
Keyvan sekesal itu dengan kehadiran Alka yang masih saja mengejarnya. Sementara Mikhayka masih memikirkan nasib coklat yang berceceran di depan pintu gerbang. Peduli setan coklat itu berasal dari mana, dari kutub utara juga terserah.
Pria itu memejamkan mata seraya memijat pangkal hidungnya. Mikhayla masih memilih diam seribu bahasa di tepian tempat tidur, entah kenapa hati Keyvan panas luar biasa. Meski Alka belum sempat mendaratkan bibirnya, tetap saja aksi semacam itu membuat jiwanya tidak rela.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar, Mikhayla?"
Setelah beberapa menit diam kini Keyvan mengeluarkan suaranya. Mikhayla mengerutkan dahi, dia bukan lagi tawanan Keyvan dan ini juga rumahnya. Lantas, kenapa masih berlaku peraturan dilarang keluar gerbang itu, pikir Mikhayla.
Keyvan melepas dua kancing kemejanya, padahal ini masih pagi tapi dia mendadak panas. Mikhayla bingung sendiri, padahal alasan dia keluar juga karena khawatir sang suami mendapat tekanan batin dari papanya.
"Jawab, Mikhayla."
Suaranya lembut tapi berhasil membuat Mikhayla gelagapan. Biasanya dia tidak begini, kenapa suasana jadi seserius ini. Keyvan menghela napas kasar kemudian berdiri tepat di hadapannya, dari jarak yang lebih dekat begini dia bisa menangkap lebih jelas wajah bingung Mikhayla tengah mendongak menatapnya.
"Aku cuma khawatir, makanya tunggu di depan ... bilangnya cuma nganterin Papa tapi sampai satu jam, ya aku takutlah."
Sama sekali Keyvan tidak puas dengan jawaban Mikhayla. Karena yang dia lihat tidak demikian melainkan sang istri ada di luar bersama Alka entah apa yang mereka bicarakan. Hampir saja dia telambat datang, jika saja Keyvan tidak bergegas turun mungkin Alka benar-benar berhasil mengusiknya.
"Tapi yang aku lihat tidak begitu, apa saja yang kalian bicarakan?"
"Tidak ada, Alka cuma mau kasih coklat ... dan aku tidak menerimanya," jawab Mikhayla dengan suara bergetar dan mulai merasa serba salah padanya.
"Hanya itu?" selidik Keyvan curiga luar biasa.
"Iya memang hanya itu, lihat sendiri tadi, apa Alka membawa pisang atau semangka? Tidak, 'kan?" tanya Mikhayla membela diri karena dia merasa sama sekali tidak salah, dia sudah berkata jujur dan pertanyaan Keyvan hanya membuat kesabarannya terkikis.
"Bu-bukan begitu maksudku, Khayla."
__ADS_1
Keyvan menekan setiap kalimatnya, pertanyaan sang istri membuat pria itu kehabisan kata-kata. Memang benar ucapan Mikhayla, dia sadar betul jika Alka tidak membawa pisang ataupun semangka, hanya saja yang dia tanyakan tidak begitu maksudnya.
"Terus apa? Salah terus," gumam Mikhayla sepelan itu namun dapat Keyvan dengan jelas. Terlalu gemas dengan jawaban sang istri yang berhasil membuatnya sakit kepala, Keyvan menunduk dan mendekatkan wajahnya persis di hadapan Mikhayla.
"You know what I mean, Khayla ... aku suamimu, dan ketika ada pria lain yang datang pada istriku itu wajar saja jika aku bertanya, katakan tujuannya datang untuk apa?" tanya Keyvan sekali lagi, berharap kali ini dia akan lebih mengerti ucapannya.
"Memperbaiki hubungan, dan aku sudah katakan padanya untuk berhenti dan pergi ... tapi dia malah curi kesempatan seperti tadi, mana aku tahu kalau dia akan melakukan hal semacam itu," jelas Mikhayla setenang mungkin meski tatapan tajam Keyvan seperti hendak mengulitinya hidup-hidup.
"Sebelum aku datang, apa dia sudah berusaha melakukan hal semacam tadi?"
"Tidak."
Mikhayla menggeleng pelan sembari mendongak menatap sang suami, meski tatapan sang suami sudah setajam itu tetap dia memiliki keberanian untuk memperlihatkan gigi rapihnya, nyali Mikhayla memang sekuat itu pada kenyataannya.
"Kamu tidak berbohong?"
"Look at my eyes, apa ada kebohongan di mataku ini, Paduka?" goda Mikhayla dengan sengaja mengedipkan matanya beberapa kali seraya meraih jemari Keyvan. Ya, anggap saja dia tengah menjadi penggoda demi melunakan hati suaminya.
"Kamu menggodaku?"
"Tidak, aku bukan penggoda."
Mikhayla memalingkan wajah, niat hati membuat suaminya berhenti marah akan tetapi yang terjadi justru Keyvan salah sangka. Meski sama sekali tidak bermaksud menggoda, Keyvan terlanjur mengganggap istrinya berniat begitu hingga senyum tipis itu terbit bersamaan dengan Mikhayla yang tiba-tiba panik.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Menurutmu kenapa?" tanya Keyvan kian mendekat dan mendorong tubuh sang istri hingga berbaring sempurna di tempat tidur.
__ADS_1
Yang benar saja, pagi menjelang siang dan Mikhayla sama sekali tidak ada persiapan. Wajahnya kian panik kala Keyvan hendak menyingkap bajunya, benar-benar tidak tahu waktu.
"Jangan sekarang."
"Aku hanya ingin menggantikan ini semua, Khayla ... jangan membantah," titah Keyvan kemudian membuatnya diam sejenak, tatapan matanya memang selalu berhasil membius Mikhayla.
Modus sekali, ucapan awalnya hanya ingin mengganti tanda kemerahan yang sebenarnya sudah tersamarkan. Keyvan mengatasnamakan hal semacam itu padahal tujuan utamanya berbeda. Jika hanya hendak menghilangkan tanda kemerahan di dada, lantas kenapa dia memulainya dengan bibir segala, pikir Mikhayla tetap menolaknya.
"Manis." Keyvan tersenyum simpul seraya mengusap bibir sang istri yang kini basah dengan jemarinya.
"Memang ada rasanya?"
"Entahlah, aku ragu ... coba aku rasakan sekali lagi ya," tutur Keyvan lembut, menyesal sekali Mikhayla bertanya demikian karena hal ini menjadi celah Keyvan berbuat curang.
- To Be Continue -
Visual Cast
Keyvan Wilantara
Bang Evan emang rada nakal ya mon maap.
Mikhayla Qianzy
__ADS_1
Alka