Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 70 - Sama Saja


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, pasca membuat sang papa tersedak bolu kukus, wanita itu benar-benar tidak merasa bersalah dan kembali ke kamar begitu saja. Tentu saja dia tidak melupakan sang suami, demi membuat sang mama tidak curiga, Mikhayla hanya mengambil beberapa potong saja.


Kini malam tiba dan Mikhayla kian resah, wajahnya sudah tidak baik-baik saja dan gurat kesedihan begitu nyata. Ya, dia harus menerima fakta bahwa ini adalah saatnya mereka berpisah, pria itu sudah siap dengan pakaian serba hitam yang tidak lain adalah baju semalam.


"Kenapa?" tanya Keyvan kala sang istri menarik pergelangan tangannya ketika hendak melangkah menuju balkon kamar.


"Kita benar-benar harus berpisah? Kenapa tidak di sini saja sampai Papa berhenti marah, buktinya seharian kita tidak ketahuan."


Keyvan hanya tersenyum simpul kala sang istri mencebikkan bibirnya. Entah kenapa Keyvan sungguh menyukai hal ini. Dia benar-benar merasa dibutuhkan seorang wanita kala bersama Mikhayla, sungguh demi apapun batin Keyvan merasa dia benar-benar sempurna.


"Jangan, Sayang ... sabar ya, besok kita sudah sama-sama dan tidak kucing-kucingan lagi seperti ini." Keyvan berusaha menjelaskan dengan suara lembutnya, meski sebenarnya dia sedikit tidak rela jika harus berpisah malam ini dari sang istri.


"Janji ya?"


Keyvan megangguk dan mengaitkan kelingkingnya di kelingking Mikhayla. Seumur hidup baru kali ini dia harus berjanji dengan cara seperti itu, sungguh hal yang tidak biasa dan unik bagi Keyvan.


Pria itu mempersiapkan diri sebaik-baiknya, kembali berpakaian seperti penjahat dengan perasaan yang kacau dan begitu sulit dia utarakan. Di samping kerinduan yang memang begitu besar, Keyvan juga tidak tega meninggalkan sang istri sebenarnya. Akan tetapi, dia tidak mungkin tetap bertindak seperti ini, pikirnya.


"Hati-hati, perhatikan langkahnya ... jangan sampai salah," tutur Mikhayla panjang lebar padahal tanpa dijelaskan Keyvan sangat-sangat paham.


"Siap, Ibu negara." Keyvan menepuk pelan pundak Mikhayla, meyakinkan sang istri jika dirinya tidak perlu dikhawatirkan.


Sementara di sisi lain, tanpa Mikhayla ketahui Mikhail sama sekali belum tidur. Melainkan tengah mengawasi CCTV di ruang kerjanya, Pria itu menarik sudut bibir seraya tepuk tangan beberapa kali.


"Hebat! Besar juga nyalinya."

__ADS_1


Cerita Zia tentang putrinya yang makan banyak dan memilih mandiri tanpa bantuan Rani tadi siang membuat Mikhail berpikir macam-macam. Ditambah lagi, kamar putrinya yang sengaja dikunci dari dalam semalam dan Mikhayla yang begitu betah di kamar seharian ini semakin membuat Mikhail yakin jika memang ada yang tidak beres.


Mikhail memantau cctv yang menampilkan area Balkon kamar Mikhayla. Semenjak sang putri beranjak dewasa Mikhail menghargai privasinya hingga pengawasan sedikit diminimalisir dan cctv hanya sebatas bagian luar kamarnya saja.


Cukup mudah bagi Mikhail untuk menangkap gerak-gerik Keyvan. Usai makan malam Mikhail mencari kebenaran demi menjawab kecurigaannya, tidak butuh waktu lama dia sudah dibuat terkekeh dengan apa dilakukan pasangan itu.


Sama-sama licik, Mikhail ingin melihat seberapa besar keberanian Keyvan untuk bertindak dengan caranya. Dan kini, ketika melihat menantunya seperti hendak pergi, Mikhail sontak beranjak dari keluar.


.


.


.


"Aku pergi, Mikhayla."


Brugh


"Masuklah, aku baik-baik saja."


Keyvan mendongak dan meminta sang istri yang kini tengah melihatnya dari atas dengan kekhawatiran yang begitu dalam. Kebetulan saat ini Bastian dan Rahman tidak curiga karena alunan musik dangdut yang mereka dengarkan cukup keras, jadi Keyvan sedikit leluasa untuk pergi.


"Hati-hati ya." Mikhayla melambaikan tangan dan menatapnya dengan mata yang mulai membasah, sungguh dia sekhawatir itu Keyvan kenapa-kenapa.


"I love you, tidur yang nyenyak, Mikhayla."

__ADS_1


Senyum hangat Keyvan berikan untuk terakhir kali sebelum pergi. Akan tetapi, wajah Mikhayla terlihat berbeda dan tidak menjawab ucapannya. Keyvan bingung dengan perubahan Mikhayla yang begitu cepat tanpa ada alasannya.


"Khay? Kamu kenapa?" tanya Keyvan heran, pria itu kian takut kala mata Mikhayla membulat sempurna dan bibirnya terlihat sulit untuk bicara.


"Mikhayla ... jangan membuatku takut, apa yang kamu lihat? Jin? Atau apa?" Keyvan khawatir jika yang Mikhayla lihat adalah makhluk ghaib, sontak pria itu menoleh dan benar apa yang dia lihat lebih menakutkan dari makhluk ghaib hingga sukses membuat jantung Keyvan seakan berhenti berdetak sesaat.


"Pap-papa?"


"Apa kakimu tidak kuat naik tangga sampai harus naik seperti monyet, Evan?" tanya Mikhail datar dengan mata tajam seolah hendak menguliti menantunya.


Mikhail tidak semudah itu dibodohi, dan Keyvan juga tidak semudah itu diatur hingga terjadilah hal begini. Mikhayla sudah setakut itu Mikhail akan marah, namun yang terjadi justru berbeda.


"Masuklah."


"Hah? Masuk kemana, Pa?" Keyvan bingung padahal ini adalah hal yang baik sebenarnya, pria itu butuh beberapa waktu untuk mencerna ucapan sang papa.


"Masuk ke perutku!! Pertanyaanmu konyol sekali," sentak Mikhail berlalu usai menghela napas kasar, dia akui kekuasaannya memang sudah kalah di mata Mikhayla.


"Iya, Pa." Keyvan menarik sudut bibir seraya menatap punggung sang papa yang kian menjauh.


Dia mendongak menatap Mikhayla seraya berseru "Iyes!!" tanpa suara begitupun dengan sang istri. Keyvan yang terlalu bahagia menjadi lupa diri dan berniat naik dengan cara yang sama seperti sebelumnya.


"Hei-hei, Evan!!! Lewat pintu!!" Suara Mikhail menggema hingga Bastian dan Rahman baru menyadari jika sudah terjadi keributan semacam itu.


"I-iya, Pa ... Maaf."

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2