Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 109 - Hadiah


__ADS_3

Usai pesta pernikahan itu keduanya benar-benar memulai kebahagiaan berdua. Ya, meskipun sebenarnya di sana ada Bastian dan juga Rani, hanya saja keberadaan mereka masih dapat Keyvan terima karena kemungkinan Bastian mengusiknya sangat kecil sekali, berbeda dengan Mikhail.


Hari ini cukup melelahkan sebenarnya, Mikhayla baru bisa pulang sore demi mengerjakan tugas kuliahnya di perpustakaan. Bukan tanpa alasan, dia hanya tidak ingin membuat Keyvan sakit seperti waktu itu. Lagipula, tugasnya kali ini tidak begitu sulit, jadi dia berusaha untuk tidak membawa tugas menyebalkan itu pulang bersamanya.


"Sudah malam, kenapa belum pulang juga ya?"


Mikhayla gusar, padahal belum terlalu larut sebenarnya. Akan tetapi, hal ini tidak sesuai janji Keyvan yang mengatakan jika dia akan pulang cepat tadi siang. Mikhayla yang kini sudah tampak segar begitu sabar menunggu di meja makan, ya makanan sudah selesai Rani persiapkan. Hanya menunggu Keyvan pulang, hendak ditelepon Mikhayla khawatir jika sang suami tengah berada di perjalanan.


"Makan duluan saja, Non ... dari pulang tadi belum makan loh," ujar Rani begitu lembut seraya mengusap pundak Mikhayla, mereka memang begitu dekat, apalagi sejak kecil dia dan Bastian tidak bisa dipisahkan.


"Tunggu bang Evan saja, Khayla lapar tapi belum mau."


"Mbak suapin mau?"


Dia bukan bayi lagi, Mikhayla menggeleng pelan seraya menarik sudut bibir. Baik Zia maupun Rani masih memperlakukannya sama, padahal tanpa mereka duga jika seorang gadis yang dianggap balita itu sudah menjelma menjadi penggoda yang kian dewasa.


"Aku sudah besar, kata bang Evan dewasa ... Masa masih disuapin."


"Heheh ya sudah, Mbak balik ke kamar ya, om Babasmu udah nunggu." Rani pamit baik-baik, tapi otak Mikhayla sudah mengarah kemana-mana hingga dia tersenyum licik kemudian menatap Rani penuh selidik.


"Ih si Mbak, pasti mau ninuninu kan?" tanya Mikhayla asal jeplak hingga membuat Rani sedikit bingung sendiri.


"Ninu? Ninu apa, Non Khayla?" tanya Rani asing sekali dengan istilah itu, yang dia ingat itu adalah suara kereta api mainan yang dimiliki Mikhayla sewaktu kecil.


"Ah, tidak-tidak. Lupakan," ujar Mikhayla mencebik, ternyata wanita itu tidak mengerti makna tersirat dalam ucapannya.


Rani berlalu dengan senyum hangatnya tanpa terlalu memikirkan ucapan Mikhayla. Mengingat Bastian yang masuk angin harus diperhatikan lebih, terpaksa mereka berbagi kasih. Untung saja Mikhayla sudah punya suami, sebelumnya Bastian dan Mikhayla kerap memperebutkan seorang Rani setiap malamnya.


Sepeninggal Rani pergi, Mikhayla mendengar pintu terbuka. Dengan langkah panjangnya, sontak dia berlari menghambur ke pelukan sang suami. "Hai, kamu menungguku?" tanya Keyvan sedikit terkejut karena biasanya meski Mikhayla memeluk tidak seerat ini.


"Menunggu siapa lagi memangnya, suamiku cuma ada satu."

__ADS_1


Jawabannya sangat tepat bahkan membuat Keyvan menyesal bertanya. Pria itu masih merengkuh erat sang istri seraya mengecup keningnya berkali-kali. Terlalu sibuk dengan pekerjaan dan lainnya membuat Keyvan terlambat pulang malam ini, untung saja istrinya bukan wanita cerewet.


"Benar juga, kamu belum makan, Sayang?"


"Belum, aku tunggu Sayang ... pulangnya kenapa lama?"


Mikhayla mencebik dan masih tetap memeluk sang suami, meski harus mendongak dia tidak merasa kesulitan karena hal ini sudah biasa bagi Khayla. Bagaimana Keyvan tidak luluh, dia yang berperang dengan rumitnya dunia luar ketika pulang diperlakukan seperti ini.


"Maaf ya, tadi ada urusan ... Oh iya, aku beliin sesuatu buat kamu, lepas dulu peluknya coba," pinta Keyvan bukan bermaksud membuat Mikhayla marah, hanya saja memang istrinya ini sedikit membuatnya sulit bergerak.


"Apa?"


"Ini," ucap Keyvan menyerahkan sebuah kotak berwarna hitam yang bisa Mikhayla tebak itu adalah sebuah perhiasan, ya memang terbiasa dengan hadiab semacam itu jelas saja dia tidak begitu bingung.


"Kalung?"


Mikhayla tersenyum, tatapan Keyvan setulus itu padanya. Bukan perhiasan pertama, karena sewaktu menikah dan pesta kemarin Keyvan juga memberikannya sebuah cincin. Akan tetapi, untuk pertama kalinya Keyvan memberikan kalung dengan liontin permata yang sengaja dia pesan khusus untuk sang istri.


"Iya, tapi kenapa tidak sama cincinnya?" tanya Mikhayla berhasil membuat Keyvan tersedak ludah, padahal sebelumnya sudah ada dan dia masih merasa kurang juga.


"Hahah becanda, jangan terlalu serius, Sayang."


Perihal itu sama sekali dia tidak serius, meski sebenarnya Mikhayla bisa meminta lebih akan tetapi dia memilih untuk tidak melakukannya. Terlahir dari keluarga kaya membuat Mikhayla terbiasa dengan kemewahan hingga hal itu tidak membuatnya buta dan merubah watak Mikhayla menjadi wanita pemburu harta.


"Mau serius juga tidak masalah, besok ya." Keyvan adalah pria yang pantang diajak bercanda, hingga hal itu membuat Mikhayla menyesal pada akhirnya.


"Aku becanda, lebih baik uangnya buat om Rahman saja ... Istrinya akan melahirkan bulan depan," ujar Mikhayla seraya menunggu Keyvan selesai mengalungkan benda itu di lehernya.


"Gampang kalau itu, Sayang. Tidak perlu khawatir, aku yang pikirkan." Istrinya memang tidak terduga baiknya, walau memang bukan uang dia yang dipakai tapi jiwanya memang luar biasa dermawan.


"Ayo mandi, setelah itu makan malam. Pasti capek, 'kan?" Mikhayla membantu Keyvan melepaskan jasnya, tanpa dijelaskan sebenarnya raut Keyvan sudah jelas jika dia benar-benar lelah.

__ADS_1


"Mandi berdua?" tanya Keyvan sedikit salah sangka karena dia mengira itu kalimat ajakan, bukan pertanyaan.


"Sendiri, aku sudah ... kalau sampai dua kali nanti masuk angin," tolak Mikhayla baik-baik, wajah datar Keyvan sedikit lucu, kasihan sekali melihatnya ditampar harapan.


.


.


.


Selesai makan malam, Mikhayla benar-benar memberikan apa yang dia janjikan pada diri sendiri. Pria itu bahkan terlelap setelah Mikhayla memijat seluruh tubuhnya, terniat sekali.


"Dia kalau lagi tidur lebih tampan," ungkap Mikhayla kini memandangi wajah lelah Keyvan sembari bertopang dagu, banyak pria tampan yang dia temui akan tetapi baru Keyvan yang mampu membuatnya berdesir bahkan jatuh cinta setiap harinya.


"Tolong tetap begini, jangan bangun dulu ya."


Satu menit, dua menit hingga sepuluh menit berlalu Mikhayla masih betah memandangi wajahnya. Ingin sekali dia peluk erat setiap saatnya, Mikhayla menggerakkan kakinya tanpa arah seraya bersenandung dan menelusuri wajah tampan Keyvan dengan jemarinya.


"Ah Mama mau yang seperti dia tapi versi kecilnya," ungkap Mikhayla gemas sendiri dan mengecup Keyvan berkali-kali. Hingga dia yang malu sendiri dengan tingkahnya kini menenggelamkan wajahnya di dada Keyvan, mendengarkan detak jantung sang suami adalah hal paling menenangkan menurutnya.


"Sekali lagi ah." Mikhayla kembali bergerak cepat dan mengecup bibir Keyvan cukup lama. Tidak hanya selesai di sana, wanita itu juga mengecup kedua belah pipi sang suami bergantian.


"Good night, Honey." Mikhayla berucap lembut seraya membenarkan selimut Keyvan, tanpa dia sadari Keyvan menarik sudut bibirnya tipis kala dia menenggelamkan wajah di dada bidang Keyvan.


"Curang, beraninya curi-curi kesempatan ... But, terima kasih, Sayang. Good night, Mikhayla."


- To Be Continue -


Mikhayla : Kemaren siapa yang suudzon sama akoh?😒


Rekomen novel hari ini, mampir ya💋

__ADS_1



__ADS_2