
Tidur lebih dulu, nyatanya Mikhayla tidak bisa dan dia benar-benar menunggu Keyvan pulang. Wanita itu menatap jauh ke bawah sana, hiruk pikuk perkotaan di malam hari tiada habisnya. Begitu sabar dia menunggu, berharap sekali Keyvan akan segera pulang.
"Sudah tiga jam, ya Tuhan dia kenapa di luar sana?"
Meski Rahman seyakin itu Keyvan bisa segalanya, akan tetapi jujur saja wanita itu menyimpan ketakutan yang luar biasa besar tentang sang suami. Apalagi, tadi sore Keyvan bahkan minta dipijat dengan alasan lelah dan pusing, sebagai istri yang baik mana mungkin dia sadar jika penyebab sakit kepala Keyvan adalah dirinya.
Selama Keyvan pergi, Mikhayla berselancar di sosial media dan kembali melihat postingannya. Beberapa menit lalu dia panik dan khawatir, kini wajahnya sudah tersenyum lantaran sesuatu yang menghibur matanya. Ya, memang secepat itu suasana hati wanita berubah.
"Widih, Alka galau ... apa dia bingung mikirin kado apa buat ke pesta pernikahanku ya?"
Dia tidak bercanda, pikiran Mikhayla memang sempat ke arah sana. Tanpa berpikir bagaimana Alka saat ini, jelas-jelas pria itu memposting sebuah foto dimana dia tengah berada di atas gedung. Begitulah jadinya ketika wanita sudah berada di titik tidak peduli, sama sekali dia tidak berpikir macam-macam tentang Alka.
"Aku telepon Papa saja ah."
Bosan menungu, Mikhayla kini bermaksud menghubungi sang papa. Jelas saja dia akan mengutarakan keluh kesahnya sebagai istri Keyvan, sudah lama dia tidak berbincang bersama Mikhail.
Beberapa saat dia menunggu, sang papa tidak juga megangkat padahal ini belum waktunya Mikhail tidur. Rasanya tidak mungkin jika sengaja diabaikan, pikir Mikhayla.
"Ih kenapa tidak diangkat? Papa sibuk apa malam-malam begini?" Mikhayla berdecak sebal hingga ingin sekali memaki sang papa lewat pesan suara lantaran kesal merasa diabaikan.
Hingga, kali kelima barulah Mikhail menerima teleponnya. Pria itu mungkin kesal lantaran sang putri tidak juga menyerah dengan usahanya.
"Kenapa, Khay? Belum tidur, Sayang?"
Suara Mikhail terdengar berat, Mikhayla mengerutkan dahi dan sedikit bingung dengan keadaan ini. Apa mungkin papanya sakit tanpa sepengetahuan mereka, pikir Khayla mulai menerka-nerka.
"Papa sakit?"
"Hm? Tidak, hanya sedikit lelah saja," jawab Mikhail kemudian, pria itu bahkan terdengar menguap beberapa kali dan membuat Mikhayla berpikir jika dirinya benar-benar mengganggu sang papa.
"Khayla ganggu ya, Pa? Kalau memang ganggu, maaf ya ... matikan saja, Pa."
Sudah terlanjur mengganggu, sebenarnya sangat-sangat mengganggu dan Mikhail tidak mungkin benar-benar mematikan sambungan teleponnya dengan Mikhayla, kasihan tentu saja.
"Ah tidak, Papa hanya lelah bukan berarti tidak bisa bicara ... Kenapa, Sayang? Evan mana?"
Secepat mungkin Mikhail meyakinkan sang putri jika dirinya baik-baik saja. Helaan napas Mikhayla sontak membuat Mikhail khawatir, terdengar tidak biasa dan di sana tidak terdengar suara Keyvan sama sekali.
__ADS_1
"Pergi, aku sendirian."
"Hah? Kenapa bisa ditinggal sendirian? Kamu dimana?"
"Hotel," jawabnya tanpa beban hingga membuat Mikhail menghela napas kasar, wajar saja dia dijadikan pelarian. Saat ini pemiliknya sedang pergi dan Mikhayla bosan sendirian, lagi dan lagi Mikhail merasakan di posisi bukan prioritas.
"Hotel katamu? Kenapa harus di hotel? Apa kalian ke luar kota, Khay?"
Sebagai seorang papa jelas saja dia bingung lantaran selama ini Keyvan tidak pernah berencana untuk bulan madu atau semacamnya, dan kini dengan nyata Mikhayla mengutarakan jika dirinya tengah menginap di hotel.
"Tidak, cari suasana baru mungkin."
"Astaga, jadi ke hotel hanya karena itu? Seperti tidak ada kerjaan lain saja, buang-buang uang."
Andai saja Mikhail tahu yang sesungguhnya, mungkin pria itu juga akan kerap memanfaatkan waktu berdua di tempat ini bersama Zia demi menghindari gangguan dari putra dan putrinya.
"Ye Papa, uangnya dia juga bukan uang om Babas biarin lah," jawab Mikhayla seenak jidat tanpa berpikir jika kini papanya tengah dibuat kesal akibat ucapan spontannya.
"Terserah kamu saja, Khayla."
"HAH?!! Undangan sudah kamu sebar?"
"Lebih tepatnya aku umumkan, Pa. Sekalian saja, lagipula temanku banyak kalau harus diundang semua nanti butuh dana banyak cuma di undangan pernikahan saja," ujar Mikhayla seolah bijaksana sekali padahal hal itu jelas saja salah.
"Suamimu tidak semiskin itu, Khayla."
Putrinya perhitungan, entah dari siapa dia begitu, pikit Mikhail. Pria itu mendengar celotehan Mikhayla cukup lama, sampai Alka galau juga dia ceritakan. Hal itu baru berhenti ketika pintu terbuka dan seseorang yang dia sudah pulang.
"Sayang."
"Eh, beneran pulang?" Mikhayla menoleh dan kini sang suami sudah menghampirinya dengan senyum penuh makna.
"Papa aku tutup dulu ya, suamiku pulang ... selamat malam, Papa," ucapnya sok imut dan jelas membuat Mikhail benar-benar merasa hanya dimanfaatkan ketika sepi, memang Mikhayla putri paling bijaksana.
.
.
__ADS_1
.
Keyvan memeluk istrinya lebih dulu, mengecupnya berkali-kali dan membuat Mikhayla menatapnya penuh tanya, apa yang membuat Keyvan jadi begini.
"Hei, kenapa?"
"Tidak, aku mencintaimu, Mikhayla."
Ini sangat berbeda dan tidak biasanya Keyvan berucap sedalam ini. Pria itu bahkan memeluknya sangat erat bahkan tidak memberikan kesempatan Mikhayla untuk menjauh walau sejenak.
Mikhayla biarkan Keyvan bertahan dengan posisinya, dia hanya bisa membalas pelukan Keyvan dengan kelembutannya. Pria itu tampaknya tengah bersedih hingga mengungkapkan sesuatu saja begitu sulit.
"Aku juga begitu," jawab Mikhayla kemudian, Keyvan menatap wajahnya sejenak. Dia butuh waktu beberapa saat sampai kemudian Mikhayla kembali mengulas senyum dan mengucapkan kalimat itu untuk kedua kalinya.
"Katakan sekali lagi," titah Keyvan kemudian, hal ini benar-benar aneh karena biasanya Keyvan tidak pernah menuntut kalimat cinta.
"Aku juga mencintaimu," ujar Mikhayla sedikit ragu karena ini baru pertama kali dia utarakan secara langsung di depan wajahnya.
"Benarkah? Tidak berbohong?"
Mikhayla menggeleng, entah alasan apa yang membuat Keyvan justru butuh validasi tentang pengakuan cintanya. Padahal, jika saja Keyvan sadari saat ini bagaimana rasa cinta Mikhayla seharusnya sudah jelas dengan tindakannya.
"Aku pegang ucapanmu, Khayla. Jika sampai berbohong, aku lebih baik mati dengan cara terhormat nantinya," tutur Keyvan kian membuat Mikhayla bingung.
"Kenapa sebenarnya? Apa yang terjadi sampai punya pikiran seburuk ini?"
Keyvan menggeleng, dia melepaskan tubuh Mikhayla kemudian berlalu untuk membersihkan tubuhnya yang terasa tidak lagi bau manusia, Mikhayla juga sadar sebenarnya.
"Aku mandi dulu."
"Hm, bau ... dari mana sebenarnya sampai bau begitu?" tanya Mikhayla menutup hidungnya dan meminta Keyvan segera membersihkan dirinya segera.
"Iya, padahal tadi aku cium juga tidak protes," gumam Keyvan pelan seraya tersenyum tipis.
- To Be Continue -
Hai, untuk part penyiksaan dan bagian sana sengaja aku skip demi membuat pembaca nyaman. Aku juga sedikit mual weh🤣 okay, semoga kalian suka💋
__ADS_1