Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 111 - Sejatinya Seorang Papa


__ADS_3

Mualnya Mikhail berlanjut hingga tiga hari kemudian dia benar-benar demam. Mau tidak mau Zia menghubungi menantunya, Keyvan yang mengkhawatirkan kondisi mertuanya segera mengiyakan permintaan Zia meski sebenarnya Mikhayla juga baru saja sedikit lebih baik tadi pagi.


"Ma, Papa kenapa?"


Wajah Mikhayla tampak panik, sepengetahuan Mikhayla sang papa bukan pria lemah. Akan tetapi hari ini tiba-tiba saja memintanya datang dengan alasan terlalu merindukan Mikhayla hingga panas tinggi begitu.


"Demam, Khay ... mungkin salah makan kemarin, biasalah Papamu apa-apa dimakan," jawab Zia kemudian, dia tetap tidak percaya jika sehari sebelum Mikhail sakit itu hanya makan rambutan saja, aneh dan hal itu tidaj bisa dia terima.


"Aku bisa mendengarmu, Zia."


"Eh, Papa bangun? Khayla datang, Papa ... Hm kasihan, pahlawanku sakit, Papa pusing ya?"


Memang benar Mikhayla hanya menumpang di perut Zia, karena pada faktanya dia lebih sepaham dengan sang papa. Keyvan yang melihat interaksi keduanya juga tidak bisa berbuat apa-apa, hendak cemburu juga tidak bisa karena memang Mikhail berhak atas diri Mikhayla.


"Sejak kapan, Ma?" tanya Keyvan menatap Mikhail sedikit tak tega, meski biasanya memang sedikit drama tapi yang kali ini memang jelas terlihat Mikhail benar-benar lemah.


"Sudah tiga hari, Van. Kata dokter demam biasa, jangan terlalu khawatir."


Tapi anehnya, kemarin-kemarin Mikhayla juga demam dan keadaan persis seperti Mikhail. Apa mungkin ikatan batin keduanya sedalam itu, pikir Keyvan. "Mama tinggal dulu, mau antar Lengkara sama Ameera sekolah, hampir telat."


Keyvan mengangguk, sepertinya memang Zia tampak kesulitan membagi waktu. Ya, maklum saja suaminya tengah sakit hari ini, sementara kedua adik Mikhayla masih perlu diantar ke sekolah. Setelah melihat kesibuka mertuanya beberapa waktu lalu, Keyvan memahami jika menjadi orangtua itu memang tidak sederhana.


Sepeninggal Zia pergi, tatapan Keyvan kini tertuju pada interaksi mertua dan sang istri. Mereka manis, Keyvan bahkan dibuat tersenyum meski tidak diajak. Tidak mengapa, toh hidup Mikhayla sudah menjadi hak Keyvan sepenuhnya.


"Van, kenapa berdiri di situ? Sini mendekat, kita kan keluarga."


Ingin terbahak, tapi yang bicara kini adalah mertuanya. Pria itu mengangguk sopan dan mendekati sang papa, sedikit ragu karena dia merasa segan jika harus duduk di ranjang mertua. "Duduk sini, tidak masalah, 'kan, Pa?" Mikhayla bertanya dengan harapan besar papanya akan mengangguk dan mengizinkan Keyvan duduk di sampingnya.


"Iya, tidak masalah ... jangan saja kau tidur di sini," jawab Mikhail santai namun itu membuat Keyvan menggigit bibir bawahnya seraya mengelus dada dan membatin dalam benaknya Sabar, Van ... Jangan tertawa, ini tidak lucu sama sekali.

__ADS_1


Sepanjang Mikhayla bicara menenangkan sang papa, Keyvan hanya diam dan mendengar setiap tutur kata sang istri. Nasihatnya terdengar bijak sekali padahal dia di rumah juga tidak jauh berbeda dari Mikhail. Makan tidak tepat waktu, mandi lama, minum air dingin, tidur larut dan lainnya adalah kebiasaan Mikhayla sendiri.


"Sehat-sehat, Papa ... Jangan sakit, kasihan Mama kalau Papa begini."


"Biasanya Papa tidak begini, Khayla. Mamamu marah dan menuduh Papa makan macam-macam, padahal memang cuma makan rambutan." Mikhail kembali bercerita asal mula dia bisa sakit begitu, suatu sebab yang sangat tidak masuk akal hanya karena dua buah rambutan jadi demam berhari-hari.


"Rambutan? Beli, Pa?" tanya Mikhayla penasaran, mungkin saja yang Mikhail makan tidak bersih dan lainnya.


"Bukan, dari Rahman," jawab Mikhail yang sontak membuat pikiran Mikhayla terbuka seketika, dia tampak berpikir dan menurutnya ini adalah kemungkinan paling besar. "Ehm, berarti itu rambutan hasil nyolong, Pa. Makanya jangan asal makan, Papa lupa di kebun mendiang pak Joko ada rambutannya? Nah, Mikhayla pikir om Rahman nyolong di sana deh," ucap Mikhayla mantap, dia yakin sekali dengan pendapatnya.


"Masa begitu, Khay?"


"Ih Papa dibilangin nggak percaya."


Pembicaraan macam apa ini, Keyvan mengusap wajahnya kasar seraya menggigit bibirnya sejak tadi. Dia tengah menahan diri untuk tidak tertawa, sungguh dia bukan seseorang yang mudah tertawa jika belum selucu itu.


"Tapi Papa pikir bukan, Khay ... Papa masih berharap Papa mengalami kehamilan simpatik, doakan memang benar ya."


"Khayla Aamiinkan, semoga memang begitu ya ... apapun, itu adalah rencana Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Khayla terima andai Mama punya anak lagi, tapi bisakah Papa berjanji akan lakukan yang sama untuk kami berdua?"


Pertanyaan Mikhayla memiliki makna tersirat paling dalam, Keyvan bahkan tidak menduga istrinya mampu mengucapkan hal itu pada Mikhail. "Maksudmu?" tanya Mikhail datar dan hal itu membuat Keyvan ketar-ketir istrinya akan diamuk pria itu.


"Sama seperti Papa, Khayla juga mau punya bayi."


"Boleh, tapi jangan sekarang, Sayang. Kamu masih terlalu muda, tunggu beberapa waktu lagi."


Nyatanya keputusan Mikhail masih sama, kekhawatiran dia pada sang putri belum tuntas juga. Dia hanya takut apa yang terjadi di masa lalu terulang, cukup dia yang merasakan bagaimana dicekam ketakutan kala Mikhayla hendak lahir ke dunia.


"Papa bukan tidak mengizinkan ... Papa paham Evan menginginkan keturunan dari bidadari Papa ini. Mustahil dengan usia dia yang sedewasa itu tidak ingin punya anak, tapi pikirkan lagi kemungkinan buruk yang nantinya akan terjadi. Kau dengar Papa, Evan?"

__ADS_1


"Dengar, Pa." Keyvan tampak patuh, meski dalam hatinya menjawab sebaliknya. Mau bagaimana lagi, toh calon bayinya sudah hadir di rahim sang istri, pikirnya.


"T-tapi kalau sampai nggak disengaja, tahu-tahu hamil gitu gimana? Masa Papa paksa gugurin kandungan Mikhayla," celetuk Mikhayla tampaknya tidak mau berhenti memperjuangkan bayinya di hadapan sang papa.


"Ya tidak mungkin sejahat itu, Papa juga manusia, Khayla ... Ah sudahlah, kenapa pembicaraanmu jadi begini."


.


.


.


Selesai dari mengunjungi Mikhail, keduanya kembali ke apartement. Wajah datar Mikhayla sedikit mengusik Keyvan, dia menggenggam jemari sang istri hingga membuat wanita itu menghela napas pelan.


"Jangan sedih, Papa sudah bilang tidak akan sejahat itu andai benar-benar terjadi, 'kan? Secara tidak langsung, itu adalah izin, Sayang."


"Tapi Papa belum benar-benar kasih izin, egois sekali." Dia mencebik dan gusar saat ini, Keyvan secepat itu merengkuh tubuhnya. Mengelus pelan pundak Khayla dan berusaha menjelaskan jika itu hanyalah bentuk kasih sayang seorang papa pada putrinya.


"Perlahan, nanti perutmu membesar dan Papa akan luluh sendiri tanpa perlu kamu memohon seperti tadi. Kamu sendiri yang mengatakan ini akan jadi rahasia kita, ingat?" Keyvan bertanya selembut itu pada sang istri, dia mengecup keningnya berkali-kali.


"Tapi memang Papa egois, seharusnya dia mikirin perasaan kamu juga dan tid_"


"Shhut, jangan hanya karena aku kamu jadi tidak menyukai Papa, Sayang. Jangan lupa, sebelum ada aku dalam hidupmu, Papa adalah satu-satunya pria yang mencintaimu tanpa batasnya. Percaya padaku, Papa begitu karena sayang kamu, Khayla." Keyvan memberikan pengertian pada istri kecilnya yang sebenarnya masih belum terlalu bisa mengontrol perasaan, dia labil dan dewasa di momen tertentu saja.


Mikhayla tampak terdiam mendengar ucapan Keyvan. Dia membuat pola lingkaran di dada Keyvan dengan jemarinya sembari berpikir dan sontak merasa bersalah karena sejak diperjalanan pulang dia selalu menggerutu tentang papanya.


- To Be Continue -


Episode ini aku persembahkan dalam rangka memperingati hari Ayah. Sehat selalu untuk para ayah dan suami yang tengah berjuang tentang kebahagiaan para bidadarinyađź’•

__ADS_1


Desy Puspita


Palembang, 12 November 2022.


__ADS_2