Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 114 - Kencan


__ADS_3

Hari ke hari Mikhayla lalui dengan penuh kebahagiaan tentu saja. Diperistri seorang Keyvan adalah anugerah untuknya, pria dewasa yang selalu memposisikan diri sebagai sosok suami terbaik utuknya. Menjadikan kantor sebagai tempat pulang adalah hal yang menjadi kebiasaan baru Mikhayla, statusnya sebagai istri sah Keyvan yang diakui di publik juga membuatnya sangat amat dihargai. Sekalipun datang sendirian ke kantor Keyvan, tidak akan dia temukan tatapan aneh dari orang-orang sekitarnya.


"Bapak masih rapat, Non ... saya antar ke ruangannya ya."


Sekretarisnya diganti, dan tampak lebih tua dari yang kemarin Mikhayla permasalahkan. Keyvan bergerak cepat sebelum masalah kian membesar sepertinya, sejenak dia tersenyum hangat pada wanita itu. Ya, setidaknya kekhawatiran Mikhayla tidak separah kemarin.


"Lama ya?"


"Ah, tidak, mungkin sebentar lagi selesai," ungkap wanita itu sopan, meski istri bosnya tampak begitu muda jelas saja etika dan sopan harus diutamakan.


Mikhayla menghela napas lega, hari ini adalah hari terakhir dia ujian, seluruh mata kuliah yang amat menyiksanya itu tidak lagi menghantui sampai nanti berganti semester yang baru. Sebagaimana yang Keyvan janjikan, jika selesai ujian maka dia akan memenuhi keinginan Mikhayla untuk berkencan dan melakukan hal manis layaknya pasangan kekasih. Maklum saja, mereka belum merasakan masa itu dan Khayla mendadak ingin merasakan berpacaran bersama suaminya sendiri.


Sementara Keyvan selesai, dia menunggu dengan tenang di ruangan sang suami. Tidak lupa menghias diri karena ini adalah kencan pertama mereka, dia menyiapkan segalanya persis pacaran sungguhan.


"Menor, kenapa jadi persis ondel-ondel begini."


Sudah berusaha senatural mungkin, akan tetapi entah kenapa hasilnya justru menor seperti ini. Keyvan tidak menyukai wanita dengan hiasan berlebihan seperti ini, pikir Mikhayla kemudian. Dia khawatir terlihat tua hingga berpikir keras agar keimutan paripurna itu bertahan dengan sempurna.


"Gini aja sudah cukup, tinggal parfum."


Aroma parfumnya yang manis luar biasa menyeruak bahkan tercium hingga ke luar ruangan. Entah Mikhayla sadar atau tidak dengan pesonanya itu. Hingga, beberapa menit berlalu seseorang kini muncul dengan wajah berkerutnya, mungkin sedikit bingung kenapa istrinya sewangi ini.


"Sejak kapan kamu datang, Sayang?" tanya Keyvan kemudian mengecup wajah mungil Mikhayla, beban pikiran pria itu tampaknya hilang seketika kala didatangi sang istri yang kini tampak cantik dan luar biasa wanginya.


"Lumayan, setengah jam lalu ... Oh iya, sekretarisnya baru ya? Wajahnya asing tapi solehah, aku suka."

__ADS_1


"Iya, Aisyah baru masuk seminggu lalu menggantikan Joana," ujar Keyvan menatap lekat mata tajam Khayla lantaran garis matanya tampak berbeda kali ini.


"Woah beneran kamu pecat, Sayang? Hm, makasih loh."


Keyvan mengangguk pelan, dia terpaksa bersikap tegas lantaran kecemburuan Mikhayla pada sekretaris pribadinya itu. Usia Joana yang dua tahun lebih muda dari Keyvan membuat istrinya itu kian khawatir padahal jelas-jelas Joana sudah memiliki kekasih.


"Ayo pergi, kamu sudah siap, 'kan?"


Mau bagaimana lagi, meski hal ini sebenarnya sedikit bertentangan dengan kepribadiannya Keyvan tetap melakukan hal apapun yang bisa membuat sang istri tersenyum. Entah memang ngidam atau hanya memanfaatkan keadaan dan bersembunyi dibalik kata "Nanti bayi kita ngeces."


"Hm, sudah, Sayang."


"Tapi bajunya terlalu formal ... lepas jasnya coba."


Dalam kehidupan tidak ada manusia yang berani mengatur Keyvan. Baru wanita ini yang rumit sekali bahkan terkadang warna underware saja dia tentukan. Menurut kepercayaan Mikhayla, apapun yang melekat di tubuh kita akan menciptakan vibes yang berbeda setiap harinya.


"Kita tu mau kencan, bukan mau menghadiri undangan Presiden, Sayang ... pernah kencan, 'kan sebelumnya?" tanya Mikhayla seraya mengulas senyum manisnya.


"Belum," jawab Keyvan singkat dan hal itu membuat Mikhayla mengerutkan dahi, rasanya mustahil pacaran bertahun-tahun tapi hanya diam saja.


"Belum? Lalu pacarannya bagaimana?"


"Hm, di kamar," jawab Keyvan sengaja memancing emosi hingga wajahnya mendapat ulti dari telapak tangan sang istri.


"Jahat banget sih jadi manusia."

__ADS_1


"Bercanda, Sayang ... maksudnya ya di kamar masing-masing, sekalipun bicara paling via telepon," jelas Keyvan kemudian, dia memang benar-benar bersalah lantaran menjawab dengan kalimat ambigu dan bermakna ganda.


Caranya berpacaran sewaktu muda memang tidak semanis para pasangan zaman sekarang, Keyvan tidak akan sengaja menghabiskan waktu di luar untuk bersenang-senang dan melakukan banyak hal bersama pasangan. Jika bukan karena pertemuan di kampus atau tempat kerja maka dia dan Liora tidak akan bertemu dengan sengaja, ya Keyvan nyaman menjalani hubungan semacam itu. Oleh sebab itu pergaulan dia dan Liora berbeda, bahkan berbanding terbalik.


"Anehnya kok awet hubungan begitu," ucap Mikhayla seraya menggulung lengan kemeja Keyvan hingga sikunya. Walau tidak perlu diapa-apakan memang dasarnya sudah menawan, hanya saja Mikhayla merasa tidak puas jika tidak sesuai dengan kemauannya.


"Kita mau kemana hari ini?"


"Nonton bioskop, aku sudah lama tidak nonton ... kangen," ujar Mikhayla benar-benar tidak sabar mengajak Keyvan melakukan banyak hal siang ini.


"Filmnya?"


"Ada deh, aku yang tentukan ... aku pastikan kamu tidak bisa lepas dariku setelah menontonnya," bisik Mikhayla terdengar menggoda, belum apa-apa Keyvan sudah menggigit bibir dan berpikir seromantis apa film yang Mikhayla pilih.


"Barat ya, Sayang?"


"Rahasia, nanti tahu sendiri," ujarnya kemudian seraya merapikan rambut Keyvan, padahal sudah rapi sejak tadi.


.


.


.


-To Be Continue -

__ADS_1


Ayanknya Evan, hayu vote jan lupa ya💋


__ADS_2