
Terlalu banyak menangis dan menghabiskan waktu merenung di malam hari membuat Keyvan tidak bisa bangun pagi. Apalagi kala Mikhayla memberikannya kehangatan dan kini pria itu masih terlelap di bawah selimut tebal, ponselnya berdering beberapa kali dan dia sama sekali tidak menyadari hal itu.
"Siapa sih?"
Mikhayla yang kini baru saja selesai mandi pagi menjelang siang kesal lantaran ponsel Keyvan tidak henti-hentinya berdering. Hendak dia angkat namun ragu kala melihat siapa yang menelpon Keyvan.
"Mama?"
Itu bukan mamanya, Mikhayla tidak mengenal wanita yang ada di foto profil itu. Jelas itu adalah mantan mertua Keyvan, mau tidak mau Mikhayla membangunkan sang suami meski sebenarnya dia tidak tega.
"Sayang," panggil Mikhayla pelan, khawatir jika dia berteriak kepala Keyvan akan sakit nantinya.
"Aduh tapi kasihan, ini ibu-ibu nelpon buat apa sih?"
Sebenarnya ingin sekali dia yang angkat bicara, hanya saja Mikhayla khawatir jika itu akan menjadi masalah dan lebih baik dia tidak melakukan hal beresiko itu. Bukan tanpa alasan, beberapa waktu lalu Keyvan memang pernah melarangnya untuk mencari tahu ataupun berhubungan dengan pihak keluarga Liora apapun bentuknya.
"Sayang, bangun bentar dong."
Mikhayla mengguncang tubuh Keyvan namun pria itu sama sekali tidak berniat untuk membuka matanya segera. Mikhayla masih sabar meski dering ponsel Keyvan membuatnya ingin sekali memaki mertua Keyvan.
"Sayang, hei ... bangun, nanti tidur lagi," ucap Mikhayla kini menepuk wajah keyvan beberapa kali, pria itu merasa terganggu dan kini melenguh seraya menggerakan tubuhnya.
"Ehm, kenapa?"
Suaranya benar-benar masih mengantuk, mata Keyvan masih terpejam namun dia merespon panggilan Mikhayla. Wanita itu masih terus berusaha hingga Keyvan benar-benar terbangun dari tidurnya.
"Ih buka matanya!!"
Semalam dia dengan jelas menyebut Keyvan tidak sabaran, padahal hari ini bisa dilihat betapa besarnya kesabaran Mikhayla mebangunkan suaminya. Wanita itu bahkan sengaja membuka paksa kelopak mata Keyvan agar pria itu terbangun segera.
"Kenapa? Hm?"
__ADS_1
"Ini, ada yang telepon ... mau aku angkat tapi tidak jadi," ujar Mikhayla menyerahkan ponsel Keyvan, pria itu menghela napas pelan seraya menerima panggilan dari wanita itu.
"Hallo, ada apa, Ma?"
"Van, tolong Mama ... Leon tidak pulang-pulang, Mama sudah cari ke rumah teman-temannya tapi hasilnya sama, bagaimana, Van."
Sudah dia duga hal semacam ini akan terjadi, Keyvan menghadapinya dengan sesantai mungkin. Leon memang terbiasa tidak pulang, akan tetapi jika sudah berhari-hari tanpa kabar apapun wajar saja orang tuanya curiga.
"Kenapa Mama tidak lapor polisi saja? Akhir-akhir ini memang Leon tidak menghubungiku," ujar Keyvan tampak biasa saja dan tidak ada kekhawatiran di sana, pria itu tetap santai dengan posisinya terbaring di atas tempat tidur.
"Lapor polisi bagaimana? Kamu tahu sendiri siapa Leon, sama artinya bunuh diri, Evan."
Pria itu kian tersenyum tipis, Leon memang merupakan incaran polisi dengan berbagai kasus kriminal yang kerap dia lakukan. Jelas saja orang tuanya tidak mungkin bunuh diri, semua yang dia lakukan sekalipun diketahui pihak berwajib juga menguntungkan.
"Biarkan saja, Ma ... lagipula sudah jadi kebiasaannya pergi tanpa pamit, kenapa Mama panik?"
"Masalahnya ini berbeda, Van. Teleponnya tidak bisa dihubungi dan firasat Mama buruk sekali."
Keyvan tidak peduli, sekalipun wanita itu merasa seakan hampir mati dengan hilangnya Leon. Akan tetapi, memang dia akan terus bersandiwara sebagaimana yang mereka lakukan padanya, Keyvan tetap berkata yang baik seolah hilangnya Leon bukan karena dirinya.
Cukup lama keduanya bicara, dan Mikhayla menjadi pendengarnya. Wanita itu bahkan tidak memiliki pikiran untuk ganti baju lebih dulu, Keyvan menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Bibirnya saja yang bicara tentang Leon, tapi pikirannya sama sekali tidak kesana.
"Kenapa?"
"Mamanya curiga?" tanya Mikhayla khawatir jika suaminya jadi sasaran kecurigaan atas hilangnya Leon, dia yang memang yakin semua itu adalah perbuatan suaminya memang memiliki ketakutan jika hal itu akan berdampak padanya.
"Jangan dipikirkan, yang harus kamu pikirkan itu cukup suamimu ini saja," ucap Keyvan menariknya dalam pelukan secepat itu, entah kenapa dia kerap kali melakukan segala sesuatu tanpa aba-aba begitu.
"Dibunuh juga?"
Selain penyayang, Mikhayla juga pembangkang. Sudah Keyvan katakan untuknya agar berhenti memikirkan Leon masih saja, mau tidak mau keyvan menjawab pertanyaan sang istri demi menuntaskan rasa penasarannya.
__ADS_1
"Tidak, hanya aku siksa sedikit saja ... kamu pernah melihat orang buta dan lumpuh secara bersamaan?" tanya Keyvan tanpa melepaskan pelukannya, rasa kantuk itu mendadak hilang seketika, Keyvan terbuai dengan aroma tubuh Mikhayla.
"Hm, pernah."
"Kira-kira begitu, matanya lancang menatap tubuh istriku ... jadi tidak masalah aku marah sedikit," tutur Keyvan berhasil membuat Mikhayla menelan salivanya pahit. Dia pernah mengatakan jika Bastian kerap kali gila dalam bertindak, kini dia menatap Keyvan dan berpikir jika suaminya lebih gila lagi dibandingkan Bastian.
"Kamu pakai shampo apa?"
"Kan kita pakai shampo yang sama, pakai ditanya."
Pertanyaan modus yang tercium begitu cepat sebelum Keyvan melakukannya. Pria itu tertawa sumbang kala Mikhayla mencebikkan bibirnya, padahal dia basa basi saja sebelum bertindak lebih jauh, pikir Keyvan.
"Oh iya? Tapi kenapa berbeda," ujarnya yang kemudian Mikhayla jawab dengan cubitan tepat di perutnya.
"Sama, jangan mancing-mancing ya ... Ini hampir jam sepuluh, dan aku tidak mau hari ini sampai bolos lagi." Mikhayla mewanti-wanti hal ini akan terjadi, pria itu takkan berhenti apalagi ketika Mikhayla sudah memahami kehendaknya.
"Bolos demi suami tidak dosa, Khay."
Semakin tidak sehat, Keyvan terus melancarkan aksinya sementara Mikhayla kini mulai berpikir untuk pergi dari jerat Keyvan. Sayangnya, belum sempat dia berlalu Keyvan sudah berhasil menguasai tubuh Mikhayla hingga wanita itu hanya bisa terdiam kala Keyvan berada di atas tubuhnya.
"Bangun-bangun buat masalah, harusnya tidur lagi sana." Mikhayla menatapnya kesal, padahal sudah dia katakan untuk tidur lagi setelah menerima telepon dari mantan mertuanya itu.
"Katanya tadi disuruh bangun, kenapa sekarang sebaliknya?"
"Kepentingannya sudah selesai, tidur lagi apa salahnya?"
"Salah, dan aku tidak bisa tidur lagi karena dia juga ikut bangun," ujar Keyvan menunjuk bagian intinya yang berhasil membuat Mikhayla memerah.
"Aku tidak berniat membangunkannya sama sekali, mengusiknya saja tidak kenapa bisa bangun?" tanya Mikhayla gugup dan pertanyaan itu sontak membuat Keyvan terbahak.
"Hei, kamu membangunkanku dengan keadaan begini ... salah sendiri tidak pakai baju lebih dulu," ungkap Keyvan tidak mau salah, Mikhayla yang kini di posisi sulit hanya bisa pasrah ketika Keyvan menarik tali bathrobe yang memang Mikhayla ikat asal setelah mandi.
__ADS_1
Beberapa menit lalu dia terkapar seakan tak berdaya. Kini, tenaga Keyvan sudah kembali bahkan seperti tidak terlihat lelah sama sekali, heran juga kenapa tadi malam dia justru bertanya apa Mikhayla tidak puas dengan di ranjang, sungguh wanita itu tidak habis pikir.
- To Be Continue -