Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 127 - Senam Hamil (Sungguhan)


__ADS_3

Menjalani peran sebagai wanita hamil tidak semudah yang dibayangkan. Mikhayla harus berperang melawan banyak hal terutama mentalnya, apalagi dia kerap mengalami sakit punggung dan juga nyeri bagian bawah perut, bahkan dia mimisan hingga membuat Keyvan ketar-ketir. Keyvan yang memang terlampau khawatir jelas saja rela mengutamakan Mikhayla lebih dulu, tidak peduli sekalipun dia di kantor.


"Istri saya kenapa, Dok?" tanya Keyvan pada intinya, meski Mikhayla katakan hal semacam itu wajar saja tapi tetap bagi Keyvan ini bukan hal biasa.


"Hal itu wajar sa_"


"Dok, istri saya sudah beberapa kali mimisan ... yakin dia baik-baik saja?" tanya Keyvan merasa jawaban Diana sedikit berkhianat dari kenyataannya.


"Memasuki trimester kedua memang hal semacam ini kerap dialami para wanita hamil, Anda tenang saja ... saya sudah siapkan vitamin untuk istri Anda," jelas Diana tersenyum hangat, sejak dahulu Keyvan memang begitu peduli pada pasangannya. Dia tidak mengerti alur cerita pria itu tiba-tiba berganti istri, akan tetapi yang dia pahami saat ini Mikhayla adalah pasangan Keyvan satu-satunya.


"Syukurlah jika begitu, terima kasih, Dokter."


Mikhayla yang tampak lesu hanya menganggukkan kepala sebagai ucapan terima kasihnya. Keduanya kini berlalu menyusuri koridor rumah sakit dengan Mikhayla yang kini berpegangan sekuat itu di lengannya.


"Aku gendong saja ya?"


Mikhayla menggeleng, kebiasaan sekali Keyvan kerap memperlakukannya seolah tidak punya tenaga. Padahal hanya lelah saja sebenarnya, Mikhayla tampak lesu begitu karena banyak faktor. Selain karena dia yang tidak begitu fit, Mikhayla juga dibuat lelah dengan tanggapan setiap teman-temannya, ya walaupun untuk sementara Keyvan meminta Mikhayla tidak ke kampus lebih dulu tetap saja kemungkinan mereka akan bertemu di luar itu akan ada.


"Kenapa cemberut begitu? Kata Dokter kan kamu harus tetap semangat, Sayang ... ayo senyum," ungkap Keyvan kemudian namun sama sekali tidak mempan lantaran wanita itu hanya menatapnya luar biasa datar.

__ADS_1


"Tidak mau, kalau senyum nanti kelihatan makin tembem," jawabnya kesal lantaran salah satu temannya memang memuji wajah Mikhayla yang kini mengembang layaknya adonan donat.


"Hahah justru itu semakin cantik, jangan cemberut nanti bayi kita ikut cemberut, Sayang ... mau nanti bayinya pas lahir bukannya nangis tapi melotot ke dokternya seperti mata kamu ini? Tidak mau, 'kan?"


Konyol sekali caranya menenangkan Mikhayla, padahal dimana-mana jelas saja bayi akan menangis ketika lahir ke dunia, mana mungkin bagi memasang wajah cemberut seperti hendak mengajak ribut, pikir Khayla.


"Terserahlah, ayo kita pula ... Mama?"


Langkah Mikhayla terhenti ketika dia melihat Zia menelusuri koridor rumah sakit dari arah lainnya. Langkahnya tampak terburu dan sang mama sendirian, jelas saja Mikhayla penasaran apa yang terjadi.


"Sayang," panggil Mikhayla beralih ke mode serius dan dia mengikuti kemana arah Zia melangkah.


"Hm? Kenapa?"


Dia begitu cemas dan berusaha mencari jejak sang mama. Akan tetapi, secepat itu Zia telah menghilang. "Mama ada apa ke rumah sakit sendirian ya?" Mikhayla bergunam namun dapat terdengar jelas oleh Keyvan hingga pria itu menebak asal dan berhasil membuatnya mendapat pukulan tepat di jidat.


"Ngaco!! Mana mhngkin Mama hamil," kesal Mikhayla sekali lagi, entah kenapa dia benar-benar kesal andai kata memang iya.


"Siapa tahu, Sayang."

__ADS_1


Keyyvan berniat meberikan jawaban namun dia justru mendapat tamparan. Untung saja sayang, andai bukan istri yang melakukan hal itu padanya, jelas saja Keyvan akan membalas lebih gila lagi.


"Ah udah ah, kita pergi saja sekarang ... aku mau daftar senam hamil hari ini," ungkap Mikhayla dan hal ini sedikit tidak Keyvan setujui pasalnya khawatir Khayla justru kelelahan jika terlalu banyak tujuan kesana dan kesini.


"Sayang, apa harus ikut senamnya? Kita berdua bisa senam sendiri, aku yang temani," ujar Keyvan sangat berharap Mikhayla akan mengikuti kemauannya, akan tetapi untuk saat ini keputusan Mikhayla sudah tepat dan dia ingin senam hamil.


"Kalau sama kamu bukan senam yang kumau, pasti lain gerakanya," celetuk Mikhayla paham betul dengan modus Keyvan yang biasanya akan lari ke arah yang iya-iya.


"Yang penting bergerak, lagipula kalau senam berdua kamu tidak lelah ... cukup diam aku yang kerja," balas Keyvan dan memang sampai fir'aun beriman Keyvan tidak akan pernah kalah jika sudah membahas hal semacam itu.


"Ngawur, aku harus senam supaya nanti tidak bingung ... sekarang aku terkadang sesak, banyak sakitnya. Siapa tahu kalau senam sedikit baikan," ujar Mikhayla serius hingga membuat Keyvan menyerah pada akhirnya, mau tidak mau istrinya memang lebih mengetahui masalah ini.


"Iya, mau es-krim nanti, Sayang?"


"Jangan ditawarin ih, sudah dibilang nanti obesitas akunya." Kali pertama dia menolak begitu mantap, apa mungkin karena di rumah sakit hingga dia takut sakit, pikir Keyvan.


.


.

__ADS_1


.


- To Be Continue -


__ADS_2