
Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kecuali uang. Kalimat itu memang benar adanya, terbukti dengan apa yang terjadi pada Keyvan hari ini. Terlalu histeris berteriak kemarin membuat tenggorokannya sakit esok hari. Pria yang dahulunya irit bicara bahkan marah saja hanya menggunakan mata, benar-benar mengalami perubahan besar-besaran dalam dirinya kemarin.
Sialnya, hari ini adalah jadwal pertemuan Keyvan dengan salah satu calon rekan bisnisnya. Perjanjian yang sudah ditentukan sejak lama ini jelas saja tidak dapat ditunda, tapi mana mungkin dia baik-baik saja dengan tenggorokan sakit dan suara yang hampir habis begini.
"Tunda saja, Van ... kasihan suaramu, lagipula sekalipun kau coba bicara dia akan bingung sendiri."
"Tapi in_"
Ya Tuhan, sakit sekali. Bahkan ketika dia mencoba suara Keyvan tidak keluar sedikitpun, hanya mulutnya saja yang terbuka. Melihat kondisi Keyvan, Justin bahkan turut membuka mulutnya menirukan gerakan mulut Keyvan dan berakhir dengan pukulan tepat di bahunya.
"Aaww!! Evan!! Kau gilla," kesal Justin benar-benar ingin marah, sudah berbuat baik namun justru mendapat pukulan tanpa aba-aba dari pria itu.
"Kau mengejekku!!"
Sebuah bentakan yang hanya terdengar lantang dalam sanubari tapi tidak bisa didengar manusia normal pada umumnya. Mata Keyvan menatap Justin luar biasa tajam seakan hendak menguliti pria itu hidup-hidup, hanya saja keadaan Keyvan memang sedikit membingungkan bagi Justin.
"Apa? Aku tidak mendengarmu, kirimkan pesan singkat saja padaku," ujar Justin kemudian, mereka bertatap muka tapi bicara via pesan singkat demi menyelamatkan pita suara Keyvan, khawatir juga selamanya dia begitu.
"Temani aku untuk menemui rekan bisnisku di Wils Hotel nanti siang ... Ada beberapa hal yang ingin kami bicarakan, dan pertemuan ini tidak dapat ditunda, Justin"
Keyvan mengetikkan maksud dan tujuannya meminta Justin ke ruangannya pagi-pagi begini. Meski sebenarnya bisa saja dia mengatakan hal yang sejujurnya dan membatalkan pertemuan itu, akan tetapi kembali lagi Keyvan ingin menghargai pria itu yang ternyata sudah tiba sejak kemarin malam.
__ADS_1
"Wibowomu kemana?"
"Istrinya sakit, kau lihat sendiri sejak kemarin dia tidak masuk ... otakmu tidak lagi berfungsi atau bagaimana?"
Justin berdecak sebal kala membaca jawaban Keyvan di layar ponselnya. Dia yang meminta bantuan, tapi dia pula yang emosian. Ingin sekali Justin pergi meninggalkan pria ini sekarang juga, akan tetapi di posisi Keyvan saat ini memang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi penyambung lidahnya.
"Lalu Aisyah?"
"Dia perempuan, sementara istriku alergi perempuan akhir-akhir ini ... aku tidak ingin dia menangis hanya karena pekerjaanku, Justin."
Sebenarnya tidak ada larangan langsung dari Mikhayla. Hanya saja, sejak lama dia sudah berjanji untuk tidak pernah pergi berdua saja bersama wanita lain di belakangnya, entah itu dalam urusan pekerjaan ataupun hal lain.
"Iya, Mr. Mark, 'kan?"
"Bukan, tapi Zayyan."
"Zayyan? Zayyan Alexander?" tanya Justin kemudian, dia mengerutkan dahi dan bingung sendiri kenapa Keyvan mau berhadapan dengan pria semacam Zayyan.
"Hm, kenapa memangnya?"
"Kau lupa dia siapa? Dua tahun lalu Zayyan membuat mantan rekan bisnisnya hancur bahkan jadi melarat dalam kurun waktu tidak sampai dua bulan, dan kau ingin menjalin kerja sama dengan pria semacam itu? Pikir-pikir lagi, Mikhayla tidak akan mempertahanmu jika kau jadi gelandangan, Evan."
__ADS_1
Zayyan memang tidak memiliki pengaruh sebesar itu dibandingkan Keyvan. Akan tetapi, di mata Justin pria seperti Zayyan perlu diwaspadai karena bukti nyata sudah terlihat bahkan sempat menjadi pembicaraan di dunia bisnis dua tahun lalu. "Sudahlah, lebih baik jalin hubungan dengan orang yang baik-baik saja ... aku bukan meragukan kekuasaanmu, tapi dia juga perlu diwaspadai dan jangan asal, Evan."
"Dia juga orang baik, Justin. Andai aku di posisinya waktu itu tentu akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin tidak hanya harta yang aku buat lenyap ... Tapi nyawa mereka juga."
Justin membuang napas kasar, nampaknya memang dari dalam diri Keyvan yang tertarik hingga dia nekat tetap menemui pria itu meski keadaannya sedang tidak baik-baik saja. Hal ini menunjukkan betapa berbedanya perlakuan Keyvan pada Mr. Mark yang bahkan dia tunda beberapa bulan padahal dia bisa saja terbang ke London jika mau kala itu.
"Tapi tetap saj_"
"Justin, jika rekan bisnismu main curang bahkan meraup keuntungan yang tidak sedikit sendirian apa mungkin kau maafkan begitu saja? Kau yang mengatakan jika populasi manusia tidak tahu diri itu harus dipunahkan ... jadi dia tidak salah menurutku."
Pada akhirnya Keyvan memang tidak pernah bisa dipengaruhi meski sedekat apapun hubungan mereka. Baiklah, untuk saat ini Justin hanya bisa mengikuti kemauan Keyvan untuk menemaninya sebagai juru bicara di hadapan Zayyan. "Iya, kau atur saja kapan waktunya," ujar Justin menyerah pada akhirnya.
"Jaga sikapmu, awas saja sampai menunjukkan wajah datarmu itu, Justin ... dia rekan bisnisku, jadi tidak perlu pakai urat."
"Iya, Sayang iya." Justin bicara seraya memejamkan mata dan ini adalah perintah paling terpaksa menurutnya.
"Cuih, najish!!"
Sebelum melemparkan ponselnya ke atas meja, Keyvan sempat mengetik kalimat mutiara yang membuat Justin tertawa sumbang tanpa dosa. Kasihan sekali, tampaknya Keyvan tersiksa sekali lantaran tidak memiliki kemampuan untuk balik memakinya.
- To Be Continue -
__ADS_1