
Beberapa hari, Mikhail hanya meminta waktu agar Mikhayla bisa lebih tenang sendiri. Akan tetapi dengan cara memisahkan mereka, baik Keyvan maupun Mikhayla sama-sama tidak tenang.
Hari pertama Mikhayla sudah bertanya banyak hal dan menuntut penjelasan kenapa Keyvan diusir. Hal ini tidak sesuai dengan janji Mikhail yang mengatakan Keyvan akan tidur juga di rumahnya. Walau dia sadari papanya memang marah besar, namun yang perlu Mikhail pahami suaminya juga lebih marah.
Tepat dihari ketiga, Mikhayla mendatangi ruang kerja sang papa. Dia resah, walau tidur bersama Rani rasanya berbeda dan bukan kenyamanan itu yang dia mau.
"Pa, Khay baik-baik saja, sejak kemarin Khay sudah berani tidur sendirian ... izinkan Khay pulang sekarang."
Demi mendapat kepercayaan Mikhail, dia rela berpura-pura terlihat biasa padahal hingga detik ini jiwanya masih terancam bahkan mendengar pintu kamar diketuk saja Mikhayla bergetar.
"Mulutmu bisa saja berkata demikian, Khay ... tapi matamu tidak, jangan bohongi Papa kali ini. Lagipula kenapa tidur sendiri?"
Mikhayla lupa siapa yang kini dia ajak bicara, sang papa tidak akan semudah itu percaya jika dirinya memang baik-baik saja. Sekali tidak tetap tidak, Mikhail benar-benar marah hingga dia berpikir cara ini masih terlalu sederhana untuk membuat Keyvan tersiksa.
"Pa, Khayla tidurnya kurang nyaman kalau dipeluk Mbak Rani ... tangannya kecil."
Suasana sedang panas-panasnya, hati Mikhail masih sekesal itu. Putrinya dengan santai mengeluhkan pelukan Rani tidak senyaman suaminya, sungguh Mikhail tidak habis pikir saat ini.
Mikhail pura-pura tidak mendengar, dia kembali fokus dengan ponselnya. Beberapa panggilan dari nomor baru masuk berkali-kali, sudah diblokir kembali berulah lagi. Itu terjadi sejak tiga hari yang lalu, dan Mikhail tidak perlu menerka-nerka itu siapa, jelas saja menantu satu-satunya itu.
"Papa ... dengar Khayla, 'kan?
"Hm, dengar."
"Kalau Papa marah bagaimana dengan dia? Papa sakit dia juga sama sakitnya, pikirkan lagi kalau Papa mau marah dengan cara yang begini, tidak adil bagi suami Khay, Pa."
__ADS_1
Mikhail terkejut, putrinya berani bicara demikian demi membela suaminya. Mikhayla memang benar-benar berubah, bahkan dia bisa bicara serius seolah sudah lebih dewasa dari usianya.
"Papa hanya ingin memberinya pelajaran, Khay. Dia lalai menjagamu, lagipula dulu dia menculik kamu dari Papa ... apa salah jika Papa balas dendam sedikit?"
Mikhail mulai kesal lantaran Mikhayla tampak membela Keyvan yang jelas-jelas mengacaukan hidupnya. Tampaknya memang Keyvan telah berhasil mencuri hati Mikhayla hingga akarnya, pikir Mikhail.
"Balas dendam tidak sesuai waktunya, Pa. Saat ini, kita sama-sama hancur ... kita bertiga, sementara suamiku sendirian? Apa tidak kasihan?"
Sebenarnya iya, jika Mikhail ingat-ingat kasihan juga. Menantunya cukup lama menunggu di luar dalam keadaan basah kuyup, dia memang keterlaluan. Hanya saja, Mikhail tetap ingin memberikan Keyvan pelajaran karena gagal menjaga permatanya.
"Hari sudah malam, tidurlah."
Mikhail tidak mengabaikan permintaan Mikhayla yang intinya menginginkan Keyvan ada di sisinya. Kebetulan sekali malam mulai larut dan ini adalah alasan Mikhail memaksa putrinya masuk kamar.
"Pa, Khay belum selesai bicara ... sudah tiga hari, sampai kapan kami pisah ranjang, Pa?"
"Masuklah, kamu sepertinya kurang tidur," tutur Mikhail mendorong tubuh Mikhayla pelan namun tetap dengan paksaan, persis seorang anak yang dipaksa belajar menjelang ujian sekolah.
"Good night sayangnya Papa," tutur Mikhail yang kini memaksanya berbaring dan masuk ke dalam selimut, Mikhayla pasrah dan hanya bisa menerima kecupan hangat di keningnya sebagai ungkapan selamat malam.
"Tidurlah, mimpi indah ... jangan lupa baca doa," ucap Mikhail namun hanya mendapat helaan napas dari Mikhayla, usahanya malam ini sia-sia. Mikhail benar-benar berniat memisahkan mereka berdua, bahkan keluar rumah pun tidak diperbolehkan karena khawatir Keyvan melanggar perintah dan kembali menculik Khayla secara paksa.
.
.
__ADS_1
.
"Huft, harus dengan apa aku membuat Papa mengerti keadaan ini."
Mikhayla terdiam menatap pintu kamar yang kini telah tertutup sempurna. Posesifnya Mikhail mengalahkan ketika dia belum menikah, sementara saat ini pikiran Mikhayla justru terbagi dan mengkhawatirkan sang suami. Membayangkan Keyvan terjebak di luar malam itu dia ingin menangis, sudah dia katakan lebih baik jangan
meminta Zia datang di hari itu. Sayangnya, Keyvan keras kepala dan situasi jadi rumit saja.
Dia menatap langit-langit, tanpa ponsel, tanpa kabar dan sama sekali dia tidak mengetahui bagaimana keadaan suaminya. Dia takut, dan faktanya pelukan Rani memang tidak semenenangkan pelukan Keyvan.
Berkali-kali mencari posisi aman, hingga dia terdiam kala mendengar suara benda jatuh yang berasal dari balkon kamar. Mikhayla yang memang sepeka itu dengan suara segera bangun dan sudah bersiap untuk berlari.
Tok tok tok
Jantung Mikhayla berdetak dua kalo lebih cepat kala pintu kaca pembatas antara balkon dan kamar diketuk secara berkala, dia menajamkan telinga dan berharap kali ini bukan penjahat yang mengintai hidupnya.
"Pap-papa ...." Meski dia kesal pada Mikhail tetap saja di saat dirinya terancam masih memanggil papanya pelan.
Tok tok tok
"Khayla, kamu dengar aku?"
Suara itu terdengar amat samar, langkah kakinya membawa Mikhayla untuk keluar. Dengan perlahan dia membuka tirai demi memastikan siapa yang ada di luar sana.
"Haaah?!!" Mata Mikhayla membulat sempurna kala melihat sosok pria dengan pakaian serba hitam lengkap dengan topi dan juga masker di wajahnya.
__ADS_1
- To Be Continue -