Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 95 - Seperti Mimpi


__ADS_3

Sepanjang hari suasana hati Keyvan tidak ada baiknya sama sekali. Pria itu hanya diam bahkan makan siangnya saja tidak tersentuh sama sekali, sungguh hatinya memang selembut kapas hari ini. Justin dan Keny yang merasa bersalah turut merasakan hal yang sama. Ya, sama-sama tidak naffsu makan.


"Ehem, Van."


"Jangan dibahas, Ken ... aku sedang makan," ujarnya kemudian, padahal sejak tadi Keyvan sama sekali tidak makan melainkan hanya memandangi makanannya, bahkan mungkin saat ini dia tengah bertanya apakah pahaa ayam kesukaannya itu bersedia masuk ke perutnya atau tidak.


"Astaga, berhenti bersikap seperti wanita, Van ... lagipula Keny hanya bercanda, tidak ada maksud menyinggungmu."


Justin mulai kehabisan kesabaran, sejak dahulu Keyvan tidak begini bahkan hatinya sekuat baja. Tidak peduli sesakit apapun, sama sekali tidak pernah dia terlihat lemah begini. Akan tetapi, entah kenapa saat ini dia terlihat berbeda dan ini benar-benar menyebalkan.


"Iya, Van. Dulu kau tidak begini, selama kau merasa jantan kenapa sesedih itu?"


"Kau tidak berada di posisiku, Keny."


Memang tidak, mungkin jika keduanya berada di posisi Keyvan saat ini akan sama bahkan lebih dari itu. Dikhianati sang istri demi mencari kepuasan dengan pria lain memang sebuah kesakitan yang tidak tergambarkan dengan kata-kata.


"Sakit, Keny!! Bagaimana jika Mike benar? Aaah malu sekali rasanya."


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan ucapan pria itu ... mungkin belum waktunya, istrimu masih muda dan kebetulan tidak secepat Sonya," ucap Keny kembali berusaha menenangkan pria itu. Benar-benar mengejutkan, perkara kesuburan Keyvan mereka justru seakan memiliki masalah sebanyak itu.


"Benar, Van. Jangan terlalu bersedih, di antara kita barangmu paling bagus santai saja."


Uhuk-uhuk


Keny tersedak kala mendengar ucapan Justin yang seenak dengkul itu, tanpa pikir panjang dan demi membuat Keyvan senang dia berani asal bicara hingga membuat beberapa orang di sekeliling mereka menoleh seketika.


"Justin kau ...." Mata Keyvan mendelik bahkan mungkin sebentar lagi dia akan menusuk kedua bola mata Justin dengan sendok garpu.


"Ck, dipuji salah diremehkan juga salah. Maumu apa, Evan?" tanya Justin sebal sendiri, padahal dia sudah berada di pihak Keyvan. Akan tetapi sejak tadi pira itu justru kian brutal hingga Justin memilih menyerah dan enggan untuk membelanya.


"Aku sedang tidak mau apa-apa, hanya kalian tolong berhenti membahas hal ini ... hatiku tersayat-sayat rasanya."

__ADS_1


Dia bicara sedatar itu tapi percayalah Keny justru sebal sekali mendengarnya. Tanpa dia pedulikan sama sekali, kini pria itu fokus dengan makanan yang ada di hadapannya. Jika terus memedulikan Keyvan, sampai tahun juga tidak akan berubah jika bukan dari hatinya yang menginginkan.


"Lanjutkan makanmu, itu pahaa kiri, Van."


"Terserah," gumam Keyvan tidak lagi peduli candaan Justin yang masih sempat-sempatnya membahas masalah pahaa ayam di piringnya.


Hingga sore suasana hati Keyvan masih sama, bahkan ketika Mikhayla menghubunginya lewat panggilan video, pria itu hanya tersenyum ketika di hadapan Mikhayla saja. Setelah itu, dia kembali seperti tidak memiliki keinginan untuk hidup sama sekali.


Kegalauan Keyvan berlanjut hingga perjalanan pulang. Kali ini, Wibowo yang terkena imbas kemarahannya. Dia yang sejak tadi fokus mengemudi dibuat terkejut kala Keyvan memintanya lebih cepat namun nadanya sedikit meninggi. "Cepat sedikit bisa kan? Baru belajar mengemudi atau bagaimana?!" omel Keyvan sebal luar biasa, hatinya terlalu kacau hingga tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.


Wibowo yang takut jika Keyvan kian meradang jelas saja menambah kecepatannya hingga perjalanan yang seharusnya ditempuh cukup lama itu dapat ditaklukan dalam waktu kurang dari dua puluh menit.


"Terima kasih, maaf untuk hari ini," ungkapnya sebelum pergi, ya sadar betul jika beberapa saat lalu dia sedikit keterlaluan. Tidak seharusnya Wibowo jadi sasaran kemarahan tanpa melakukan kesalahan apapun.


Dengan langkah gontai Keyvan memasuki kediaman Mikhail yang kini tampak sepi. Mungkin mereka berkunjung ke rumah Kanaya, pikir pria itu tidak terlalu memusingkannya. Lagipula, jika sepi dia sedikit lebih baik karena saat ini jiwanya tidak sebaik itu.


Mikhayla adalah tujuannya pulang, dia ingin memeluk erat tubuh sang istri sebagai penghilang rasa sedihnya. Persis seorang anak TK yang hendak mengadu akibat diejek teman sekelasnya. Ya, Mikhayla adalah tempat bagi Keyvan meluapkan semua yang dia rasakan.


.


.


.


Tiba di kamar, istrinya juga tidak ada. Hanya ada ponsel Mikhayla yang tergeletak di tempat tidur, gemericik air sejenak membuat pria itu sedikit tenang. Artinya memang sang istri ada di kamar.


Sembari menunggu sang istri selesai, Keyvan menghempaskan tubuhnya seraya meraih ponsel Mikhayla tanpa izinnya. Sesekali menyentuh barang istri semaunya tidak masalah, pikir Keyvan.


"Ck, punya suami setampan ini tapi di ponselnya pria lain," kesal Keyvan lantaran Mikhayla menggunakan foto pria lain sebagai tampilan di layar utamanya.


Meski matanya fokus ke ponsel tapi telinganya bisa mendengar dengan jelas jika kini sang istri sudah selesai mandi. Langkah kakinya terdengar mendekat namun Keyvan sama sekali tidak melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Sayang?" Suara lembut Mikhayla menyapanya, namun dia yang terlanjur sebal dengan foto pria lain itu memilih untuk tidak menyapa Mikhayla sehangat biasanya.


"Hm?"


"Ih kenapa cuma begitu? Aku salah apa?"


Seperti biasa, hanya dengan mengenakan handuk dia tanpa rasa takut menghambur ke pelukan sang suami yang kini tengah terbaring. Tidak peduli meski Keyvan sejak tadi biasa saja padanya, yang jelas Mikhayla ingin meluluhkan wajah datar sang suami.


"Hari ini gimana kerjanya?" tanya Mikhayla manis sekali, ini baru pertama kali dan Keyvan mengerutkan dahi.


"Seperti biasa, tidak ada yang istimewa. Kamu?" Keyvan balik bertanya meski dia masih sedikit sebal pada sang istri saat ini.


"Hari ini aku lebih baik dari hari-hari sebelumnya, bahkan lebih dari istimewa," ungkap Mikhayla mengulas senyum hangatnya.


"Oh iya? Kenapa memangnya?"


"Sepertinya kamu harus lihat ini, coba geser lagi fotonya." Mikhayla meminta pria itu untuk menelusuri galeri fotonya, sepertinya mata Keyvan akan sedikit berubah sebentar lagi.


"Lihat, lucu kan?" Wajah Keyvan sontak berubah kala melihat foto yang Mikhayla tunjukkan, dia yang tengah memegang benda kecil itu dengan senyum hangat dan mata yang terlihat berkaca-kaca tadi pagi.


"Khay? Ini apa maksudnya?"


Keyvan butuh waktu untuk memahaminya, sengaja dia memperjelas foto itu berkali-kali hingga jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasa.


"Testpack, masa begitu saja bingung."


"Bu-bukan begitu maksudku, ini hasil tes kamu atau Mama?" tanya Keyvan bergetar, sungguh saat ini perasaannya berkecamuk bahkan deru napasnya tidak normal.


"Aku, masa Mama."


"Serius?! Kamu tidak bercanda, 'kan, Sayang!!"

__ADS_1


Terlalu antusias, Keyvan bahkan bangun tanpa aba-aba hingga membuat tubuh sang istri hampir saja terjatuh dari ranjang. Beruntung saja Keyvan cepat menarik tangannya, "Biasa saja kan bisa!!" sentak Mikhayla ketar-ketir seakan kehilangan setengah nyawanya.


- To Be Continue -


__ADS_2