
Dugaan Justin memang benar adanya, suasana hati Keyvan begitu baik hari ini karena ada istrinya. Pria itu tersenyum simpul kala menatap wajah cantik sang istri yang kini duduk manis di sofa ruang kerjanya, sikap penurut Mikhayla memang tidak perlu diragukan lagi. Wanita itu bahkan tidak mengusik meja kerja Keyvan dan memilih berselancar di laman media sosialnya.
"Sayang, lama nunggunya?" tanya Keyvan kini duduk di sisi Mikhayla.
"Tidak, kenapa cepat sekali? Biasanya Papa kalau rapat lama," ungkap Mikhayla bersandar tepat di dada Keyvan, lama menunggu dia sedikit mengantuk sebenarnya.
"Cepat, hanya sedikit yang dibahas ... kamu kenapa? Sakit?"
Mikhayla menggeleng pelan dan kini melepaskan ponselnya. Belum apa-apa dia sudah melingkarkan tangan di pundak Keyvan, tidak biasanya Mikhayla menempel terang-terangan begini.
Sebagai pria yang jelas mencintainya, Keyvan tidak menolak perlakuan sang istri. Dia mengecupnya beberapa kali hingga wanita itu berdecak kesal lantaran kepalanya bahkan tidak bisa tenang sama sekali.
"Jangan kuat-kuat, pusing kepalanya."
Bukannya minta maaf, Keyvan menutup mata sang istri dengan jemarinya. Mata tajam Mikhayla sama sekali tidak membuat dia takut, melainkan kian bersemangat untuk mengusik ketenangan sang istri.
"Kalau ngantuk itu tidur, bukan marah-marah."
Ini memang jam tidur siang Mikhayla jika dia tidak kemana-mana. Wajar saja rewel, pikir Keyvan mencoba memaklumi sang istri. Mikhayla yang memang tengah mengantuk tidak begitu peduli dan benar-benar memejamkan mata tanpa melepaskan pelukannya.
Meski sedikit rumit, Keyvan akan bertahan dengan posisi itu. Dia lebih suka saja seperti ini daripada harus menidurkan Mikhayla di ruangan khusus yang biasa dia jadikan tempat istirahat jika butuh.
Tiga puluh menit berlalu, dan istrinya memang benar-benar selelap itu. Dengkuran halus yang Keyvan dengar membuat hati pria itu menghangat seketika. Suasana hati Keyvan benar-benar sebaik itu, bahkan Justin yang tidak sengaja masuk tidak dia usir sama sekali.
"Yakin tidak ganggu, Van? Kalau memang ganggu, tanda tangan besok saja," tutur Justin merasa tidak enak harus mengusik ketenangan Keyvan yang tengah menidurkan istrinya.
"Shhut, justru kau yang banyak tanya bisa membuat istriku terbangun ... mana yang harus aku tanda tangani, Justin."
Ini adalah jam kerja, selagi masih bisa dilakukan tidak masalah. Kecuali memang benar-benar tengah melakukan hal yang tidak boleh dilihat orang lain, barulah Keyvan akan menjaga privasi dengan sebaik-baiknya.
__ADS_1
"Dia tidur begitu? Apa tidak khawatir tubuhnya sakit-sakit semua, Van? Tidurkan saja, lagipula di ruanganmu ada kan tempat istirahat?" tanya Justin sedikit khawatir dengan kondisi punggung Mikhayla jika dia tetap begitu.
"Kalau aku tidurkan, sudah pasti aku akan ikut tidur juga, Justin."
Tepatnya bukan tidur, tapi hal lain yang memang dilakukan di tempat tidur, pikir Justin. Pria itu mengangguk mengerti namun senyumnya seolah mengejek Keyvan dan itu dapat Keyvan tangkap dengan jelas.
.
.
.
"Ah iya, aku lupa satu hal ... Tante Henia dan Om Arga menghubungiku berkali-kali, dia bertanya tentang Leon," ungkap Justin yang kemudian membuat Keyvan mengerutkan dahi, tampaknya wanita itu tidak putus asa setelah mengusiknya.
"Abaikan saja, nanti juga lelah sendiri."
Keyvan tidak ingin ambil pusing, sekalipun dia mengatakan dimana Leon saat ini tentu hanya akan menjadi masalah, pikirnya. Lagipula, jika sampai dipedulikan wanita itu akan salah menduga dan lupa diri hingga terus bergantung pada mereka.
Sama sekali tidak Keyvan pedulikan. Selama ini dia terlalu memikirkan hati banyak orang sampai lupa tentang kebahagiaan dirinya sendiri, pria itu hanya mengedikkan bahu dan tidak berpikir untuk kasihan sedikitpun.
"Lebih baik pikirkan yang lain, masa depanmu masih panjang dan bukan tentang dia saja, sana."
Menyesal sekali Justin bicara, pada akhirnya Keyvan semprot akibat kesalahannnya. Mau tidak mau dia harus keluar lantaran Keyvan sudah selesai dengan tanggung jawabnya. "Oke, terima kasih, Bro ... Mr. Mark bagaimana? Kau sudah bicara padanya?"
"Sudah, beliau tidak keberatan dan akan datang menghadiri pesta pernikahanku," ungkap Keyvan yang sukses membuat Justin menganga, yang benar saja seorang Mark rela meluangkan waktu untuk sebuah pesta pernikahan rekan bisnisnya, itu terlalu menakjubkan bagi Justin.
"Gilla, keren sekali!! Kau rayu dia dengan cara apa?"
"Ada caranya, sudah pergilah istriku terganggu nan_"
__ADS_1
BRAK
"Evan!!"
Suara pintu yang didorong paksa itu terdengar amat nyata, Mikhayla yang tadinya tidur terkesiap dan sontak mendongak ke arah wanita yang tengah menatap mereka murka, persis seperti tengah tertangkap dosa tengah berbuat asusila.
Keyvan terlihat santai, dia tidak bereaksi apapun meski amarah wanita di depannya luar biasa besar. Justin yang saat itu masih berada di ruangan Keyvan segera pasang badan dan menghalau langkah Henia, mantan mertua sahabatnya.
"Kau!! Jangan halangi aku, kau juga pasti mengetahui hubungan gelap menantuku kan?!!" sentak Henia melengking bahkan berhasil membuat telinga Justin terasa sakit.
"Mantan lebih tepatnya, mertua Evan bukan Anda lagi," jelas Justin tanpa dosa dan memang begitu adanya, adu mulut kini terjadi sementara Keyvan menikmati perdebatan mereka dengan wajah tenangnya.
"Sayang, kenapa cuma diam ... nenek-nenek itu menakutkan." Mulut Mikhayla memang jujur sekali, wanita itu belum terlalu tua. Hanya saja, memang tidak semuda Zia, karena itu dia menyebutnya nenek.
"Biarkan saja, Justin tidak selemah itu, Sayang."
Faktanya Keyvan terlalu percaya Justin, pria itu kini mengaduh sakit sembari menekan bagian bawah perutnya. Ujung tas mahal milik Henia mendarat tepat di alat tempurnya, meski tidak pakai kekuatan tapi permukaan tas itu memang keras dan cukup meyakitkan.
"Jadi begini kelakuan kamu di belakang kami hah?!! Dasar bejjat, kamu pasti sengaja membunuh Liora demi bisa bersama simpananmu ini. Iya, 'kan?" tuduh Henia menatap Keyvan murka, niatnya datang hari ini untuk kembali meminta bantuan agar Leon ditemukan. Akan tetapi, desas-desus tentang Keyvan ketika dia memasuki kantor membuatnya berpikir macam-macam.
"Hei kau!! Anak kecil zaman sekarang memang tidak punya etika ya, seharusnya kau belajar yang benar bukan jadi simpanan menantuku!!" Henia beralih menatap Mikhayla dengan tatapan setajam itu, dan sungguh rasanya sakit sekali.
"MIKHAYLA BUKAN SIMPANAN!!"
Suara Keyvan menggema, untuk pertama kalinya dia berani membentak Henia. Persetan dengan sopan santun dan sebagainya karena itu sama sekali tidak penting. Pria itu mengepalkan tangannya, mendengar cercaan Henia untuk Mikhayla, hati Keyvan benar-benar tidak terima.
"Van?" tanya Henia seakan tidak percaya pria selembut Keyvan bisa membentaknya, dan hal ini terjadi di hadapan Mikhayla dan juga Justin.
"Dia istriku, jaga mulut Mama sebelum aku benar-benar marah."
__ADS_1
- To Be Continue -