Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 43 - Kembali (Dunia Mikhayla)


__ADS_3

Sempat dibuat gila lantaran hampir kehilangan dirinya. Tanpa terduga, Keyvan sebaik itu tentang dunia Mikhayla. Sesuai janji, dia membebaskan Mikhayla untuk tetap meneruskan pendidikannya. Walau, sebenarnya dapat dikatakan terlambat. Ya, Keyvan sudah merusaknya tanpa pertimbangan, dan kini dia bertanggung jawab untuk menata kehidupan istrinya.


Dengan status pernikahan yang masih sama, Keyvan akan tetap diam untuk waktu yang tidak bisa dia tentukan. Bukan hanya menjaga nama baiknya, tapi juga demi membuat Mikhayla baik-baik saja. Keduanya sama-sama sibuk pagi ini, Keyvan hendak ke kantor dan Mikhayla ke kampusnya.


Seperti yang Keyvan katakan, dia tidak sebebas itu. Bukan cerewet tapi dia hanya sedikit mengatur saja sebenarnya. Satu hal yang Keyvan suka, istrinya penurut dan mudah diatur. Sempat khawatir kebiasaanya akan persis ketika di rumah dengan mengenakan pakaian yang bahkan muat dipakai adiknya, Mikhayla paham aturan ketika sudah berada di tempat seharusnya.


Untuk membuka kehidupan Mikhayla kali ini, Keyvan turun tangan sendiri dan mengantar Mikhayla tanpa bantuan Wibowo atau yang lain. Meski, tetap saja anak buahnya yang lain mengawasi Mikhayla dari kejauhan demi memastikan istrinya baik-baik saja.


"Cantik," puji Keyvan tulus ketika memandang sang istri yang kini berdiri di hadapannya.


Penampilan sederhana, namun terlihat elegan dan sopan. Paling penting tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya, istrinya terlihat lebih dewasa dengan pakaian dan gaya rambut yang dia gerai sempurna. Keyvan bahkan lupa jika yang di hadapannya kini adalah wanita bau yang dulu sempat membuatnya risih dengan wajah kusam dan air mata yang tak berhenti berurai.


"Memang cantik."


Jawaban paling pas ketika dipuji, bukannya mengucapkan terima kasih Mikhayla menjawab demikian dengan sengaja menjulurkan lidahnya. Mana mungkin Keyvan bisa tahan untuk tidak menarik tengkuk lehernya secara tiba-tiba.


"Masuklah, istriku."


Memang tidak tahu tempat, Mikhayla mendorong dada Keyvan secepat itu meski terlambat. Ya, suaminya sudah berhasil mencuri kecupan meski singkat, dia yang was-was kini melihat sekeliling lantaran khawatir ada yang melihat kejadian ini.


"Kenapa harus di sini? Kalau ada yang lihat gimana? Akunya malu!!"


"Malu? Aku suami kamu kenapa malu?"


Sepertinya memang percuma berbicara pada pria ini. Ada saja jawabannya dan hal itu berhasil membuat Mikhayla panas dingin. Sekalipun Keyvan suaminya, mana mungkin dia akan mengumumkan pada yang lain semudah itu.


"Bukan masalah itu, cuma ya malu ... di sini bukan tempat ciuman, jangan gila ya," tutur Mikhayla merogoh kaca kecil di sakunya, khawatir sekali jika warna bibirnya sedikit berubah akibat serangan dadakan dari Keyvan.


"Oh iya? Lalu seharusnya dimana?"


"Dimana saja, asal bukan di tempat terbuka begini ... tuh semak-semak kalau mau," tutur Mikhayla bercanda sembari menunjuk semak-semak jauh di ujung jalan sana, andai saja Keyvan sedang ingin berbuat lebih gila jelas dia akan menarik pergelangan tangan sang istri sekarang juga.


"Kabari kalau sudah pulang, aku yang akan menjemputmu ... Wibowo kurang paham jalan sekitar sini."

__ADS_1


Alasan dia saja sebenarnya, jika masalah Wibowo jelas saja dia berbohong. Jangankan hanya tempat ini, keliling kota saja Wibowo paham.


"Iya," jawab Mikhayla patuh sekali, tanpa bantahan dan tidak banyak bertanya adalah sikap wanita yang sangat Keyvan inginkan sejak dahulu.


"Apa? Masuk sana," titah Keyvan bingung sendiri kala Mikhayla mengulurkan tangannya, dengan bibir yang sengaja dibuat-buat seimut mungkin Mikhayla membuat pagi Keyvan seakan resah saja.


"Ininya belum," keluh Mikhayla lantaran sang suami tidak peka juga.


"Oh salim ya?" Keyvan tersenyum simpul kemudian menyambut uluran tangan Mikhayla, hatinya menghangat karena baru kali ini dia merasakan sosok wanita mengecup punggung tangannya sebelum berlalu.


"Uang jajanku ... aku tidak pegang uang sama sekali," ucapnya mengerutkan dahi, wajah Keyvan berubah seketika dan dia menghela napas kasarnya.


"Kupikir apa." Dia sudah sebahagia itu, nyatanya salah sangka. Untung saja di sini hanya ada mereka, pikir Keyvan.


"Ayolah, aku tidak mungkin minta sama Papa lagi."


Ketika dia pulang ke rumah, Mikhayla tidak menerima apapun selain indentitas diri yang Zia serahkan. Bukan karena Mikhail berhenti memberi uang padanya, tapi memang Mikhayla yang menolak malam itu.


Keyvan benar-benar lupa jika istrinya butuh uang jajan. Pria itu merogoh dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang yang tersisa di dompetnya. Pria itu memang tidak begitu suka menggunakan uang cash, wajar saja dia terlihat miskin pagi ini.


"Cukup? Atau mau pegang kartuku?" tanya Keyvan lantaran khawatir istrinya tidak cukup dengan uang jajannya pagi ini.


"Cukup ... tapi besok pagi kasih lagi ya?" Khawatir sekali jika uang itu adalah jatahnya selama satu minggu, jelas saja Keyvan terkekeh mendengarnya.


"Iya, Sayang ... sudah masuk sana," titah Keyvan gemas sendiri lantaran istrinya masih terus di sini.


Mikhayla melambaikan tangan sembari menoleh berkali-kali kala memasuki gerbang universitas, tidak pernah Keyvan duga dia akan mendatangi kampus ini kembali dengan alasan mengantar istrinya.


Aku kembali, Banyak yang berubah di sini. Di tempat yang sama, dengan orang yang berbeda ... Hatiku berpindah, perlahan aku menginginkannya sebagai cinta. Maafkan aku, Liora.


.


.

__ADS_1


.


Sementara di sisi lain, Mikhayla yang terlalu bahagia dengan kembalinya ke tempat ini tidak terlalu memperhatikan jalan dan tubuhnya tidak sengaja menabrak tubuh tinggi yang tiba-tiba menghalaunya.


"Ck, mau apa sih?"


"Hai, aku lihat beritanya ... kamu apa kabar, Khay?"


Muak, benci dan jijik bersatu ketika Mikhayla melihat wajahnya. Tatapan sendu Alka hanya membuat Mikhayla mual seketika.


"Bukan urusan kamu!!" sentak Mikhayla seraya mendorong dada Alka agar segera menjauh.


"Ini urusanku, Khay ... aku ke rumah sakit tapi kamu nggak ada, Papa kamu juga cuma diem pas aku tanya."


Mikhayla menjauh, dia tidak peduli dengan ucapan Alka yang seakan prihatin padanya. Padahal, Alka setakut itu pada papanya, mana mungkin berani bertanya demikian.


"Mikhayla!! Siapa cowok di depan?!!"


Suara Alka menggema, Mikhayla menoleh dan dia menatap Alka kesal. Demi apapun dia khawatir sekali orang lain mengetahui hal itu, Mikhayla tetap diam kala Alka menghampirinya.


"Bukan ur_"


"Bukan urusan aku lagi? Siapa? Hm? Kamu ciuman sama dia, waras hah? Murahhan tau nggak!!" teriak Alka tanpa peduli dimana dia sekarang, Mikhayla menelan salivanya pahit. Dia bukan takut pada Alka, melainkan takut jika ada yang mendengar percakapan mereka.


"Bu-bukan siapa-siapa ... kamu salah lihat, lagipula jarak dari sini ke sana jauh." Mikhayla berusaha santai meski dadanya dibuat berkecamuk tak karuan.


"Salah lihat gimana? Jelas-jelas yang tadi ciuman itu kamu, mataku masih sehat, Khayla," lirih Alka mencengkram tangan Mikhayla kuat-kuat hingga wanita itu merasakan sedikit sakit di sana.


"Alka, kamu bisa berhenti bersikap seolah kita masih ada hubungan nggak? Apa yang kamu lakukan malam itu, sudah aku anggap sebagai cara kamu mengakhiri hubungan kita ... camkan itu." Mikhayla menghempas tangan Alka, demi menghindari Alka dia berlari sekuat tenaga hingga berhasil membuat Alka kewalahan mengikutinya.


"Mikhayla!! Awas kalau sampai dapat, jangan kamu pikir aku bisa terima kamu disentuh cowok lain, Khay."


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2