
Pagi ini semua masih baik-baik saja, setelah dua hari lalu Keyvan khawatir lantaran istrinya belum melahirkan juga. Kini, Keyvan dikejutkan dengan jeritan Mikhayla dari lantai dua, buru-buru dia naik bahkan roti yang baru sempat masuk mulut dia lempar dan pada akhirnya menempel di wajah adik iparnya yang memang kerap sarapan di rumah Mikhayla.
"Ays!! Kak Evan laknat!!"
Zean mengelap wajahnya dengan tisue sedikit kasar, selai coklat ada kini menjadi masker di wajahnya membuat pria itu merasakan lengket dan sedikit geli tentu saja. Akan tetapi, meski dia marah luar biasa, Zean tetap ikut naik untuk memastikan Mikhayla masih bernapas.
Sementara Keyvan yang kini berada di dalam kamar dibuat panik kala melihat sang istri sudah duduk seraya menahan sakit di bagian perutnya. Mata Keyvan membola bersamaan dengan dada yang kini bergemuruh dan dia benar-benar setakut itu istrinya celaka.
"Ya Tuhan, Khayla!!"
Jika Keyvan lihat lagi, bagian bawah Mikhayla sedikit berdarah dan sepertinya sang istri benar-benar akan melahirkan hari ini juga. Dengan langkah tergesa dia membopong Mikhayla yang hanya mengenakan handuk itu ke rumah sakit, tanpa peduli siapa di depannya hingga ketika tiba di depan pintu kamar Zean terpental lantaran kekuatan Keyvan yang tidak dapat diragukan.
"Kak? Kak Mikha kenapa?"
"Tollol!! Kalau sudah begini ya melahirkan, Zean!!" bentak Mikhayla masih sanggup menuai keributan bersama Zean yang tengah mengkhawatirkannya.
"Biasa aja, nggak usah bentak-bentak ... aku cuma tanya!!"
Kepala Keyvan kembali dibuat sakit lantaran Mikhayla masih segarang itu padahal saat ini hidupnya terancam. Pria itu tidak ingin keributan semakin kacau, beruntung saja Zavia sudah diantar ke sekolah jadi tidak terlalu sakit kepala Keyvan.
"Sudah-sudah, Zean tolong siapkan baju untuk Kakakmu ... nanti susul ke rumah sakit ya, kopernya sudah aku siapkan dari kemarin kamu tinggal bawa ... tapi baju untuk Mikhay_"
"Van cepat, aku bisa mati!!"
Begini memang jika sudah dalam titik kesakitan. Mikhayla menarik rambut Keyvan hingga kepala pria itu mendongak dan jangan tanya betapa sakitnya, menyesal sekali Keyvan percaya pada Khayla padahal memang sejak kemarin sudah berencana ke rumah sakit.
__ADS_1
"Sabar, Sayang ... iya kita ke rum_ aaaaaarrrrgggggghh Allahu Akbar, Mikahyla!!"
"Ya sudah sana kalian berdua!! Bajunya bebas kan, Kak?"
"Kak Evan!! Woeeeey Kak!!"
Keyvan panik, dia tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan Zean. Dia percayakan pada adik iparnya karena memang Mikhayla sama sekali tidak bisa diajak kompromi jika sudah begini. Bastian yang baru saja kembali, segera memutar mobil kala mengerti keadaan majikannya.
"Kemana kita?"
"Om Babas, aku mau lahiran ... sudah pasti rumah sakit!! Mana mungkin gedung DPR!!"
Ya Tuhan, dia pemarah sekali. Keyvan berusaha menenangkannya dan mengecup Mikhayla berkali-kali. Apa mungkin dulu sewaktu melahirkan Zavia dia juga segila ini? Jika benar wajar saja Justin mengatakan trauma dengan Khayla.
"Pelan-pelan saja, Om."
"Shuut, jangan teriak-teriak ... kamu lelah, Sayang. Sabar, aku makin panik kalau kamu begini, Khayla," keluh Keyvan bahkan menitikkan air mata saat itu juga, memang salah dia meminta Bastian pelan-pelan. Akab tetapi sungguh Mikhayla yang begini jantung Keyvan dibuat gila rasanya.
"Malah nangis, aduh ya Allah ... Om Babas cepat, aku sudah tidak tahan."
Mikhayla masih dalam keadaan sadar sebenarnya, akan tetapi dia memang tidak bisa merasakan sakit tersebut karena beberapa saat lalu sempat terjatuh dan itu adalah sebab perutnya sakit tiba-tiba. Kini, Keyvan menangis sembari memeluknya, Mikhayla berusaha untuk bersikap tenang agar sang suami tidak begini.
"Maaf, bukan sengaja bentak ... maaf." Khayla berucap pelan, dia mengatur napas dan berbekalkan ilmu yang dia ketahui, memang pada faktanya teori tidak mudah diterapkan pada diri sendiri.
Hingga beberapa waktu berlalu, rumah sakit di depan mata dan mobil tiba-tiba berhenti, kepala Keyvan makin sakit dan Bastian ikut panik. "Waduh, mogok, Non."
__ADS_1
"Ya Tuhan, Bastian!! Sudah bukakan pintu," titah Keyvan kemudian membawa sang istri berlari menuju rumah sakit, masih tersisa beberapa waktu lagi dan memang sebenarnya sudah dekat.
Mikhayla yang mulai lemah, hampir terlambat diselamatkan dan kini dia di dorong menuju ruangan bersalin. Benar-benar hampir terlambat, karena ketika tubuh Mikhayla lepas dari gendongan Keyvan kepala bayinya hampir keluar dan tim medis panik luar biasa.
"Aaaarrrrgggghhh, Dokter anak saya hampir keluar!! Lahiran di sini saja tidak masalah, Dok."
"Sabar ya, Bu ... sebentar lagi kita tiba, ini bayinya terlalu mandiri sepertinya."
Sangat jarang wanita merasakan lahir seperti itu, mereka bahkan dibuat bingung, entah bayinya yang sehat atau ibunya yang kuat hingga baru tiba di rumah sakit sudah berlangsung keluar dan itu benar-benar lancar.
"Tarik nap_"
"Dok!! Bayinya sudah keluar, ya Tuhan ... cepat sekali, rajin olahraga ya, Bu?" Perawat yang membantu dibuat bingung karena ini adalah kali pertama baginya melihat proses melahirkan secepat kilat.
Mereka dibuat terkagum-kagum, tidak hanya dokter Keyvan juga bingung kenapa bisa tangisan bayinya bahkan lebih cepat terdengar sebelum Mikhayla mengejan. Keyvan memandang sang istri dan memeluknya seerat mungkin, ini persis mimpi dan kemudahan Mikhayla dalam melahirkan anak keduanya patut disyukuri.
"Sayang, anak kita sudah lahir ... Ya Tuhan, jagoanku tidak menyakitimu," ucap Keyvan berulang kali seraya mengecup Mikhayla bertubi, entah karena Mikhayla yang banyak kegiatan dan gerak atau memang bayi Keyvan yang mandiri hingga bayi laki-laki yang mereka nantikan sejak lama itu tidak membuat Khayla tersiksa.
"Aku mimpi ya? Kok lahirannya udah?"
.
.
.
__ADS_1
Bonusnya ntar kutambah lagi kalau yang like banyak😙 Btw ini pasukan Evan yang belom mampir ke Justin mana?? Mampir ya, kali-kali kalian lupa.