Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BONUS CHAPTER 06


__ADS_3

Dua anak lebih baik, sesuai dengan anjuran pemerintah Mikhayla dan Evan sepakat untuk memiliki dua anak dalam pernikahan mereka. Tentang Mikhayla tidak ada yang berani mengaturnya, Evan tidak ingin memaksa dan membuat istrinya kesulitan nantinya.


Saat ini, cukup dua saja. Zavia dan Azkara benar-benar melengkapi hidup mereka. Teriakan melengking Zavia dan jerit tangis Azkara adalah perpaduan suara yang sangat pas di telinga Evan, lebih dari itu dia khawatir gendang telinganya bermasalah.


Pagi ini saja, Zavia sudah membuat ulah dengan menghias wajah adiknya. Keyvan panik, Mikhayla juga demikian. Tidak begitu membahayakan sebenarnya, tapi wajah Azkara yang kini persis tuyul membuat Evan khawatir bukan main.


"Zavia!! Astaga kenapa muka adeknya jadi begitu, Nak?!" Jiwa ibu-ibu dalam diri Mikhayla menggelora, dia berkacak pinggang menatap Zavia yang terpaku dengan bedak tabur di tangannya.


"Biar cantik, Mama."


"Cantik apanya yang cantik? Kalau masuk ke mata adiknya gimana, Zavia."


"Sayang ... masuk ke matanya ya?"


"Entahlah, aku akan coba perhatikan lagi."


Seketika perhatian tertuju pada Azkara seorang, membuat pemilik mata bulat itu mencebik dan pada akhirnya menjauh dari sana. Dia hanya ingin membuat adiknya terlihat cantik, bedak yang berikan Mikhayla kurang di matanya.


Kepergiannya benar-benar tidak disadari, Evan masih fokus pada putranya yang baru berusia tiga bulan itu. Bahkan ketika wajahnya sudah dibersihkan, Evan belum sampai hati meninggalkan keduanya.


"Jagoan Papa, sudah menangisnya ... kakak Zav cuma bercanda," tutur Evan lembut seraya mengusap pelan pipi gembul Azkara, mata bulatnya mengerjap pelan hingga menciptakan hangat di benak Evan.


"Iya, Sayang ... kak Zav pengen dedeknya cantik, iya, 'kan Zav?"


Zavia? Mereka baru sadar sejak tadi seakan melupakan putrinya. Seketika Evan dan Mikhayla saling menatap, tidak lagi ada Zavia di dalam kamar. Hanya ada keheningan, seketika paniknya Evan berganti pada putrinya.


"Gawat!! Dia ngambek bahaya," ujar Evan belum apa-apa sudah panik duluan.


Dia berlari ke kamar putrinya, biasanya jika setelah membuat orang tuanya naik darah, Zavia akan bersembunyi di dalam lemari. Kini, ketika dia lihat sama sekali tidak ada di sana, apa mungkin persembunyiannya sudah berbeda? Seketika pria itu gusar dan bingung hendak kemana.

__ADS_1


Sementara di sisi lain, jauh dari pengawasan kedua orang tuanya, Zavia tengah duduk merenung di pinggir kolam renang. Air mata membasah, membuat bedak tebal di wajah cantiknya luntur seketika.


Dia menangis, hatinya sudah mengerti perihal berbagi kasih. Tanpa berontak, dia memilih menangis dalam kesendirian. Zavia memang begitu periang, tapi ketika hatinya tergores, anak itu akan menyendiri dan hal itulah yang membuat Evan panik.


"Aih dakocan kesayangan opa kenapa di sini?"


Hanya Mikhail, tempatnya memperlihatkan air mata usai merasa bersalah. Susah payah Mikhail menahan gelak tawa kala menyaksikan wajah putrinya yang persis badut lampu merah.


"Azkara nangis gara-gara Via, Opa ... mama marah-marah."


Zavia mengadu dengan tangis yang susah payah dia tahan, Mikhail mengerti hati cucunya memang sedikit berbeda. Nakalnya memang sama, seperti Mikhayla ketika kecil. Namun, perihal hati Zavia berbeda, anak ini perasa dan selalu menyalahkan diri setelah melakukan apapun.


"Shuut jangan menangis, Via pasti mau adiknya cantik seperti Via juga, 'kan?" tanya Mikhail lembut seraya menyeka air mata cucunya, kasihan sekali si ceria kesayangannya sedikit murung sejak memiliki adik.


Perasaan jika dijadikan yang kedua mungkin sebab utamanya. Dahulu dia tidak begini, bahkan sekalipun bertengkar bersama Mikhayla dia akan baik-baik saja lantara Evan adalah miliknya, tapi untuk saat ini melihat kasih sayang Evan jelas terbagi, Zavia mungkin merasa cemburu.


Zavia mengangguk pelan, senyum tipis terbit di sana dan Mikhail seketika menghela napas lega. Tidak berselang lama, Mikhail menyadari kehadiran menantunya di belakang.


"Iya, Opa."


"Via tidak mau ikut?" tanya Mikhail kemudian, dia hanya ingin Keyvan melihat sesuatu yang membuat batinnya teriris nanti.


"Via mau di sini saja, Opa ... gapapa sendirian."


Lihatlah, putrinya memilih menyendiri. Seketika Keyvan terhenyak dan merasa bersalah lantaran tadi hanya fokus pada Azkara saja, padahal tujuan Zavia memang hanya untuk membuat adiknya terlihat lucu.


"Ehem ... hai bidadari kesayangan Papa, boleh duduk di sebelahmu, tuan putri?" sapa Evan yang membuat Zavia mendongak, bukannya menjawab dia justru menunduk dan menghapus kembali air mata yang mungkin akan terlihat Keyvan.


"Boleh, Papa."

__ADS_1


"Tuan putri kenapa duduk sendirian di sini?"


"Papa maaf," ucapnya mencebik, mata Zavia kembali berkaca-kaca padahal Keyvan sama sekali tidak marah ataupun menasihatinya terkait Azkara.


"Hm, maaf untuk apa, Sayang?"


"Azkara jadi nangis, tapi Via gak jahatin adek, Pa."


"It's okay, tapi lain kali jangan begitu ya ... Azkara laki-laki, tidak baik kalau make-upnya terlalu tebal, nanti jadi seperti aunty Kara."


"Papa gak marah?" tanya Zavia menghela napas panjang, anggukan Evan satu-satunya cara yang membuat Zavia lega.


"Mana bisa papa marah padamu, tuan putri." Dia sudah tujuh tahun, tapi Keyvan tetap memperlakukannya seolah bayi tujuh bulan. Tidak peduli sudah berapa usianya, pria itu tetap menghujadinya dengan kecupan hingga suara pencemburu yang lain muncul dari belakang.


"Drama teros, ini dakocan satu kenapa mewek begitu? Hm?"


"Khay ...." Keyvan beranjak dengan membopong sang putri, sementara Zavia kembali menatap mamanya dengan tatapan maut yang kerap kali dia layangkan.


"Cantik begini dibilang dakocan, Mama tu boneka mampang," teriak Zavia bersama Keyvan yang kini sudah membawanya lari, mungkin khawatir adu mulut antara dua bidadari ini akan kian memanas.


"Heeeh!! Boneka mampang apanya? Apa aku segendut itu?"


Tinggalah Mikhayla kini meratapi ucapan Zavia. Dia menatap bayangan tubuhnya di kaca dan memang sedikit gendut sebenarnya. Dia menatap Azkara yang kini tersenyum lebar menatap matanya.


"Terserah kata si dakocan, yang penting Mama cantik ya, Sayang?"


"Euum," sahut Azkara entah benar atau tidak, yang jelas Mikhayla bahagia mendengar validasi sang putra.


.

__ADS_1


.


- Edisi Bayar Hutang -


__ADS_2