Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 69 - Istri Luar Biasa


__ADS_3

Jalan tengah paling baik, Keyvan sadar hal ini salah. Akan tetapi jika tidak begini maka keduanya tidak akan bersama dalam beberapa hari ke depan. Sesulit ini menjalin asmara bersama anak yang terlahir dari keluarga harmonis, pikir Keyvan.


Seperti yang dia katakan pada Mikhayla tadi malam, hari ini memang dia akan menetap lebih dulu. Meski hanya menghabiskan waktu dengan menonton televisi dan berpeluk mesra bersama sang istri, Keyvan tidak merasa bosan sama sekali. Anggap saja bulan madu di hotel bintang lima, walau mereka hanya makan sepiring berdua lantaran takut Rani ataupun Zia curiga, dia menikmati tanpa protes sama sekali.


"Yah, aku ambil sendoknya cuma satu ... aku turun lagi ya, sebentar."


Wajahnya tampak panik, namun secepat itu Keyvan menahan kepergiannya. "Satu saja cukup, kita makan dari sendok yang sama," tutur Keyvan karena tidak tega jika harus melihat sang istri turun lagi.


"Cukup kan? Sengaja aku ambilnya lebih banyak."


Mikhayla memperlihatkan piring dengan nasi yang menggunung disertai lauk pauk di sekelilingnya. Sengaja dia membawa makan siang dengan porsi tiga kali lipat dari biasanya untuk berbagi bersama Keyvan. Sama halnya dengan sarapan tadi pagi, hanya saja untuk makan siang kali ini lebih banyak lagi.


"Lucu ya, kita berdua harus begini ... di rumah ada siapa?"


"Semuanya, Papa setiap makan siang pasti pulang. Katanya makanan di luar tidak seenak masakan Mama, tapi aku ambil semuanya sebelum Papa masuk ke ruang makan jadi tidak akan dicurigai, aman."


Tidur curi-curi kesempatan, makanpun demikian. Malang sekali nasib Keyvan sebagai menantu Mikhail, beruntung saja istrinya sekarang Mikhayla. Wanita cantik dengan tingkat kesabaran paling tinggi yang pernah dia temui.


Keduanya menikmati makan siang tanpa dosa, bak penyusup di rumah sendiri dan Keyvan bebas asal tidak keluar dari kamar. Kebetulan pakaian yang dulu sempat dia pakai ketika mereka menginap pertama kali masih tersimpan di lemari, jelas saja Keyvan merasa nyaman-nyaman saja.


Sudah lama Keyvan tidak merasakan hal semacam ini. Bersantai di kamar, tanpa peduli perihal pekerjaan lebih dulu karena memang Justin dan Keny memaklumi keadaannya. Ya, dia begitu terbuka saat ini, bahkan kini dia menjadi bahan tertawaan kedua pria itu lantaran dianggap menantu tak diharapkan oleh mertuanya.


"Suapan terakhir, aaaaa ...." Keyvan patuh sekali membuka mulut kala Mikhayla hendak memberikan suapan terakhir untuk sang suami.


Entah karena lapar atau memang efek dari makan sepiring berdua dapat meningkatkan nafsu makan hingga Mikhayla selahap itu, biasanya dia cukup mudah kenyang. Akan tetapi, siang ini berbeda dan dia benar-benar menikmati hingga nasi yang tadinya menggunung benar-benar habis tanpa sisa.


"Aaaakkh."

__ADS_1


Mikhayla sontak menutup mulut dengan telapak tanganya, sungguh bukan maksud tidak sopan di hadapan suami tapi dia tidak bisa menahan kala dirinya tiba-tiba bersendawa. Wanita itu sontak menunduk dan merasa bersalah, sementara Keyvan hanya tertawa sumbang mendapati hal semacam ini.


"Aku kekenyangan."


Siapapun juga tahu jika dia tengah kekenyangan. Keyvan tidak menjawab ucapan sang istri, dia hanya mengacak rambut Mikhayla asal hingga dia mencebik tak suka dan kembali merapikan rambutnya.


"Jangan diacak, sebentar lagi aku harus kembalikan piringnya. Kalau Mama sadar rambutku berubah, pasti dia curiga dan kita digrebek kan bahaya."


Lagi-lagi ucapan sang istri hanya membuat Keyvan terkekeh. Benar-benar menggemaskan, andai saja digrebek sungguhan Keyvan tidak masalah sama sekali.


"Ada-ada saja, kita bukan kumpul kebo, Mikhayla." Keyvan yang terlampau gemas tidak peduli dengan aturan Mikhayla yang melarangnya mengacak rambut, bahkan sengaja semakin dia acak dan berhasil membuat bibir istrinya maju beberapa centi.


.


.


.


"Tumben makan siang di kamar, mandiri lagi ... Biasanya harus Mbak Rani," sarkas Zia sengaja dan membuat Mikhayla menampilkan senyum dengan gigi rapihnya.


"Papa sama Mama udah makan?"


Jurus pura-pura tidak dengar kembali dia keluarkan. Mikhayla mmenghampiri dan kini duduk di sisi sang mama, mode sok akrab demi membuat kepercayaan Zia tetap terjaga.


"Hm? Apa iya begitu, Sayang?"


"Iya, Mas ... dia mandiri banget hari ini, makannya juga banyak." Bagi Zia ini adalah berita baik, karena memang sejak kemarin Mikhayla sulit makan walau sudah disiapkan sekalipun.

__ADS_1


"Wih anak Papa sudah besar dong," puji Mikhail sejenak membuat Mikhayla mencebik. Dia bahkan sudah lebih dari itu, sungguh pikiran papanya sempit sekali.


"Memang sudah besar, Pa ... Kan sudah menikah," jawab Mikhayla tepat pada intinya dan sukses membuat pria itu membuang napas kasar, jika dia mengingat hal itu entah kesal sendiri.


"Ah iya, Papa lupa sesuatu ... suami bandelmu itu neror Papa berhari-hari sampe Sekretaris Papa ikut diteror juga, jadi curiga Evan salah satu preman di sekitaran Jayabaya," ucap Mikhail asal karena dibuat pusing kepala kala kemarin mendapat aduan dari Sekretarisnya yang ketakutan karena diteror nomor baru dan itu sama persis dengan yang menghubunginya.


"Ih Mas apaan sih, amit-amit!! Jangan sembarangan ngomongnya!!" Mendengar ucapan suaminya, Zia bergidik ngeri. Tempat yang disebutkan Mikhail adalah tempat perkumpulan preman pasar yang meresahkan dan kerap bertindak seenaknya.


"Iya kan siapa tahu, Zia ... Mas cuma nebak, Sayang."


"Nggak mungkin, masa iya tampang seperti Evan dibilang preman pasar sih, Mas? Lucu deh." Meski mata Zia sudah tersihir dengan ketampanan Mikhail sejak berpuluh tahun lamanya, dia akui Keyvan memang begitu tampan.


"Loh kok kamu jadi sewot, sejak awal ketemu kan memang Evan persis bandit," balas Mikhail yang memang selalu berburuk sangka pada menantunya hingga menyamakan Keyvan bak penjahat dan pecuri.


"Bandit tu apa, Pa?" tanya Mikhayla dengan wajah polosnya.


"Pencuri, penjahat yang suka seenaknya merampas sesuatu dari pemiliknya," jelas Mikhail seraya terus menikmati cemilannya. Ya, bagi orang lain mungkin itu bukan cemilan lagi.


"Mencuri? ... Papa benar!! Bang Evan memang sudah mencuri hati Khayla," sahut Khayla tanpa dosa sembari sengaja mengapit kedua pipinya dengan telapak tangan hingga Mikhail tersedak dan melemparkan potongan bolu yang tersisa di tangannya tepat mengenai wajah Mikhayla.


"Abang dengkulmu," ucap Mikhail seraya memukul dadanya, sementara Zia sudah bergerak menepuk leher bagian belakangnya.


"Makanya kalau makan jangan kebanyakan ngomong, keselek kan?!!" Baru kali ini Zia sedikit emosi lantaran Mikhail yang sama sekali tidak dewasa dan mengatakan hal macam-macam tentang Keyvan.


"Enak bolunya, Pa ... Dapat dari siapa?" tanya Mikhayla seraya menikmati bolu kukus bekas gigitan sang papa. Mubazir, pikirnya.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2