Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 133 - Jangan Percaya Mikhail


__ADS_3

Perasaan mereka sudah gugup, nyatanya di dalam Mikhail sama sekali tidak peduli dengan kehadiran mereka. Hanya senyum indah Mikhayla yang sejenak membuat mereka lega, syukurlah setidaknya tidak mendapat makian dari pria gagah itu, pikir Justin dan Keny bersamaan.


"Cuma mau bilang maaf dan makasih, tadi belum sempat bilang," tutur Khayla masih sedikit lemas karena memang tidak mungkin akan sekuat itu.


Mikhayla menatap Justin dan merasa sedikit malu dan menyesal kala mengingat bagaimana dirinya yang menjadikan Justin sebagai sasaran bahkan mungkin rambutnya rontok beberapa saat lalu.


"Ah tidak masalah, Khayla memang begitu fungsinya teman ... saling melengkapi dan jadi garda terdepan dalam hal apapun termasuk pasangan," ungkap Keny semangat sekali hingga membuat Mikhail tertarik dengan pembicaraan mereka.


"Ehem."


"Eh Om, apa kabar? Saya temannya Evan, ini juga temannya Evan." Meski gugup Keny tetap berusaha memperkenalkan diri kepada pemilik mata tajam yang tampaknya tidak bisa diajak bercanda itu.


"Ah teman Evan, perkenalkan saya papanya Mikhayla."


Tanpa dikatakan begitu mereka sudah tahu. Justin menjabat tangan Mikhail dan sedikit terkejut lantaran pria itu mengajaknya salaman persis pasukan perang, mungkin ingin menunjukkan jika dia setegas itu. "Justin, Om."


"Ken ... Aarrgh ... Keny, Om."


Justin menggigit bibirnya, setelah dia lihat lagi pria itu paham kenapa Mikhayla suka menyakiti. Tampaknya memang diturunkan alami oleh sang papa, pikir Justin kemudian.


"Mereka yang membantumu, Van?"


"Iya, Pa ... mereka berdua dan satu sekretarisku tapi sudah pulang lebih dulu," ujar Keyvan apa adanya sementara Justin dan Keny kian dibuat gugup saja.


"Bagus, saya suka orang-orang yang cepat tanggap seperti ini ... mau jadi bodyguard putri saya?" Melihat penampilan Justin yang tampak gagah dan sangat cocok menjaga putrinya, Mikhail sontak menawarkan pekerjaan semacam itu pada pria kaya seperti Justin.

__ADS_1


"Hah? Mikhayla maksud, Om?"


"Bukan, dua putriku yang lainnya ... adik Mikhayla, umurnya masih delapan tahun tapi semenjak Bastian ikut Khayla mereka tidak punya pendamping yang bisa kupercaya," ungkap Mikhail namun hal ini sedikit berat bagi Justin yang sebenarnya tidak butuh pekerjaan semacam itu saat ini.


"Papa ada-ada saja sih," celetuk Mikhayla khawatir jika ucapan sang papa menyinggung perasaan Justin.


"Kalau tidak bisa tidak masalah, hanya tawaran saja." Mikhail berucap santai kemudian, dari mata Justin memang terlihat jelas dia sedikit bimbang untuk mencari jawaban.


"Delapan tahun, umur delapan belas tahun tidak ada, Om?" tanya Justin di luar dugaan hingga membuat Keyvan dan Keny saling menatap bingung.


"Woah, sayang sekali yang delapan belas tahun laki-laki, sanggup menjaga putraku?" tanya Mikhail kemudian, pria itu sontak menggeleng dan dia memang tidak menyukai anak laki-laki dari lama.


"Maaf, Om ... kalau laki-laki saya tidak sanggup, Keny mungkin yang mau," ujar Justin dan pembicaraan mereka seakan mengalir begitu saja dan membuktikan jika Mikhail tidak semenyeramkan yang dia kira.


"Belum bisa, Om, kontrak kerja saya di perusahaan Keyvan masih lama," jawabnya mencari aman padahal sama sekali tidak ada yang begitu.


Hingga beberapa saat berlalu pintu terbuka dan kehadiran sosok pria yang masih tampak berwibawa meski tidak lagi muda sontak membuat Keyvan berdiri. Ya, meski dia patuh pada Mikhail akan tetapi dia akui Ibra lebih mengerikan meski dia tidak banyak bicara.


"Ehem, Opa boleh masuk?" tanya Ibra dengan suara penuh kharisma dan berhasil membuat ketiga pria yang berbincang masalah bodyguard itu terdiam seketika.


"Opaa? Kita ada tamu lagi, Sayang ... harusnya tunggu di rumah saja," ujar Mikhayla kemudian meski dia sebahagia itu dengan kehadiran mereka.


Justin dan Keny yang sadar diri segera pamit pulang dan merasa sudah cukup bicara dengan mereka. Sempat takut pada Mikhail kini ketakutan mereka dua kali lipat ketika melihat Ibra yang bahkan lebih irit senyum daripada Mikhail. Saking takutnya, Keny bahkan menabrak punggung Justin ketika hendak membuka pintu.


"Dasar anak muda zaman sekarang, tidak pernah lihat orang tampan apa bagaimana?" Ibra bergumam kemudian kembali tersenyum dan menghampiri cucunya, sebahagia itu dia kala mendengar kabar baik dari Mikhail.

__ADS_1


"Hm mungkin, mereka memang baru pertama kali melihatku, Pa," sahut Mikhail dan membuat Ibra menatapnya datar kemudian berdecak heran.


"Bukan kau yang kumaksud," sergah Ibra kemudian dan membuat Mikhail kembali bergabung pada Zia yang tetap fokus dengan bayi mungil sang putri.


"Kita kasih nama siapa, Zia?" tanya Mikhail kini berkuasa bahkan Keyvan saja sudah kalah dibuatnya.


"Hm, siapa ya? Zavia saja gimana?" tanya Zia memberikan usul hanya saja memang belum tentu Keyvan setujui.


"Eum nanti nama kalian tertukar, kalau Gayatri gimana?" tanya Mikhail entah kenapa membuat Zia terdiam sejenak.


"Itu nama dewi Zia bagus. Ah kalau tidak ini saja ... Eum Pramesti, Pudidi, Herawati, Sukmawati, Rinjani atau Susan_" Mikhail menghentikan ucapannya kala mata Zia kian datar melihatnya.


"Sudah-sudah, nama itu tanggung jawab Evan bukan kamu ... minggir," usir Kanaya tiba-tiba menggeser Mikhail agar menjauh sebentar, memang salah besar jika mempercayakan nama anak pada Mikhail sebenarnya.


"Zia sini, Mama mau gendong ... aduh cantiknya ya Tuhan," ungkap Kanaya mengecup pelan mulut bidadari kecil itu begitu dalam, memang masih begitu wangi dan luar biasa candu.


"Jadi siapa namanya, Say_"


"Tanya Papa sana, atau Evan sendiri yang kasih jangan kamu ... Mama khawatir Mikhail," ujar Kanaya jujur jika dia sama sekali tidak percaya pada Mikhail.


- To Be Continue -


Mikhail always ngasal dalam hidupnya😎


Saran nama guys, biar sumbangan kalian abadi di keluarga ini ... Mikhail tidak bisa dipercaya soalnya.

__ADS_1


Hallu, seperti biasa jan lupa mampir ke karya temen aku ya Bestie🤗



__ADS_2