Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 68 - Meredam Ego


__ADS_3

"Huft ... It's okay, tenang Mikhayla."


Sembari membuka pintu kamar, mulutkan komat kamit menenangkan diri. Ini adalah kebohongan paling besar yang akan dia lakukan di hadapan orang tuanya. Tidak pernah membawa laki-laki ke kamarnya, sekalinya ada kini harus sembunyi-sembunyi padahal suaminya sendiri.


Ceklek


"Hoaam ... kenapa pada di sini?"


Mikhayla menguap lebar-lebar dan sengaja tidak menutup mulutnya agar kantuknya lebih nyata terlihat. Beberapa saat kemudian, Rani datang dan memberikan kunci cadangan yang Mikhail maksud.


"Telat!! Ambil kuncinya dimana? Rumah tetangga?"


"Maaf, Tuan ... soalnya yang satu ini keselip," ujar Rani mengutarakan alasannya, meski dia kena semprot Mikhail pagi-pagi buta begini tidak masalah, yang terpenting Mikhayla baik-baik saja.


Mikhayla sudah berakting sebaik mungkin, tapi pria itu tetap memaksa masuk dan memeriksa kamar putrinya. Tidak ada yang aneh, memang tidur Mikhayla jelek jadi wajar saja guling dan lainnya terkadang tergeletak di lantai.


Zia ikut masuk dan mengikuti langkah sang suami, sementara Mikhayla saat ini tidak henti-hentinya menguap sembari menggaruk kepalanya seakan memang merasa terganggu dengan kehadiran mereka berdua.


"Papa merasa ada yang aneh dengan kamar ini, tapi apa ya?"


Pria itu tampak berpikir dan mengelilingi kamar Mikhayla dengan langkah pelannya. Padahal biasanya tidak begini, Mikhail terbiasa naik hanya untuk memastikan saja. Kini, seakan dia tengah melakukan razia dadakan.


"Maksud Papa apa?"


"Entahlah, tapi Papa mencium aroma asing dan ini bukan aroma parfum kamu, Khay," ucap Mikhail tampak mengendus tempat tidur dan mendalami sebenarnya aroma apa yang kini dia rasakan.

__ADS_1


"Hidung Papa bermasalah mungkin, kan dari kemarin Papa kurang tidur ... banyakin istirahat gih, Pa," tutur Mikhayla berharap sekali sang papa akan pergi secepatnya, selama 18 tahun dia hidup baru kali ini jantungnya berdegup tak karuan berhadapan bersama Mikhail.


"Papa tidak flu, Mikhayla! Pasti ada yang aneh di kamar ini."


Keras kepala sekali, Mikhayla membeliak kala sang papa berjalan menuju kamar mandi. Bersyukur sekali dia tidak menyembunyikan Keyvan di sana, jika saja rencana pertama dia lakukan mungkin saat ini Keyvan sudah diseret paksa.


"Kamu aneh banget sih, Mas ... apa yang kamu pikirkan sampai begitu? Cari apa?"


Otak Zia tidak pernah berpikir jika Keyvan akan senakal itu. Dia percaya Keyvan akan mengikuti perintah Mikhail untuk memberikan waktu beberapa hari dan tidak mengganggu Mikhayla dulu.


Berbeda dengan Zia, pria dengan tubuh gagah ini begitu yakin jika ada yang aneh dengan putrinya malam ini. Di mata Mikhail menantunya adalah sosok pria keras kepala yang tidak mungkin patuh semudah itu, terbukti dengan keberaniannya loncat pagar padahal sudah ditekankan oleh Bastian jangan masuk.


Mikhayla sudah ketar-ketir, dia bernapas lega kala Mikhail melewati lemari tanpa berniat membukanya. Hanya saja, Mikhail yang tiba-tiba menghampiri dan menyibakkan rambutnya membuat Mikhayla bingung.


"Menghadap Mama coba," titah Mikhail karena dia ingin memastikan putrinya lebih seksama.


"Papa lihat apa?"


"Memastikan sesuatu," jawab Mikhail kemudian, pikirannya memang sudah sejauh itu. Dia pernah muda dan paham betul jika sudah bersama yang dilakukan apa, otak Keyvan tidak jauh berbeda darinya dan jelas cara paling ampuh menuntaskan kerinduan adalah bercumbu.


"Huft, syukurlah." Mikhail bernapas lega seketika kala tidak menemukan tanda-tanda kepemilikan Keyvan di sana.


"Udah sembuh, Pa." Mikhayla yang mengerti maksud sang Papa memeriksa lehernya apa segera mengalihkan pembicaraan. Tentu saja dia tidak ingin Mikhail semakin curiga, sebelum Mikhail bertanya dia akan menjawab lebih dulu dengan caranya.


"Hm, iya sudah sembuh ... tidurlah lagi, sepertinya memang firasat Papa saja yang buruk."

__ADS_1


Mikhail lunak juga pada akhirnya, melihat reaksi putrinya yang justru membahas bekas badjingan itu, Mikhail percaya jika memang firasatnya terlalu mengada-ada dan sejak semalam memang Mikhayla hanya sendiri.


.


.


.


Setelah memastikan orang tuanya memang sudah kembali ke kamar. Mikhayla buru-buru membuka lemari dan mengeluarkan Keyvan dari persembunyian. Keringat membasah di kening dan wajahnya lantaran Mikhayla melindungi kepala Keyvan dengan kain dan kerudung beberapa lapis, hal itu dia lakukan karena takut Mikhail akan membuka lemarinya.


"Mereka sudah pergi?"


"Hm, ayo tidur lagi."


Setelah sempat dibuat pingsan, Mikhayla dengan santainya mengajak tidur lagi. Pria itu terkekeh namun tetap menuruti kemauan sang istri, kebetulan rasa kantuknya sama sekali tidak tertolong dan juga hendak keluar di bawah sudah ada Bastian yang berjaga.


"Maaf ya, kita terpaksa sembunyi-sembunyi begini."


"Tidak masalah, Papa begitu karena sayang kamu," ucap Keyvan sangat mengerti jika Mikhail menyayangi Mikhayla begitu luar biasa. Akan tetapi, jika Mikhail menyayangi Mikhayla, dia juga sama. Dan Keyvan tidak akan pernah mau mengalah, sekalipun harus dengan cara terlarang.


"Nanti siang aku akan bicara lagi sama Papa, kalau masih dilarang sama-sama bawa aku pergi saja ... kabur sama suami tidak berdosa kan?" tanya Mikhayla kemudian, jika harus berpisah dia lebih baik berontak.


"Jangan, nanti semakin rumit. Papa benci aku, dan juga kecewa sama kamu ... besok aku akan coba bicara sama Papa, hari ini kita begini dulu, aku baru bisa pergi nanti malam," ucap Keyvan lembut sembari mengecup kening Mikhayla singkat.


Memang dia bisa kembali berbuat semaunya. Hanya saja dia tidak ingin membuat kepercayaan Mikhail kian rusak padanya, hari ini dia terpaksa menetap karena untuk pergi sudah terlambat. Besok dia akan memulai bicara pada Mikhail dengan etika sebagai menantu yang baik, karena jika dia nekat hari ini sama halnya dengan bunuh diri.

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2