Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 141 - Sangat Sempurna


__ADS_3

Meski sudah menjadi seorang ibu, Mikhayla tetap meneruskan pendidikannya yang sempat terhenti ketika Zavia menginjak usia satu tahun setengah. Tidak ada kata terlambat, apalagi usia Mikhayla yang memang masih belia dan tidak ada salahnya meneruskan langkah yang dahulu sempat patah.


Mikhail mengatakan tidak perlu dipaksakan, lagipula yang akan sulit adalah Keyvan karena akan semakin rumit, Mikhayla jelas akan merepotkan suaminya itu. Dahulu memang dia meminta agar pendidikan Mikhayla tuntas, akan tetapi setelah melihat bagaimana cucunya yang bahkan tidak bisa ditinggal sedetik saja membuat Mikhail khawatir menantunya semakin tertekan.


"Sayang, Mbak Rani pulang kampung ... aku bolos saja ya hari ini," ungkap Mikhayla di titik bingungnya, saat ini orangtua dan adik-adiknya berada di luar kota, bukan bisnis melainkan liburan dadakan sebenarnya.


"Jangan, kali ini kamu harus serius. Zavia ikut aku saja," ujar Keyvan mantap dan membuat Mikhayla menatap sang suami sedikit heran, yang benar saja anak itu ikut ke kantor.


"Kamu becanda? Bawa dia? Yakin?"


Mikhayla mengerjapkan matanya berkali-kali seraya menatap Zavia yang kini sibuk sendiri memasukkan uang logam ke dalam celengan b4bi hadiah dari Mikhail bulan lalu. Ya, jika kakek yang lain berinisiatif membelikan mainan untuk cucunya berbeda dengan Mikhail. Pria itu meminta Keyvan agar Zavia terbiasa, sembari bermain sembari dikenalkan dengan mata uang.


"Iya, kenapa memangnya?" tanya Keyvan seakan tidak mengerti apa maksud Mikhayla, dia memang lupa atau bagaimana, pikir Khayla.


"Dia di sini saja kamu kewalahan, apalagi ke kantor. Bisa-bisa kamu bukan kerja tapi habis tenaga jagain dia," ujar Mikhayla benar-benar khawatir jika sang suami sakit kepala, kemarin saja sudah minta obat sakit kepala, pikir Khayla.

__ADS_1


"Tidak kurasa, kamu tenang saja, Sayang. Cukup bawa mainan dan makanannya, Zavia tidak akan berulah aku yakin."


Ya sudah, terserah dan jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan maka bukan salah Mikhayla lagi. Pria itu yang keras kepala dan memilih jalan sengsara dengan sendirinya, Mikhayla enggan mengatur sang suami karena memang keras kepala sejak dahulu.


"Ya sudah kalau begitu, aku siap-siap ... kamu juga, dasinya mana?"


"Lupa, tolong ambilkan," titah Keyvan dengan kalimat yang baik tentu saja, meski wanita itu adalah istrinya tetap saja Keyvan berusaha sesopan mungkin.


"Hm, rapiin rambut Zavia."


Berbagi tugas seperti ini sudah menjadi kebiasaan mereka. Kadang kala Mikhayla meang hanya tanggung jawab menyusuinya, sementara yang lain Keyvan sendiri tanpa bantuan. Keyvan tersenyum menatap sang putri yang kini serius sekali dengan rutinitasnya, tampaknya calon wanita kaya raya sudah terlihat jelas di depan mata.


"Zavia."


"Iyaaah," jawabnya pelan tapi fokus matanya tetap ke arah celengan b4bi berwarna merah muda itu.

__ADS_1


"Ikut Papa mau?"


"Ha'ah."


Dia mengangguk, kemanapun Keyvan ajak sepertinya dia akan menjawab sama. Menganggukkan kepala dan mengeluarkan jawaban andalannya, hal ini yang membuat Keyvan terkadang lupa bahwa putrinya kerap membuat sakit kepala.


"Good girl."


Dia penurut, persis mamanya. Tapi juga terlampau aktif, entah mirip siapa. Jika dikatakan mirip Mikhayla rasanya tidak mungkin karena Zia saja terkejut dan dibuat bingung cucunya itu mirip siapa. Terlihat tenang dalam beberapa keadaan namun terkadang dia persis kerasukan, ya begitulah sosok Zavia kecil yang sudah kerap menghebohkan keluarga besar Megantara.


.


.


.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2