
"Kenapa belum kembali juga?"
Keyvan gusar seketika, sudah sepuluh menit dan Mikhayla belum kembali juga. Dia yang terlalu khawatir istrinya kenapa-kenapa sontak berlari untuk mencari sang istri. Ya, meskipun kehadiran yang tiba-tiba di toilet wanita akan menciptakan huru-hara Keyvan sama sekali tidak peduli.
"Eh, salah masuk, Mas!! Pria di sana," pekik seorang wanita yang baru saja keluar lantaran khawatir Keyvan ada maksud jahat di sini.
"Saya cari istri saya, lagipula tidak tertarik mengintip Anda ... santai saja," jawabnya dingin dan tanpa sedikitpun rasa bersalah, padahal di posisi ini memang dia yang salah sembarangan masuk dan melewati para wanita itu begitu saja.
"Dih ngeyel, mentang-mentang ganteng belagu," gumam wanita itu sebal sendiri namun rasa kagumnya tidak dapat ditutup-tutupi.
Beberapa saat dia menunggu, hingga Mikhayla keluar dengan wajah yang kini sedikit lebih lega. Melihat Keyvan yang menunggunya sontak Mikhayla terkejut dan berpikir dia yang salah masuk toilet pria.
"Hah? Ngapain ikut masuk?!!" Mikhayla menekan kalimatnya seraya menarik Keyvan keluar segera.
Ingin sekali dia cubit lantaran berhasil membuatnya malu di hadapan wanita yang lain. Sementara Keyvan kini hanya tersenyum lega meskipun istrinya marah-marah, kekhawatiran Keyvan terlalu besar hingga dia berpikir hal macam-macam.
"Kamu keluar lebih dari sepuluh menit, aku khawatir, Sayang."
Tidak ada masalah apa-apa sebenarnya, hanya saja memang Mikhayla butuh waktu cukup lama lantaran terlalu banyak makan siang kali ini. Tanpa dia duga sama sekali jika Keyvan akan menyusulnya dan nekat masuk ke dalam toilet wanita.
"Tidak kenapa-kenapa, 'kan?"
"Ehm, tidak ... aku baik-baik saja, ayo pulang."
Syukurlah, pikiran Keyvan sudah macam-macam sejak tadi. Apalagi kala dia menyadari jika teman-teman Mikhayla juga makan di tempat yang sama, nasib baik tengah memihak dan kini istrinya baik-baik saja.
Ketika hendak keluar dari restoran, salah satu teman Mikhayla menghampiri dan secepat itu Keyvan pasang badan. Entah niatnya baik atau tidak, yang jelas Keyvan tidak akan semudah itu memberikan ruang untuk siapapun bisa berkomunikasi bersama istrinya, terlebih teman-temannya yang kala itu mendukung perbuatan Alka.
"Hai, Khayla."
__ADS_1
Biasanya menyapa Khayla akan sesantai itu, kini suasana sudah berbeda dan Widuri sedikit kikuk lantaran tatapan pria di samping Mikhayla lebih sadis daripada Prof. Harun, dosen paling ditakuti mahasiswa satu fakultas.
"Hai juga, Widuri."
Meski tidak lagi dianggap teman apalagi sahabat, Mikhayla tetap bersikap sebaik mungkin di hadapan Widuri. Dia tidak pernah dendam walau mereka tidak jauh berbeda dari Alka, hanya saja untuk kembali berteman dia memang tidak sudi lagi.
"Ehm, kebetulan kita ketemunya di sini ... aku cuma mau ucapin selamat atas pernikahan kamu. Maaf banget aku sama Ananda nggak bisa datang, tapi kamu tenang aja Alka bisa kok jangan sedih," tutur Widuri seolah sengaja menyulut api hingga Keyvan berdecak sebal dan menatap tajam wanita itu seakan hendak menelannya bulat-bulat.
"Oh gak masa_"
"Siapa yang memintanya datang? Katakan pada temanmu itu jangan terlalu percaya diri ... kami hanya mengundang orang-orang penting saja. "
Belum sempat Mikhayla menyelesaikan ucapannya, Keyvan sudah memotong dan kembali melayangkan tatapan permusuhan pada gadis itu. Tidak hanya Widuri yang menjadi sasaran Keyvan melainkan Alka dan juga Ananda yang tampak mengawasi dari kejauhan.
"Sayang jangan begitu bilangnya," bisik Mikhayla pelan lantaran merasa tidak enak pada Widuri, kemungkinan besar dia malu karena memang di sini tidak hanya mereka sendiri.
Widuri yang kini memerah lantaran disemprot Keyvan di tempat umum hanya menunduk lesu dan berpikir bagaimana caranya untuk tetap terlihat biasa saja, sungguh baru kali ini dia merasakan bagaimana dipermalukan terang-terangan.
"I-iya, Khay nggak masalah."
"Kami pulang dulu, salam buat Ananda," ujar Mikhayla sengaja tidak menyebutkan nama Alka di sana, sebab dia yakin suasana hati sang suami akan berubah total jika sampai terlontar nama manusia itu dari bibir Mikhayla.
.
.
.
Sudah terduga Keyvan akan begini, wajahnya datar dan enggan mengucapkan apa-apa. Meski Mikhayla sudah berusaha bicara padanya tetap saja usai menjawab dia akan kembali terdiam begitu saja.
__ADS_1
"Marah ya? Atau masih lapar?"
Suasana hati Keyvan sedang suram, bisa-bisanya dia bertanya hal semacam itu. Mikhayla sungguh tidak memahami keadaan, wajah kusutnya tidak kuasa menahan diri hingga sudut bibir itu tertarik walau luar biasa tipisnya.
"Apa-apa jangan dijadikan alasan marah, Widuri cuma nyapa dan bilang dia tidak bisa datang ... lagipula itu hal baik kan? Kenapa jadi emosi?" tanya Mikhayla selembut itu dan tetap berusaha menjaga suasana hati Keyvan yang tidak bisa ditebak itu.
"Kamu undang Alka?"
"Tidak sama sekali, mungkin dia saja yang merasa diundang," ungkap Mikhayla yang sesungguhnya, karena memang caption yang dia cantumkan pada postingan beberapa waktu lalu sama halnya dengan mengundang seluruh teman-temannya.
"Awas saja sampai dia hadir di pesta pernikahan kita, aku rajam bocah itu."
Menyeramkan sekali, Mikhayla membeliak kala mendengar ucapan Keyvan. Dia terlihat serius mengatakannya bahkan kini rahangnya mengeras dan mengepalkan telapak tangan. Semudah itu dia marah, padahal sama sekali Mikhayla tidak lagi berhubungan sekecil apapun bersama Alka.
"Cemburu ya?"
"Cih, sama sekali tidak!! Dari sudut manapun aku pemenangnya, kenapa harus cemburu?" elak Keyvan tidak terima dianggap cemburu pada bocah ingusan semacam Alka, sungguh merendahkan harga dirinya, pikir Keyvan.
Drrt Drrt Drrt
"Ck, siapa lagi yang telepon ... angkat dong, Sayang," pinta Keyvan yang Mikhayla turuti tanpa banyak bertanya, dengan sedikit gugup dia menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dia kenali itu.
Siapa ya? Huft ya Tuhan semoga kabar baik.
- To Be Continue -
Rekomendasi novel yang bisa kalian baca sementara Ayank Evan up.
__ADS_1