
Malam harinya bertenaga banyak sekali, pagi harinya Mikhayla dibuat lemas lantaran perutnya tidak bisa diajak kompromi. Keyvan bahkan belum tega untuk melakukan hal lain demi menjaga sang istri, istrinya benar-benar mual dan matanya bahkan terlihat sendu.
"Kita ke dokter saja ya?"
Mikhayla menggeleng, hal semacam ini wajar saja dan Keyvan terlalu khawatir padanya. Sudah kesekian kali dia keluar kamar mandi demi mengeluarkan seluruh isi perutnya, jika keadaannya begini akan sangat sulit menyembunyikan keadaannya dari sang papa.
"Tapi kamu pucat, Sayang ... kalau kenapa-kenapa bagaimana?"
Keyvan bicara selembut mungkin, dia terkejut karena memang kehamilan Mikhayla berbeda jauh dari Liora. Sebagai pria yang tidak memiliki pengalaman, pikiran Keyvan jelas hanya tentang hal yang tidak baik.
"Namanya mual ya pucat, kalau aku segar bugar tidak akan begini ... jangan khawatir, ini sudah selesai dan aku baik-baik saja. Kata Mama yang begini adalah nikmat dan harus disyukuri," tutur Mikhayla tetap saja tidak membuat Keyvan lega, pria itu memejamkan mata dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Khay, tidak selam_"
"Uweeekk."
Selesai apanya, ucapan Keyvan baru setengah wanita itu kembali membekap mulutnya dan berlari ke kamar mandi. Keyvan mengikuti langkahnya dan memijat tengkuk leher Mikhayla pelan-pelan, dia yang tadinya tampak tegar dan bijaksana pada akhirnya menangis dalam pelukan sang suami.
"Jahat, kenapa belum berhenti juga mualnya."
Sudahlah, memang tidak seharusnya Keyvan berharap istri kecilnya ini akan benar-benar bijaksana. Baru beberapa menit lalu dia berbicara masalah nikmat yang harus disyukuri, kini persis bayi yang mengeluh perutnya tidak nyaman.
Jika sudah begini mana mungkin Keyvan bisa bekerja dengan tenang. Sejak beberapa waktu terakhir memang sudah terlihat mual, tapi tidak separah pagi ini. Keyvan membopongnya kembali ke tempat tidur.
"Bajunya ganti, parfum kamu buat mual," keluh Mikhayla menahan napasnya, sebab awal dia mual memang ketika Keyvan menggunakan parfum ke beberapa titik di tubuhnya, Mikhayla yang merasa benar-benar mual jelas saja tidak ingin menyiksa diri dan meminta Keyvan terus terang.
"Iya, aku ganti sekarang juga."
Keyvan bergerak cepat dan benar-benar melakukannya detik itu juga. Dia berlalu membuka kemeja dan menggantinya dengan kaos hitam polosnya, lagi dan lagi dia harus cuti dengan alasan istrinya hamil.
__ADS_1
Mata Mikhayla sampai berair, pria itu sungguh merasa kasihan pada sang istri hingga dia mengecupnya berulang kali. Keyvan memanggil Rany untuk membawakan air hangat, mungkin saja cara itu bisa mengurangi mualnya walau sedikit, pikir pria itu.
"Kenapa bajunya ganti? Kan bukan hari libur."
"Hari ini aku menemanimu saja."
Mikhayla terlihat biasa saja, padahal memang itu kemauannya. Wanita itu duduk dengan minum air hangat yang baru saja Rani bawakan untuknya. Akan tetapi, perubahan Mikhayla dapat diketahui wanita itu hingga Rani lupa jika di sisinya ada seorang Keyvan.
"Non, perlu saya kasih kabar ke nyonya?"
"Tidak perlu, istriku baik-baik saja. Keluarlah, aku yang akan menjaganya."
Terkejut, Rani lupa jika dia tidak sedekat itu pada Keyvan secara pribadi. Wanita itu segera berlalu keluar, meninggalkan pasangan suami istri yang sepertinya tidak suka siapapun ikut campur.
"Jangan kasar begitu, mbak Rani cuma nanya."
"Kasar?"
Bagi Keyvan itu tidak kasar sama sekali, dia hanya bicara sebagaimana cara dia memperlakukan orang lain. Jika pada Mikhayla berbeda, ya jelas itu karena cinta. Bahkan di awal pertemuan Mikhail saja merasakan sendiri bagaimana etika seorang Keyvan.
"Itu kasar namanya, bisa bilang baik-baik. Matanya juga jangan begitu, orang takut lama-lama."
"Hahaha biarkan saja, Sayang."
Itu memang tujua Keyvan, disegani dan ditakuti hanya karena tatapan. Sejak dahulu dia begitu, bahkan Keny dan Justin saja kerap mendadak diam jika Keyvan sudah mendelik.
.
.
__ADS_1
.
Jika saat ini Keyvan tengah mengkhawatirkan sang istri di kamar. Di sisi lain Zia juga merasakan hal yang sama seperti Keyvan, ya, khawatir luar biasa tentang pasangan.
"Aduh, Mas!! Kamu makan apa sebenarnya kemarin?" tanya Zia seraya mengolesi perut Mikhail dengan minyak angin, sejak bangun pagi pria itu mendadak mual bahkan kini seakan habis tenaga.
"Tidak makan aneh-aneh, Zia. Cuma makan rambutan, itupun tidak banyak," ujar Mikhail membela diri, kemarin memang sempat makan rambutan yang diberikan Rahman, akan tetapi hanya dua dan itu tidak mungkin jadi sebab mualnya.
"Kita ke rumah sakit saja gimana? Aku khawatir, Mas, sekarang banyak penyakit."
Mikhail tidak pernah sakit biasanya, apalagi hanya masuk angin biasa. Akan tetapi, kenapa pagi ini dia mendadak mual bahkan berkali-kali keluar kamar mandi.
"Sayang, kamu tidak sedang hamil, 'kan?" tanya Mikhail tiba-tiba dengan suara lemahnya, Zia terperanjat kaget dan panik mendengar pertanyaan itu.
"Ih astaga, tidak Mas!! Sudah kukatakan jangan diharapkan lagi, aku tidak sanggup jika harus hamil lagi," tutur Zia meminta pengertian, ingin sekali dia pukul kepala Mikhail agar sadar jika dirinya sudah tua.
"Aku pikir ini kehamilan simpatik, coba kIta periksa hari ini, Sayang."
Pikiran Mikhail terlalu jauh, sementara Zia tampak berpikir tajam. Jika memang itu sebabnya, mungkinkah berhubungan dengan Mikhayla? Akan tetapi, kenapa justru Mikhail yang merasakan, pikir Zia.
"Halah ada-ada aja kamu, Mas. Kamu tu masuk angin, kembung begitu ... paling sebentar lagi juga sembuh." Sama sekali tidak kembung sebenarnya, akan tetapi memang perut Mikhail cukup beras saja.
"Dari san_uweeeeek ... Aduh ya Tuhan, kenapa denganku? Apa mungkin aku mempunyai sakit kronis? Zia, kalau terjadi apa-apa jangan pernah berpikir untuk menikah lagi ya, Sayang. Tolong jaga anak-anak kita, semua harta juga sudah atas nama kamu." Mulai, menciptakan drama sendiri yang ujung-ujungnya membuat pikiran Mikhail tidak terbatas lagi.
Baru juga mual, dia sudah begini. Apalagi yang lainnnya.
- To Be Continue -
Hai-hai semua, boleh aku minta saran dulu? Untuk karya selanjutnya buat Justin atau Zean/Sean. Untuk Zayyan tetap othor utamakan ya, ga ada yang dikesampingkan sebenarnya. Buat yang belum ke Zayyan cek gih, udah 21 eps. Timun suri ga kalah anu dari labu aer💋
__ADS_1