Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 151 - Sesuai Mood


__ADS_3

Cup


"Aku pergi, jangan telat makan ... jangan coba-coba merokok kalau tidak mau aku selingkuh."


Keyvan mencebik mendengar ancaman Mikhayla. Dia memang menggunakan kata-kata itu dan berhasil membuat Keyvan tunduk. Jangankan merokok, menyentuh bungkusnya saja dia tidak pernah lagi meski Justin masih kerap menggodanya.


"Okay, hampir satu jam di sini ... Om Babas bahkan sudah kepanasan di luar," ujar Mikahyla mengingat saat ini Bastian mungkin sudah berkeliling cari gorengan di sekitaran rumah sakit.


"Biarkan saja, dia juga paham. Bastian laki-laki, pasti begitu juga kalau sedang berdua dengan istrinya," ungkap Keyvan tidak mau kalah, padahal sudah jelas dan nyata hanya Keyvan saja yang seperti ini.


"Menurut kamu, tapi sepertinya tidak."


Sebelum turun, Mikhayla merapikan dirinya lebih dulu. Parfum yang Mikhayla gunakan membius indera penciuman Keyvan hingga membuatnya kian tidak rela istrinya pergi. Pria itu memerhatikan istrinya begitu teliti, hingga dia lama-lama gemas sendiri melihat bibir Mikhayla yang tampak basah usai dia oles berkali-kali dengan lipglos itu.


"Mau apa?"


Firasat Mikhayla mulai tidak baik kala sang suami menatapnya begitu lekat. Hingga, Keyvan meraih tengkuk lehernya dan meraup bibir Mikhayla tanpa aba-aba. Panik, terkejut bahkan parfum yang tadi ada di tangannya jatuh begitu saja.


Keyvan mengangkat tubuh sang istri agar duduk dipangkuannya. Pria itu melingkarkan tangannya begitu erat di pinggang ramping sang istri. Serangan bertubi dari Keyvan yang lagi-lagi membuat bibir ranum Mikhayla basah karena hal berbeda.


"Hmm apasih, masa harus diulang lagi," kesal Mikhayla kala Keyvan melepas pagutannya, pria itu hanya tersenyum tipis dan tetap enggan melepaskan pelukannya.


"Ikut aku hari ini ya?"


"Kenapa tiba-tiba, mana bis_"


"Bisa, aku yang telepon pak Bagas nanti," ungkap Keyvan memang semudah itu menciptakan aturan, jika penghalang Mikhayla kewajibannya, maka Keyvan bisa mengatur semua dengan mudah.


"Kantor?"


"Hotel."


"Hah? Heh gilaa, mau apa pagi-pagi ke hotel?"

__ADS_1


"Bas, ayo berangkat ..."


Tidak peduli dengan paniknya Mikhayla, pria itu memanggil Bastian segera. Bastian jelas saja masuk dengan cepat, masih dengan tempe goreng yang baru setengah dia masuk segera.


"Kemana, Bos?"


"Hotel."


"Kantor, Om."


Jawaban mereka berbeda, Bastian menoleh bingung namun posisi Mikhayla yang kini tetap berada di pangkuan Keyvan membuat pria itu paham tampaknya tujuan paling nyata adalah Hotel.


Tanpa berlama-lama, pria itu melaju dengan kecepatan sedang dan dia membiarkan majikannya hendak melakukan apa di belakang sana. Hingga, ketika tiba Keyvan dan Mikhayla turun meninggalkan Bastian begitu saja.


"Hadeuh, tidak ada bedanya ... menantu, mertuanya sama. Aku bagaimana? Diminta menunggu sampai selesai begitu?"


Bastian bermonolog, dia bingung sendiri dengan apa yang terjadi saat ini. Lagi dan lagi, dia harus menikmati masa menunggu, beruntung sempat membeli gorengan dengan jumlah banyak karena memang dia khilaf.


.


.


.


Tiba di kamar hotel, Keyvan jelas saja melanjutkan keinginannya. Menyesal sekali Mikhayla pamit dengan mengecup bibirnya seperti tadi. Alhasil, kini dia justru terjebak dalam pelukan Keyvan dan tidak mungkin bisa lepas lagi.


"Kamu harus hamil setelah ini."


Napas Keyvan tampak berat, pria itu menyeka keringatnya karena mengendong Mikhayla dengan langkah panjang cukup membuatnya lelah. Pria itu menggulung lengan kemejanya hingga siku, sementara Mikhayla yang terbaring di ranjang hanya menatap pria itu penuh tanya.


"What? Hamil? Buat anak tergantung mood, dulu aku minta hamili kamu menolak," ujar Mikhayla kini beranjak bangun dan melepas sepatunya, Keyvan memang kebiasaan bertindak sesuka hati bahkan memutuskan sesuatu dalam hitungan detik.


"Terserah, aku mau sekarang ... Zavia sudah hampir enam tahun. Dia tidak mau lagi aku gendong kemana-mana," ucap Keyvan kemudian duduk mendekati sang istri.

__ADS_1


"Terus kalau hamil kamu minta dirumah begitu?"


"Tidak, kamu masih aku izinkan tetap melakukan kewajiban kamu ... aku tidak akan mengganggu, Khay. Ayolah, kalau aku punya bayi tidak akan sesepi ini," pintanya bahkan berlutut, dia memang benar-benar kesepian.


Bagaimana tidak kesepian, Zavia dan Mikhayla seakan sudah menjalani kehidupan sendiri dan tidak bisa dia bawa sesukanya. Apalagi, saat ini Keny sudah memiliki anak lagi, jelas saja Keyvan ketar-ketir dibuatnya.


"Okay ... kita akan punya bayi, tapi buatnya jangan sekarang lah. Malam, 'kan bisa, di rumah gitu loh masa di sini."


"Kenapa memangnya? Tidak ada yang salah."


"Kamu dengar ya, tempat pembuatannya itu berefek pada hasilnya ... kita sebagai orangtua harus benar-benar memperhatikan persiapannya, jangan asal jadi," ungkap Mikhayla kembali dengan teori-teori asal yang dia ciptakan sendiri.


"Kita buat Zavia di kamar, hasilnya begitu ... sekarang kita coba di hotel, siapa tahu berbeda."


Mikhayla pada akhirnya tetap akan kalah. Keyvan tidak bercanda, dan sekalinya dia menginginkan sesuatu maka harus terkabul saat itu juga. Perlahan, dia mendorong tubuh Mikhayla hingga benar-benar terbarin di sana. "Senyum dong, jangan cemberut begitu nanti anak kita ikutan cemberut," ungkap Keyvan ketika hendak mengecup sang istri untuk kesekian kali.


"Pelan-pelan tapi, pinggangku seidkit sakit," ucap Mikhayla yang kemudian diangguki Keyvan.


Pria itu mengikuti, jika pelan kata sang istri maka dia akan melakukannya. Tidak ada yang Keyvan bantah selagi itu bisa membuat dia mendapatkan apa yang dia mau. Pernikahan mereka sudah berjalan hampir tujuh tahun, namun kehangatan mereka tidak lekas berkurang. Melainkan kian bertambah, dia yang tadinya menolak kini perlahan menikmati seiring dengan irama hentakan yang Keyvan berikan.


Madu cinta yang Keyvan rasakan masih sama manisnya. Pria itu mengerang kala beberapa menit berkuasa di atas tubuh sang istri. Napasnya terengah-engah, keringat bercucuran dari tubuhnya yang atletis. Keyvan menghempaskan tubuhnya di sisi Mikhayla, pria itu mengecup kening sang istri sebagai ungkapan kasih sayangnya.


"Terima kasih, istriku."


.


.


.


- To Be Continue -


Seperti biasa, sementara aku up mampir ke cerita temanny ya.

__ADS_1



__ADS_2