Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 26 - Mulai Was-Was (Evan)


__ADS_3

Seharian Mikhayla terbaring di tempat tidur, hal semacam ini sudah biasa terjadi untuk anak manja seperti dia. Flu sedikit saja sudah diminta berdiam diri di dalam kamar oleh kedua orang tuanya. Kini, bersama Keyvan dia kembali merasakan hal yang sama. Bedanya, kali ini dia memang merasa butuh istirahat, bisa dipastikan Mikhayla meriang dalam beberapa hari ke depan.


"Cari apa?" tanya Keyvan kala istrinya mengulurkan tangan ke nakas, tampak ada sesuatu yang ingin dia raih.


"Handphone," jawab Mikhayla lesu, baru dia sadari jika Keyvan sejak tadi berada di sampingnya.


"Katakan jika butuh sesuatu, jangan diam saja."


Sedikit jauh darinya, tapi Keyvan tetap berusaha meraih benda pipih itu untuk sang istri. Meski tidak pergi bekerja tetap saja dia menghabiskan waktu dengan laptopnya, Keyvan memeriksa beberapa dokumen yang masih belum sempat dia lihat kemarin.


"Ini."


"Makasih."


Suara istrinya benar-benar terdengar berbeda. Kesal sekali rasanya Keyvan, jika memang istrinya baik-baik saja kenapa justru kini jadi sakit begini, pikirnya.


Mikhayla megutak-atik ponselnya, dia memeriksa beberapa notifikasi yang masuk di sana. Baru juga dia tidak aktif semalam, pesan dari sang papa sudah banyak sekali.


"Papa?"


Matanya membulat sempurna, Mikhayla membaca dengan pelan setiap pesan dari super heronya. Mikhail mimpi buruk, dan penggambaran mimpinya luar biasa menyeramkan. Sang papa bertanya berkali-kali perihal kondisinya, dari pesan Mikhail yang bahkan salah ketik itu menggambarkan betapa paniknya Mikhail tadi malam.

__ADS_1


Drrt Drrt Drrt


Gawat, panggilan telepon masuk sementara di sisinya ada Keyvan. Pria itu juga menoleh kala mendengar ponsel Mikhayla bergetar, tatapan keduanya bertemu sesaat. Terlihat jelas jika Keyvan bertanya melalui sorot mata tajamnya.


Ddrrrt Drrrt Drrrt


Setelah tenang beberapa saat ponselnya kembali bergetar dan hal ini sontak membuat Keyvan dibuat penasaran. Akan tetapi dia tidak buru-buru merebut ponsel Mikhayla secara paksa.


"Siapa?" tanya Keyvan dengan wajah datarnya, pria itu bertanya serius karena hal ini sudah sedikit berbeda dari ucapan Mikhayla beberapa waktu lalu yang mengatakan jika dia tidak mengingat nomor siapapun.


Rusdi?


Keyvan mengerutkan dahi kala dia berhasil mengetahui siapa penelpon istrinya. Meski tidak dengan cara merampas ponselnya, Keyvan bisa membacanya.


"Angkat saja, mungkin Papa rindu," tutur Keyvan tanpa terduga, Mikhayla saja bahkan menatap sang suami sedikit tak percaya. Rasanya tidak mungkin hal semacam itu bisa terjadi, pikirnya.


"Boleh?" Mikhayla memastikan, khawatir jika telinganya salah dengar. Wanita itu butuh validasi sepertinya, dia harus berhati-hati jika sudah dihadapan Keyvan begini.


"Iya boleh."


Ingin sekali dia peluk Keyvan erat-erat, Mikhayla berbinar dan cepat-cepat dia menggeser ikon hijau di layar ponselnya. Kali kedua berkomunikasi bersama sang papa dan dengan izin secara langsung dari Keyvan.

__ADS_1


"Hallow ... Papaku," sapa Mikhayla manja sekali, seakan tidak pernah bertemu satu abad lamanya. Keyvan yang mendengar menoleh singkat dan dia berdecak heran kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.


Dia biarkan istrinya bicara banyak bersama mertuanya. Telinga Keyvan tetap dia gunakan untuk mendengarkan percakapan sang istri dengan seksama.


"Aku baik-baik saja, Papa kenapa? Cuma agak capek sama meriang badannya ... tapi Papa tenang!! Aku udah minum obat!!" jawab Mikhayla kini semangat seakan energinya terisi full, pria itu bahkan mengelus dadanya kala Mikhayla bicara.


"Meriang? Meriang kenapa, Sayang? Tidurnya pakai selimut kan? Atau kamu telat makan? Katakan, Sayang ... apa yang bedebbah itu lakukan padamu?"


Banyak sekali pertanyaan Mikhail, dia menduga Keyvan telah melakukan hal buruk padanya. Suara putrinya berubah dan dia paham Mikhayla seolah kuat dan bicara sesemangat itu demi membuat hatinya tenang.


"Tidur pakai selimut kok, aku juga tidak pernah telat makan ... Om Evan bukan bedebbah Papa," tutur Mikhayla dan berhasil membuat Keyvan kehilangan fokusnya, ingin marah tapi menurut Keyvan wajar saja kalimat itu akan keluar dari bibir sang mertua.


"Bukan beddebah katamu? Mikhayla Papa bukan pria bodoh ya, dia sudah dewasa dan Papa paham isi otak pria itu ... katakan, meriang karena apa?"


Mikhail paham dengan hal-hal semacam itu. Putrinya pengantin baru, dinikahi secara paksa dan menantunya adalah pria dewasa. Bahkan lebih tua daripada umur Mikhail ketika mendapatkan Zia, kini Mikhayla mengatakan dia meriang. Lengkap sudah alasan untuk membuat pikiran Mikhail semakin macam-macam.


"Ehm karena ... karena," ucap Mikhayla tertahan dan dia menatap ke arah Keyvan sesaat. Andai saja suaminya tidak di sampingnya, mungkin dia akan bebas mengadu bahkan setiap rasa sakitnya.


Masih Keyvan pantau sejak tadi, pikirannya sudah tidak ke laptop di hadapannya lagi. Melainkan berusaha mendengar percakapan mereka, sayangnya Mikhayla sengaja mengecilkan volume hingga dia tidak bisa mencuri dengar pembicaraan mereka, jujur saja Keyvan was-was.


"Katakan, Mikhayla ... kamu kenapa sebenarnya."

__ADS_1


- To Be Continue -


Hayu dukung Bang Evan, lempar votenya, Bestie❣️


__ADS_2