
Keesokan harinya Keyvan benar-benar membawa serta Mikhayla mengunjungi makam istri pertamanya. Mikhayla yang penakut menggenggam erat lengan Keyvan padahal tempat peristirahatan Liora bukan seperti kuburan tanah kusir, lagipula mereka datang siang hari dan dalam keadaan terang benderang begini.
Selama duduk di samping Keyvan dia hanya mendengar percakapan kedua insan berbeda dunia itu. Dia hargai apa yang suaminya lakukan karena memang cinta pertama tidak bisa diusik menurut Mikhayla.
Keyvan menatap lekat nisan bertuliskan Liora Agnesia itu. Mau sesulit apapun Keyvan menyembunyikannya Mikhayla bisa menangkap jika matanya membasah kini.
Kehadiran Mikhayla tidak serta merta menghapus Liora dalam hidupnya. Keyvan bahkan masih mengingat dengan jelas sebuah kalimat yang Liora lontarkan ketika mereka hendak menikah beberapa bulan lalu.
"Satu hal yang tidak bisa aku lakukan adalah hidup tanpa kamu, Van. Andai Tuhan mengizinkan aku memilih maka aku ingin pulang lebih dulu ... kamu bebas menikmati hidup di dunia bersama wanita yang kamu mau. Tapi, jangan pernah lupa jika aku pernah jadi rumahmu."
Setegar-tegarnya Keyvan, batinnya tetap sakit mengingat ucapan Liora. Dia sakit, jiwanya terluka kala kisahnya dipaksa usai. Namun di sisi lain, jemari mungil yang kini meyeka air matanya membuat Keyvan mengurungkan niat untuk membenci keadaan.
"Kita tidak bawa tisue, kata Papa pamali menangis di kuburan ... nanti sawan," tutur Mikhayla lembut, sadar betul jika candaannya sama sekali tidak lucu. Hanya saja, jika Keyvan menangis di hadapannya penyesalan Mikhayla kian menjadi bahkan merasa gagal menjadi manusia.
"Oh iya?"
"Hm, boleh menangis tapi jangan berlarut-larut."
Keyvan hanya menarik napas dalam-dalam, bukan karena hadirnya Mikhayla membuat dia lapang dada. Hanya saja, untuk saat ini memang dia tidak punya cara selain itu.
__ADS_1
Aku pulang, Liora ... restui kami, maafkan kesalahannya. Maaf jika janji setia yang dulu aku ucapkan pada akhirnya aku ingkari.
Untuk terakhir kalinya Keyvan pamit, dia yang sempat menyela perkataan Liora tentang pengganti andai nanti dia pergi dengan sebuah janji sehidup semati, nyatanya dia ingkari kini.
Keyvan berdiri dan menatap pusara Liora sebelum benar-benar meninggalkan tempat ini. Mikhayla yang tidak mengira Keyvan berdiri kini mencubit lengan sang suami. Ya, di antara banyak hal di dunia Mikhayla setakut itu terhadap hal-hal yang berkaitan dengan dunia ghaib.
"Kenapa?"
"Cepetan, di sana mendung ... sepertinya hujan sebentar lagi."
Mendung dari mana? Jelas-jelas matahari bersinar begitu cerahnya. Hanya saja memang terdapat awan putih di ujung sana, itupun sedikit dan perkiraan cuaca hari ini sangat baik sebenarnya.
Biasanya Mikhayla tidak begini, sejak menikah dia belum pernah menggandeng tangan Keyvan begitu erat seolah takut sekali suaminya lari. Langkahnya terburu-buru dan ketika tiba di mobil Mikhayla meminta Keyvan memutar shalawat nabi sebagai pengganti musik untuk mengiringi perjalanan pulang mereka.
Keyvan bingung, telapak tangan istrinya bahkan dingin dan Mikhayla kini pucat pasi. Dia melarang Keyvan menangis agar tidak sawan di pemakaman, dan kini justru dia yang seakan diikuti makhluk halus.
"I'm Okay ... ayo pulang, aku ngantuk."
"Tidur sini."
__ADS_1
Entah kenapa istrinya siang ini, yang jelas benar-benar aneh hingga Mikhayla menurut begitu saja kala Keyvan memintanya tidur di pangkuan. Jarak antara tempat peristirahatan Liora menuju kediaman mereka memang cukup jauh, dengan cara tidur seperti itu akan meminimalisir rasa lelahnya.
.
.
.
Terkadang mulut wanita itu berbisa, terbukti nyata saat ini Keyvan berdecak sebal lantaran hujan turun padahal perjalanan mereka belum setengahnya. Bukan hanya gerimis melainkan hujan lebat seperti ketakutan Mikhayla beberapa saat lalu.
Jalanan yang licin membuat Keyvan harus pelan-pelan demi kebaikan mereka sendiri. Pria itu mengelus pelan rambut indah sang istri, hendak dia bangunkan tak tega. Akan tetapi, jika tidak demikian dia merasa kesepian dan hal semacam ini sangat membosankan.
"Tunggu, kenapa mendadak panas?"
Keyvan yang tadinya hanya mengelus pelan surai indah sang istri kini beralih dengan keningnya. Ini bukan karena tangan Keyvan dingin, tapi memang Mikhayla yang panas.
"Demam? Hei ... Mikhayla, dia kenapa? Ya Tuhan."
Panik tentu saja, beberapa saat lalu dia sehat-sehat saja dan kini mendadak panas seakan sakit berhari-hari. Dia yang tadinya pelan, kini melaju dengan kecepatan tinggi namun tetap berusaha hati-hati.
__ADS_1
"Ada-ada saja, dia kenapa sebernanya?" Keyvan masih menggerutu dan fokus dengan kemudinya, sementara Mikhayla tengah berenang di lautan mimpi dan tidak berpikir untuk bangun secepatnya.
- To Be Continue -