
Nyatanya benar, kadang kala kalimat cinta seorang wanita mau sedalam apa tidak menjamin sebuah ketulusan. Keyvan terdiam di bawah guyuran air yang membasuh keseluruhan tubuhnya, malam ini adalah puncak dimana Tuhan benar-benar membuka matanya.
Tentang cinta dan wanita, tampaknya memang paling benar pendapat Justin. Pria itu mengatakan seorang wanita adalah makhluk paling rumit dan tidak bisa dipahami, paling pandai bersandiwara dan bahkan tidak tertebak apa yang dirasakan sesungguhnya.
Kalimat aku mencintaimu beberapa kali keluar dari lisan Liora semasa hidup. Faktanya, memang secara lahir Liora tampak setulus itu. Akan tetapi, batin wanita itu berkhianat kala sudah benar-benar menjadi istri Keyvan. Untuk kesekian kali dia mengepalkan tangan dan kini berakhir dengan memukul tembok sebagai ungkapan kemarahannya.
"Pelaccur!! Memang pantas mati bahkan seharusnya tubuhmu hancur saat itu juga, Liora."
Sempat hampir gila bahkan dia menuntut tanggung jawab dengan cara yang tidak biasa pasca kematian Liora, kini dia tengah mengutuk diri sendiri kala mendengar pengakuan Mike sebelum Justin sakiti dua jam yang lalu.
"Pengkhianat? Coba kau pikir lagi siapa yang pengkhianat? Aku atau istrimu? Sebelum kau menghabisiku ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, Tuan Keyvan yang terhormat ... untuk kedepannya pastikan istrimu tidak hanya bahagia dengan harta, tapi batinnya juga."
Sakit, Keyvan menggila setelah mendengar ucapan Mike. Apalagi setelah pria itu meragukan kesuburan Keyvan dan dengan santainya berkata jika Liora tidak mungkin mengandung anak dari pria lemah seperti dia.
Keyvan yang sakit hati bahkan berniat membuka ritsleting dan memperlihatkan kejantanannya di hadapan Mike, beruntung saja Justin bergerak cepat dan Keyvan tidak melakukan hal sebodoh itu.
"Hahaha tidak perlu, pernyataan istrimu lebih dapat dipercaya ... Terbukti kalau kau memang pria lemah, jika tidak begitu mana mungkin dia meminta bantuanku untuk mencapai surga dunia."
Keparrat, badjingan, brengshek dan semuanya Keyvan ungkapkan di depan Mike bersamaan dengan pukulan yang tiada henti dia layangkan hingga pria itu lemas dengan sendirinya. Justin bahkan harus bertindak karena jika tidak Keyvan benar-benar menghabisi Mike tanpa peduli rencana awal bahwa pria itu akan dibiarkan mati perlahan usai dikerumuni semut dan binattang lainnya.
"Stop, Van!! Khayla tidak menginginkan suaminya menjadi pembunuh, ingat itu," tutur Justin kemudian menepuk pelan pundak Keyvan, dia paham kemarahan pria itu akan tetapi dia yakin Mike sengaja memancing emosi Keyvan karena pria itu tidak ingin tersiksa lebih lama.
Keyvan menarik napasnya dalam-dalam, wajah lebam Mike belum membuatnya puas sama sekali. Akan tetapi, Justin benar-benar melarang keras untuk ini.
"Jika kau ingin dia mati, Keny saja yang eksekusi," ucap Justin kemudian, pria itu sontak menggeleng dan menolak mentah-mentah perintah Justin.
"Tidak bisa, istriku sedang hamil besar kau minta membunuh orang ... No!! Kau saja, Justin."
Ingin sekali Justin melemparkan kursi yang ada di dekatnya tepat ke kepala Keny. Lagi dan lagi, mata Justin kembali terbuka tentang fakta wanita. Entah apapun itu, jika sudah ada wanitanya semuanya memang menjadi rumit.
__ADS_1
Sebab Mike memberontak adalah wanita, Keyvan yang tidak bebas dengan dunianya juga adalah wanita. Kini, Keny menolak membunuh orang juga dengan alasan yang sama, wanita. Justin menghela napas kasar dan meminta Wibowo untuk membawakan ratusan ekor kalajengking yang sudah dia sediakan untuk mengambil alih tugas ini.
"Dengan ini, dia tidak akan bertahan lama karena sakitnya luar biasa ... aku juga sudah membawakan air gula untuk membasahi tubuhnya, setelah itu semut akan mendekat ... tugas kita selesai dan kalian bisa menikmati rintihannya, pasti akan sangat menggema," ujar Justin yang berhasil membuat mata Mike membulat sempurna, dia sudah berusaha membuat Keyvan marah dan nyatanya Justin merusak rencananya.
"Lakukan," ucap Keyvan singkat, saat itu juga Mike kembali memberontak dan mengucapkan kalimat-kalimat kasar yang pada akhirnya membuat Keyvan naik darah.
"Badjingan kalian semua!! Kau lihat saja, Van. Aku tidak pernah rela kau bahagia bersama pembunuh anakku!!"
Keyvan memejamkan mata, itu adalah kalimat yang terduga namun dia semakin sakit mendengarnya. Keyvan tidak akan melayangkan pukulan lagi karena memang tenaganya saja sudah lemah, bukan karena lelah memukuli Mike melainkan rasa sakitnya lantaran pengkhianatan cinta yang dia dapatkan dari Liora.
Bersamaan dengan itu, Justin yang sudah muak lantaran Mike terus berteriak sengaja mendekat dan memasukkan satu ekor kalajengking ke dalam mulut Mike hingga pria itu berhenti bicara dan memaki tidak jelas.
"Berisik!! Umurmu tidak akan lama lagi, ingat itu."
Samar-samar teriakan Mike masih terbayang di telinga Keyvan, pria itu baru sadar jika dia sudah mandi terlalu lama. Mikhayla mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali hingga Keyvan baru menyadari hal itu.
"I-iyaaaa, Khay sebentar."
Selesai suaminya mandi, Mikhayla menatap Keyvan penuh selidik. Pria itu masih belum mau bicara sementara Mikhayla hanya bisa menatapnya penuh tanya.
"Kamu tidak membunuh orang kan?"
"Hah?"
Keyvan tertegun, wajah Mikhayla terlihat mengerikan saat ini. Pria itu menggeleng karena memang pada faktanya dia tidak membunuh Mike dengan tangannya.
"Tolong jujur, bunuh orang?" tanya Mikhayla sekali lagi sembari menunjukkan pisau lipat yang dia ambil dari saku jaket Keyvan ketika suaminya di kamar mandi.
"Kembalikan, Khay ... nanti luka," pinta Keyvan namun Mikhayla enggan dan pria itu tidak mungkin merebutnya paksa lantaran khawatir istrinya akan salah sangka.
__ADS_1
"Ini darah siapa?"
Boddoh, Keyvan lupa menyembunyikannya. Hendak menghindar bahwa itu darah ayam tidak mungkin, nyata sekali itu darah Mike. Pria itu menarik napasnya dalam-dalam sebelum kemudian menghembuskannya perlahan.
"Mike," jawab Keyvan santai dan dia masih berdiri di hadapan Mikhayla dengan santainya.
"Kalian bunuh dia?" Sedikit bergetar, dia paham siapa Mike dan Mikhayla kembali mengingat betapa kejinya pria itu yang memilih diam ketika dia berteriak sejadi-jadinya.
"Mati sendiri, Sayang ... aku tidak mungkin membunuh orang, percayalah."
Bagaimana ceritanya seseorang bisa mati sendiri jika bekas darah saja sudah melekat di pisau Keyvan. Mikhayla masih terdiam, dia bingung hendak bicara apa dan tidak melawan kala Keyvan mengambil alih pisau lipat miliknya.
"Sekalipun dia pantas dibunuh, tapi aku tidak melakukannya karena memikirkan kamu ... jangan aneh-aneh, aku tidak sekeji yang kamu kira," ucap Keyvan mengelus puncak kepala Mikhayla, pria itu kemudian berlalu dan meraih pakaian yang sudah Mikhayla siapkan.
"Tangannya kenapa? Sakit?" Mikhayla menyadari sesuatu yang sedikit aneh di jemari sang suami, sontak dia mendekat dan meraihnya kemudian melihatnya dari dekat. Ketika masuk tidak terlihat dan jelas Keyvan dapatkan di kamar mandi.
"Jatuh di kamar mandi, tidak sakit. Jangan khawatir besok juga sem_"
"Aaarrggghhh, Mikhayla!!" Keyvan terlonjak kala sang istri dengan sengaja meremmas jemari Keyvan demi membuktikan sakit atau tidaknya.
"Bohong, sakit kan?"
"Iya sakit, ya Tuhan, Khay kenapa harus dibuktikan dengan cara yang begitu?" Keyvan meringis, sungguh dia merasa Mikhayla kerap kali menyiksanya tanpa terduga.
"I'm sorry, Honey ehm tidak sengaja." Secepat itu dia mengecup jemari Keyvan berkali, namun tetap saja rasa sakitnya tidak akan hilang dengan mudah.
Ya Tuhan, istriku ini kenapa sebenarnya?
- To Be Continue -
__ADS_1