Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 49 - Ngebet (Hamil)


__ADS_3

"Tanda tangan di sini."


Justin hanya bisa terdiam kala Keyvan benar-benar menagih janjinya. Sebuah penthouse di tengah ibu kota yang ditaksir milyaran Keyvan dapatkan dengan mudah, mau tidak mau seorang Justin yang sempat berjanji akan memberikan apapun untuk Keyvan beberapa saat lalu harus menurutinya.


"Bukankah ini terlalu tega? Kau memerassku jika begini caranya, Van."


Pria dengan manik hazel itu mengusap wajahnya kasar kala selesai membubuhkan tanda tangan disurat perjanjian itu. Siapa sangka jika kalimat spontan yang Justin ucapkan nyatanya Keyvan tuangkan dalam sebuah perjanjian untuk menjebaknya.


"Bukankah kau ingat jelas bagaimana prinsip seorang pria sejati, Justin? Tepat janji ... jangan lupakan fakta itu."


Baiklah, kali ini memang Justin kalah. Dia yang jelas harus mengalah dan merelakan saldonya terkuras dalam waktu secepat itu. Anggap saja sebagai hadiah pernikahan, pikir Justin agar tidak terlalu berat.


"Terserah kau saja, aku pulang."


Keyvan mengangguk pasti, dia tertawa sumbang kala menyadari bagaimana ekspresi sahabatnya. Terlihat jelas jika tengah berusaha menahan amarah, bahkan mungkin Justin tengah meratapi hidupnya yang terancam melarat. Menyesal sekali dia nekat mendatangi kediaman Keyvan hanya untuk menuntaskan rasa penasaran.


Selesai menguras harta Justin, pria itu kembali ke kamar untuk menemui istrinya. Ya, seperti yang dia duga saat ini Mikhayla sudah terlihat segar dengan pakaian tidur motif ular piton yang membuat Keyvan terkesiap lantaran geli luar biasa.


"Kenapa mukanya begitu banget? Udah dibilang aku tu memang cantik dari lahir ... biasa saja jangan shock begitu," tutur Mikhayla lagi-lagi memuji dirinya sendiri, sama sekali tidak sadar jika tatapan Keyvan adalah sebuah tatapan kagum, melainkan ketakutan.


"Sejak kapan bajumu ada yang begitu?"


Seingat Keyvan dia tidak memerintahkan Wibowo membelikan pakaian aneh-aneh begitu untuk istrinya. Demi apapun dia geli bahkan ubun-ubunnya terasa panas. Jika Mikhayla begitu, jangankan memeluk, mendekat saja dia enggan.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? Kado ulang tahun dari Papa tahun kemarin ... belinya di LA tahu."


Sama sekali Keyvan tidak bertanya, mau belinya di kutub utara juga terserah. Heran sekali dengan selera keduanya, kenapa sama-sama aneh, pikir Keyvan bingung sendiri.


"Ganti," titahnya tak terbantahkan, jujur saja dia geli.


Sejak dahulu dia benar-benar tidak bisa berhadapan dengan hewan melata yang satu itu, Keyvan tidak kuasa menahannya karena menurut dia itu adalah hewan paling menjijikkan di dunia.


"Kenapa? Ini lucu padahal."


Mikhayla merasa pakaiannya tidak salah, melainkan mata Keyvan yang tidak berguna. Akan tetapi, mata tajam sang suami membuatnya mengalah dan mengganti dengan yang lebih bersahabat dengan mata manusia normal pada umumnya.


Bibirnya yang tidak henti mencebik terlihat begitu menggemaskan hingga membuat Keyvan ingin menariknya dari kejauhan. Setelah selesai mengganti pakaiannya, barulah Mikhayla menghampiri sang suami yang kini duduk di sofa tepat depan tidurnya.


"Udah."


"Kenapa dekat-dekat?" tanya Keyvan sedikit bercanda lantaran sang istri tiba-tiba duduk begitu dekat di sisinya.


"Aku mau tanya sesuatu," ucap Mikhayla dengan pipinya yang kini bersemu merah.


"Apa? Tanyakan saja."


"Tadi keluarnya beneran di dalem?" tanya Mikhayla sedikit berbisik padahal di dalam kamar hanya ada mereka berdua.

__ADS_1


Mikhayla menatap serius wajah Keyvan hingga pria itu mengalihkan wajah beberapa saat. Aneh sekali gadis kecil seperti Mikhayla bisa membuat Keyvan salah tingkah.


"Ada-ada saja pertanyaanmu, menurutmu dimana? Apa tidak berasa?" Keyvan bingung sendiri dengan pertanyaan frontal Mikhayla, anehnya sang istri justru tersenyum seakan tidak ada beban dan kekhawatiran sama sekali akan sesuatu di masa yang akan datang.


"Dalem sih, soalnya hangat ... aku hanya memastikan, tidak pakai pengaman kan?"


Jika biasanya pria yang akan berani bicara demikian, nampaknya berbeda dengan Mikhayla. Dia yang bertanya begini kenapa Keyvan yang merinding, sungguh baru kali ini dia mengetahui jika seorang wanita ada yang berani bersikap seperti ini.


"Lupa, Mikhayla ... maaf."


Mikhayla sama sekali tidak marah, berkali-kali Keyvan selalu menggunakan benda itu sebelum mereka bermain dan dia sedikit tidak suka sebenarnya. Keyvan memperlihatkan wajah penuh sesal dan berkali-kali minta maaf pada sang istri yang sebenarnya menerima perlakuan Keyvan tadi siang.


"Kenapa minta maaf? Berkali-kali minta maaf, apa hal semacam itu seakan dosa buat kamu? Aku istri kamu, 'kan?"


Mikhayla benar-benar gagal memahami keputusan Keyvan yang memilih menggunakan pengaman setelah malam pertama. Jika hanya khawatir perihal pendarahan, seharusnya Keyvan tidak perlu menggunakannya setelah sembuh total, pikir Mikhayla.


"Belum mau punya anak dari aku ya? Padahal bilangnya suka anak kecil, tapi kenapa seakan ditunda-tunda."


Keyvan begitu baik dan hangat sebenarnya, Mikhayla selalu berhasil dibuat melayang dengan semua perlakuannya. Akan tetapi, entah kenapa untuk hal yang satu ini hatinya sedikit sakit. Padahal, dia sendiri bahkan belum memastikan perasaannya pada Keyvan bagaimana, sungguh dia sendiri bingung akan perasaannya.


"Bukan belum mau, Khay ... aku hanya_"


"Apa? Bukan belum mau, tapi tidak mau ya? Apa salahnya? Apa karena aku terlalu manja? Itu semua bisa diubah dengan sendirinya ... aku bisa belajar dan bisa tanya-tanya sama Mama atau Mbak Rani, hal semacam ini tidak begitu sulit kan?"

__ADS_1


Istrinya ngebet hamil, sementara di sisi lain dia juga khawatir lantaran usia Mikhayla yang masih begitu muda. Bukan hanya Mikhail yang khawatir, melainkan dia juga sebenarnya.


......... Lanjut


__ADS_2