
Kehidupan Keyvan dan Mikhayla kian sempurna, memiliki anak yang luar biasa aktif dan istri hampir sama cukup membuat Keyvan kewahalan. Meski sudah memiliki seorang putri, seorang Mikhayla masih belum semandiri itu jika sudah dalam pengawasan Keyvan.
Terbukti malam ini, selesai membuat Zavia tertidur pria itu menghampiri sang istri ke meja belajarnya. Sejak tadi dia lihat dan Mikhayla masih luar biasa betah, entah dimana letak susahnya. "Belum selesai?" tanya Keyvan basa-basi namun terlampau basi hingga Mikhayla malas menjawabnya.
"Coba lihat, apanya yang susah?"
Mikhayla tersenyum simpul ketika Keyvan menarik kursi dan kini duduk di sampingnya. Pertanda penderitaan Mikhayla akan berakhir seketika, dia bersandar ke pundak Keyvan seraya memeluk lengan kiri pria itu. Jujur saja, seharian Keyvan fokus pada Zavia membuat Mikhayla merindukan suaminya.
"Susah semua, aku mual ... berhenti saja ya? Kita tetap kaya walau aku tidak lulus kuliah," rengeknya mulai menjadi, entah kenapa setelah melahirkan jiwa ambisius Mikhayla benar-benar menciut dan dia seakan tidak punya semangat hidup.
"Bukan masalah itu, sabar ya. Sedikit lagi, aku tidak minta kamu cari uang. Jangan kecewakan Papa, buat putrimu bangga nanti."
Keyvan menepuk pelan pundaknya, Mikhayla hanya menghela napas perlahan kemudian mengecup pudak Keyvan entah dalam rangka apa. Tengah dinasihati serius dan dia mulai mengendus-endus persis kucing minta elus.
"Capek ah, mending jadi istri kamu saja ... pusing kerjain beginian."
Mikhayla memang selelah itu, otaknya mungkin berontak menerima pelajaran. Sempat terhenti lama dan fokus jadi ibu rumah tangga membuat dia merasa asing dengan buku pelajaran. Ruangan kelas seakan menjadi siksaan bagi Mikhayla saat ini, beda dengan dahulu.
"Kan sudah jadi istri, mau dinikahi dua kali atau bagaimana?"
Keyvan terkekeh dengan ulah sang istri yang terlihat putus asa dalam hidupnya. Di saat begini, Keyvan tidak khawatir harus mengeluarkan uang berapa. Akan tetapi, dia takut istrinya yang mulai enggan melakukan segalanya, sejak dua bulan terakhir Mikhayla hanya mengeluh.
"Bukan begitu, maksudnya ya jadi istri ... atau aku hamil lagi saja ya?"
__ADS_1
"Heeh, kamu mau dicekik Papa atau bagaimana? Zavia masih kecil, kamu jangan sinting."
Keinginan Mikhayla kali ini benar-benar di luar nalar Keyvan. Di saat dia lelah dengan perkuliahan bisa-bisanya menginginkan anak. Jelas saja Keyvan tidak akan izinkan, bukan berarti tidak mau, hanya saja belum waktunya.
"Ih kan enakan hamil, dimanja terus kemana-mana dilarang, ditemenin, dipijitin, dicium, apapun yang diminta pasti dikasih ... Zavia juga beberapa bulan lagi dua tahun, kamu bilang boleh gimana sih?"
"Dua tahun itu Zavia lepas dari ASI, bukan boleh punya adik lagi ... kamu jangan macam-macam, mana tugasnya yang belum selesai? Kamu harus tidur, besok_"
"Minggu, Sayang ... jadi tidak masalah kita begadang," bisiknya dengan sengaja menelusuri dada Keyvan perlahan.
"Khay?"
Pulpen yang Keyvan genggam terlepas seketika ketika sang istri dengan sengaja menurunkan tangannya tepat di bagian milik Keyvan. "Kamu mau apa?" tanya pria itu bahkan menahan napas dan berusaha menghindari tatapan sang istri.
Makna ucapan Mikhayla berbeda, bukan minta ditidurkan seperti Zavia. Melainkan tidurnya pasangan dewasa, Keyvan menatapnya lekat-lekat. Dia belum memberikan respon apapun pada sang istri, ingin melihat sejauh mana Khayla menggodanya.
"Ayo tidur kalau begitu, mau aku buatkan susu dulu?"
Mikhayla mendengkus kesal kala Keyvan menjawab demikian. Sudah berusaha jadi penggoda seperti wanita yang dia tonton di sebuah drama, kini Keyvan justru seakan tidak tertarik padanya.
"Sayang, aku tanya."
"Tidak perlu, tidur sendiri sana ... aku belum ngantuk."
__ADS_1
Dia kembali membuka buku yang sudah Keyvan tutup beberapa saat lalu, kecewa lantaran sang suami tidak paham kodenya. Dia bahkan mendorong Keyvan agar segera menjauh, demi apapun ingin sekali dia mengutuk Keyvan dengan sejuta kalimat mutiaranya.
.
.
.
- To Be Continue -
Sementara up, mampir dulu di novel satu ini ya guys❤
Blurb :
Karina Devita seorang gadis berumur 25 tahun yang harus menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Arfan untuk mengantikan sang Kakak yang tiba-tiba kabur satu minggu sebelum acara.
Di hari resepsi, Karina dikejutkan oleh kehadiran seorang pria dari masalalunya, pria itu bernama Argantara yang tidak lain adalah Kakak dari suaminya sendiri. Karina tidak habis pikir kenapa takdir malah mempertemukannya dengan Argantara dengan situasi seperti ini.
Situasi antara Karina dan Argantara begitu canggung, mereka memilih untuk bersikap seperti dua orang yang tidak saling mengenal. Karina memutuskan untuk fokus kepada pernikahannya, namun nyatanya sang suami memperlakukan ia dengan tidak baik. Bukannya bersikap sebagai sumi yang baik, Arfan malah menghina dan menyiksa Karina.
Karina harus menerima kenyataan bahwa suaminya membenci perjodohan ini. Di saat itulah Argantara hadir sebagai seorang penyelamat. Bagaimanakah kisah cinta terlarang mereka?
__ADS_1