Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 102 - Ilustrasi Masa Depan


__ADS_3

"Ck, siapa lagi yang telepon ... angkat dong, Sayang," pinta Keyvan yang Mikhayla turuti tanpa banyak bertanya, dengan sedikit gugup dia menerima panggilan telepon dari nomor yang tidak dia kenali itu.


Siapa ya? Huft ya Tuhan semoga kabar baik.


Mikhayla was-was, entah kenapa perasaannya mendadak tidak nyaman. Apalagi ketika dia dengar isak tangis ketika teleponnya sudah tersambung, Mikhayla yang kini bingung berusaha mendengar dengar jelas apa yang dikatakan pria yang ada di seberang sana.


"Evan help me, Please!! Aku tidak punya siapa-siapa, bantu aku, Van!!"


"Sayang siapa?"


Melihat wajah panik Mikhayla, Keyvan jelas saja penasaran. Dia menepikan mobil dan kini mengambil alih ponselnya dari sang istri, dada Keyvan berdegup tak karuan. Suara Keny yang terdengar putus asa membuatnya panik juga.


"Telepon ambulance, boddoh!!" gertak Keyvan namun Keny justru sama garangnya hingga membuat pria itu diam sejenak.


"Mereka lama, Van!! Istriku berdarah, badanku lemas aku butuh kau tolonglah ... Sekarang!!"


Tanpa pikir panjang Keyvan melajukan mobil menuju kediaman Keny dan sang istri. Dia tidak akan menyalahkan atau menganggap Keny lemah, karena pada faktanya sewaktu Keyvan menyaksikan Liora berlumur darah memang tenaganya hilang seketika.


"Kita mau kemana?" tanya Mikhayla panik karena dia sadar betul situasi tidak sedang baik-baik saja.


"Apartement Keny, istrinya butuh bantuan ... kita kesana tidak apa-apa, 'kan?" Meski sebenarnya tanpa izin Mikhayla dia akan tetap pergi, pria itu tetap berbasa-basi lebih dulu.


Mikhayla yang sejak dahulu memang tidak banyak protes mengangguk pelan karena memang dia khawatir sejak awal mendengar suara itu. Dengan kecepatan tinggi, Keyvan hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk tiba di sana.


Tanpa sedikitpun berniat meninggalkan Mikhayla, Keyvan tetap memelankan langkah karena khawatir sang istri akan kesulitan nantinya. Keyvan menghela napas panjang, dia tetap berusaha tenang walau jujur saja dia gemetar saat ini.


Tiba di unit apartement Keny, pria itu masuk dengan langkah panjangnya. Suara panik Keny yang berusaha terus membangunkan sang istri terdengar begitu nyata saat ini, Keyvan berlari dan meminta Mikhayla untuk menunggu di ruang tamu. Akan tetapi, Mikhayla yang juga penasaran jelas saja tidak mengindahkan perintah Keyvan kali ini.


"Ada apa, Ken?"


"Akhirnya kau datang juga, tolong istriku ... dia terpeleset dan aku tidak bertenaga lagi, Van."


Mata Keyvan menatap tubuh Sonya yang kini terbaring lemah di kamar mandi, beruntung saja istri sahabatnya itu tidak sedang dalam keadaan tanpa busana atau lainnya. Darah yang keluar dari bagian inti tubuh Sonya mengalir di lantai kamar mandi, wajar saja jika Keny tidak memiliki kekuatan lagi.

__ADS_1


"Ken? Keny!!"


Baru saja Keyvan berhasil mengangkat tubuh Sonya, Justin datang dengan wajah sama paniknya. Pria itu membeliak begitu melihat tubuh Sonya yang tak berdaya dalam gendongan Keyvan, dia sedikit terlambat, pikirnya.


"Apa yang terjadi?"


Keyvan tidak mendengarkan ucapan Justin, saat ini kondisi Sonya dalam keadaan darurat. Dia berjalan cepat diikuti Mikhayla di belakangnya, sementara Justin mendampingi Keny yang kini pucat luar biasa.


"Kalian bertengkar?" tanya Justin dengan nada yang terdengar seperti menuduhnya.


"Demi Tuhan tidak, Justin. Sonya baru selesai mandi dan dia kembali ke kamar mandi beberapa menit setelahnya, tiba-tiba saja dia terjatuh begitu," ungkap Keny jujur dan memang yang terjadi benar adanya, dia saja bahkan masih bergetar dengan kejadian ini.


"Lalu kenapa kau tidak segera membawanya ke rumah sakit? Sadarkah resikonya jika menunggu kami? Untung saja Keyvan cepat bertindak."


"Entahlah, aku juga bingung kenapa jadi selemah ini, Justin." Keny tidak pernah begini, sudah berapa banyak darah yang tumpah karenanya, akan tetapi ketika melihat istrinya mental Keny benar-benar tidak terkendali bahkan menatapnya saja dia takut.


.


.


.


"Sayang maaf, aku melakukan semua itu hanya demi menyelamatkan nyawanya," ungkap Keyvan penuh sesal lantaran dia belum sempat meminta izin untuk menggendong Sonya beberapa waktu lalu.


"Tidak masalah, sudah seharusnya begitu, 'kan?"


Mikhayla sama sekali tidak mempermasalahkannya. Kondisi seperti tadi memang darurat dan jelas akan berdosa jika tidak ada yang bertindak. Keyvan bernapas lega lantaran sang istri bisa memahaminya, dia pikir Mikhayla yang menghilang sejenak marah padanya. Akan tetapi, dia salah menduga dan nyatanya sang istri bahkan memperhatikan hal-hal sederhana tentangnya.


"Maafkan Evan, Khayla ... Itu semua demi menyelamatkan nyawa Sonya, kasihan sekali Sonya dapat suami selemah itu." Justin kini mendekati pasangan itu karena khawatir Keyvan terjebak dalam situasi tak terduga akibat Keny hari ini.


"Bukan lemah, terkadang seseorang akan kehilangan kekuatan jika dihadapkan dengan hal-hal seperti ini, dulu Papaku pingsan sewaktu Mama melahirkan."


"Hah? Kamu bercanda, Khayla?"

__ADS_1


Kali ini Keyvan yang terkejut, seorang Mikhail pingsan karena istrinya melahirkan? Sungguh, dari sudut manapun mertuanya itu adalah pria gagah yang bahkan mampu menaklukan dunia, pikir Keyvan.


"Tidak, memang benar Papa pingsan ... mana lama lagi, sampai-sampai aku hampir diazanin om Syakil, pingsannya Papa persis mati suri kalau kata Oma." Mikhayla bercerita hal yang dia ketahui dari Kanaya beberapa tahun lalu, sebuah cerita yang Mikhail bantah namun dibenarkan oleh seluruh anggota keluarganya.


"Woah ternyata bisa begitu ya, aku harap kau tidak, Van."


"Ehm, semoga."


Mendengar cerita Mikhayla dia khawatir juga nantinya akan merasakan hal yang sama. Belum apa-apa Keyvan sudah gugup, namun secepat itu Mikhayla menenangkannya.


"Jangan dibayangkan, namanya melahirkan ya pasti menegangkan ... tapi tenang saja, Tuhan sudah kirimkan malaikat penolong di hari itu, cukup percaya semua akan baik-baik saja. Sama seperti hari ini, semoga Tuhan berbaik hati untuk menyelamatkan kak Sonya."


Justin mengerjapkan matanya berkali-kali, dia memang belum begitu dekat dengan istri Keyvan. Akan tetapi, setelah dia melihat bagaimana tenangnya Mikhayla, dia paham kenapa Keyvan benar-benar bahagia bahkan sebetah itu di rumah.


"Van," bisik Justin pelan, dia masih menatap wajah imut Mikhayla yang tidak dia sangka akan sedewasa itu cara berpikirnya.


"Apa?" Keyvan sengaja mendekatkan wajahnya demi mendengar bisikan Justin lebih jelas.


"Dimana aku bisa menemukan yang seperti dia?" tanya Justin sontak membuat Keyvan mendorong tubuh pria itu agar segera menjauh. "Tidak ada, hanya ada satu di dunia dan kau jangan banyak tanya."


"Astaga, Van?"


"Kita ke sana saja, Sayang. Gerah!!" ajak Keyvan sembari menarik pelan pergelangan tangan sang istri, sadar jika Justin mengagumi istrinya, Keyvan segera menjauh lantaran khawatir pria itu menyimpan rasa suka pada Mikhayla nantinya.


"Hah, gerah?" Padahal sama saja, hanya beda tempat duduk dan udara yang dihirup juga masih sama, pikir Mikhayla.


"Iya, bangku ini dipenuhi energi negatif," ucap Keyvan sengaja dibesarkan agar Justin mendengar ucapannya.


- To Be Continue -


Rekomendasi novel hari ini❣️


__ADS_1


__ADS_2