapa menit menunggu, Mikhayla menatap pergelangan tangannya. Sudah lebih dari lima menit, tapi suaminya masih enggan beranjak hingga wanita itu terpaksa mendorong tubuh Keyvan perlahan.
"Sudah ya, nanti aku pulang cepat, janji."
"Aku yang jemput, awas minta antar siapa kemarin?"
"Arhan_"
"Iya, jangan pernah dekat-dekat dengannya ... sudah punya suami masih saja," omel Keyvan tak terkendali, dia setakut itu Mikhayla melabuhkan hati kepada pria muda yang dia ketahui sebagai putra pemilik rumah sakit swasta di kotanya.
"Iya, dia juga tahu aku punya suami santai saja."
"Ck, santai apanya ... kamu tidak tahu saja laki-laki kalau sudah cinta bagaimana, tidak peduli istri orang. Bahkan, istri papanya sendiri tetap dilibas, Khayla."
Mikhayla menganga, dia bukan fokus mendengarkan jika Keyvan tengah cemburu padanya. Melainkan, ucapan Keyvan tentang seorang pria yang mencintai ibu tirinya.
__ADS_1
"Iww memangnya ada? Siapa yang suka ibu tirinya?"
"Ck, aku bukan membahas bagian itu, Khayla. Aku hanya takut kamu berada di posisi itu, karena kita tidak tahu bagaimana perasaan orang sekalipun kamu sudah menolak ... jadi tolong jangan dekat-dekat dia, cincin nikah kita mana?"
"Astaga ada, ini aku pakai. Kalungnya juga jelas namamu, kenapa masih ragu? Semua orang juga sudah tahu kita suami istri."
Mikhayla sebal sendiri dengan Keyvan yang kerap cemburu tak terkira. Tidak hanya teman-temannya di rumah sakit saja yang mengetahui jika seorang Mikhayla adalah istri Keyvan Wilantara, melainkan semua pengguna jalan yang melintasi kawasan itu. Bagaimana tidak, pria itu sengaja memasang reklame ucapan "Semangat istriku" yang bahkan mengalahkan ukuran reklame calon anggota dewan.
"Hahahah kenapa memangnya? Memang kamu istriku, kan ... salah dimananya?" tanya Keyvan terbahak kala dia mengingat hal itu.
"Ya tidak salah memang, tapi mikir dong ... mana segede itu lagi." Jika dia ingat, sungguh rasanya masih malu sekali.
"Biar jelas! Aku tidak bisa mengawasimu 24 jam sekarang, kalau sudah seluruh manusia di kota ini tahu siapa kamu setidaknya tidak ada yang berani macam-macam," ungkap Keyvan santai sekali dan dia merasa ide dari Keny memang patut diacungi jempol.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai-hai, sementara up aku mau rekomendasiin novel temen aku. Mampir ya gengs❤
__ADS_1