
Hai-hai Bestot, ini bukan episode author mau ngiklan dikit💋
Judul : Wanita Milik CEO
Author : Ranty Yoona
Blurb
Lima tahun yang lalu, Eden Kennard Anderson menjalin hubungan dengan wanita berparas cantik yang bernama Arabella Anastasya Walker, putri dari Keluarga Walker yang merupakan salah satu keluarga kaya raya di Kota Boston - Massachusetts Amerika Serikat. Karena berbeda kasta membuat hubungan mereka di tentang keras oleh Keluarga Walker. Hingga pada akhirnya wanita itu memutuskan dirinya secara sepihak dan bertunangan dengan pria
lain yang dijodohkan dengan wanita itu.
Lima tahun kemudian, Arabella kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya Eden Kennard Anderson. Pria yang dahulu
di pandang rendah kini menjelma menjadi salah satu pria terkaya di Kota New York. Memiliki paras tampan dan dijuluki pria sejuta pesona. Jabatannya yang sebagai seorang CEO membuatnya begitu diinginkan kaum wanita, termasuk seorang model cantik yang kini telah menjadi kekasihnya, Catherine Wilson.
"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah bisa lepas dariku, Bella. Kau hanya milikku! Milikku!" - Eden -
"Kau Gila, Ed. Aku bukan milikmu lagi dan kau sudah bertunangan!" - Arabella -
__ADS_1
Cuplikan Eps
5 tahun yang lalu, di waktu malam yang sangat dingin tidak terlihat satu bintang pun di langit, sepasang kekasih tengah duduk saling bersisian di sebuah taman yang tidak jauh dari kediaman sang wanita. Keduanya tampak kacau jika dilihat dari raut wajah mereka yang sendu serta tatapan yang kosong. Nampak sisa air mata yang membasahi pipi putih mulus sang wanita cantik tersebut.
"Kenapa kau melakukan ini kepadaku, Bella? Kau sudah tau jika aku benar-benar mencintaimu." Pria itu berucap dengan suara yang parau, pandangannya tertunduk dan menangkupkan kedua tangannya seraya menahan rasa sesak di rongga dadanya.
"Maafkan aku, Ed. Aku tidak memiliki pilihan lain, kau bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." Sama halnya dengan pria tampan yang berada di sampingnya, wanita itu pun terlihat sangat sedih harus melepaskan kekasih yang sudah dua tahun bersama dengannya.
"Tatap mataku Bella, apa kau benar-benar yakin dengan ucapanmu itu?" Eden menangkupkan kedua pipi Bella dengan kedua telapak tangannya, akan tetapi Bella menepisnya dengan kasar tanpa berminat menjawab pertanyaan kekasihnya, sehingga membuat Eden semakin frustasi, ia tidak tau harus bagaimana lagi meyakinkan Bella untuk memperjuangkan cinta mereka.
Namun Eden tidak menyerah begitu saja, ia memegang kedua bahu kekasihnya itu. "Dengarkan aku, aku akan berusaha menjadi seperti apa yang kedua orang tuamu inginkan, aku akan membahagiakanmu dengan caraku. Tapi satu hal yang ku inginkan, jangan pernah pergi dariku Bella, jangan!" Eden menekankan perkataannya. Sungguh ia tidak dapat membayangkan jika dirinya harus berpisah dengan Arabella, kekasihnya yang teramat ia cintai. Terlebih ia sudah kehilangan ibunya, dan ia tidak ingin kembali merasakan kehilangan. Tidak, wanita itu terlalu berharga untuk ia lepaskan.
Ingatan Eden menerawang pada saat pertemuan awal mereka. Pertama kali mereka bertemu saat di universitas yang sama, hanya wanita di hadapannya itu yang tidak pernah memandang rendah dirinya yang tidak memiliki apa-apa. Sehingga menghadirkan rasa nyaman di hati Eden dan selalu ingin berada di sisi wanita itu. Terlepas dari rasa nyaman yang diberikan wanita itu, Eden benar-benar mencintai kekasihnya. Tidak. Sampai kapanpun ia tidak akan melepaskan wanita yang begitu memiliki arti penting dalam hidupnya.
Bella beranjak dari duduknya. Ia tidak ingin goyah akan keputusannya. "Maafkan aku, maaf..." lirihnya. "Semoga kau bahagia Eden..." Sungguh sulit mengatakannya seolah dadanya tertancap ribuan belati. "Dan aku akan selalu mencintaimu Eden," lanjutnya kemudian dalam hati dan berlalu pergi.
Berulang kali Bella mengucapkan kata maaf lantaran hubungan mereka harus berakhir. Menahan gejolak di dadanya yang kian sesak melihat pria itu memohon, merendahkan diri hanya untuk dirinya. Akan tetapi Bella sudah bulat akan keputusannya. Sungguh, ia pun sangat berat meninggalkan kekasih yang ia cintai selama ini dan harus mengorbankan perasaannya untuk bertunangan dengan pria asing yang di jodohkan dengannya.
Namun ia tidak pedulikan perasaan yang tidak kalah hancur, untuk saat ini ia hanya ingin Daddy-nya selamat dan berjuang untuk pulih. Katakan jika dirinya egois, ia ingin memilih Eden tetapi ia juga menyayangi keluarganya. Tanpa menoleh ke belakang, Bella berjalan menjauh, menulikan pendengaran ketika Eden berteriak memanggil-manggil namanya.
Sekuat hati, Bella berusaha untuk tidak menoleh, menyeret semakin jauh langkah kakinya dengan berat meninggalkan Eden yang masih mematung di tempatnya. Ingin rasanya Bella merengkuh tubuh kekasihnya itu, akan tetapi ia tidak bisa melakukannya. Sehingga ia hanya bisa menangis dalam hati, memegang dadanya yang kian sesak. Jika ia memiliki pilihan, maka saat ini juga ia ingin memilih hidup bersama Eden, namun demi nyawa Daddy-nya, ia harus rela berkorban melepaskan cintanya.
__ADS_1
Ya, ini adalah keputusan yang terbaik, karena sekeras mereka berjuang, sekeras itu juga mereka akan dipisahkan.
"BELLAAA!!!!" Eden berteriak, nyaris merusak pita suaranya. Ia menjatuhkan kedua lututnya di tanah berumput dan melayangkan tangannya ke udara, menghempaskan rasa sesak di dadanya dan membiarkan air dari langit menghujani tubuhnya. Seolah tengah mewakili perasaannya saat ini, langit pun bahkan tahu jika dirinya tengah di rundung kesedihan.
Dua minggu yang lalu Eden baru saja kehilangan sosok seorang ibu. Pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya menyusul sang ayah yang sudah lama pergi. Dan kini kekasihnya yang selama ini selalu berada di sisinya, selalu mendukung dirinya pun telah pergi meninggalkan luka yang dalam dan lebih memilih bertunangan dengan pria lain yang sepadan dengan Keluarga Walker. Sungguh, kehilangan dua sosok wanita di dalam waktu berdekatan membuat Eden mengerang frustasi.
"AARRGGHH !!" Eden tidak kuasa menahan rasa sakit hatinya. Bagaikan ribuan jarum menghujam jantungnya, sesak dan sulit bernapas. Tangan Eden terkepal memukul berulang kali tanah yang di pijak. Kini tujuan hidupnya telah lenyap, dalam sekejap mata, wanita itu mampu menghancurkan seluruh jiwa dan raganya.
Dengan mudahnya wanita itu memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Bukankah sebelumnya mereka telah sepakat akan berjuang bersama, tapi kini seolah semua itu tiada arti.
Sekecil harapan membenami hati Eden, berharap wanita itu memilih dirinya. Tetapi apa daya, pria itu hanya mampu menangis, tertawa nanar akan kebahagiaan yang tidak berpihak padanya.
***
Keesokan harinya, di dalam gedung hotel yang mewah itu, acara pertunangan yang berlangsung hanya sebagai kamuflase, Arabella berusaha tersenyum untuk menutupi luka. Menerima seseorang di sampingnya yang jelas-jelas tidak ia cintai. Pertunangan itu tidak berarti apa pun untuknya. Baginya hingga mati, hanya Eden yang menempati ruang hatinya, meskipun ia tahu bahwa kini Eden sudah membenci dirinya.
Benar adanya, kini di depan gedung hotel mewah tersebut nampak Eden yang menatap nanar dengan penuh amarah dan kebencian. Terlebih ketika menyaksikan pesta itu berlangsung dengan meriah dan mewah. Tangannya terkepal kuat hingga goresan kuku jemarinya meninggalkan bekas luka, tetapi luka itu tidak sebanding dengan luka di hatinya. Rahangnya mengeras, bahkan membiarkan air mata lolos dari kelopak matanya tanpa permisi.
Eden bertekad akan membuat wanita itu menyesal di kemudian hari. Ia sudah kehilangan ibunya serta wanitanya. Kini ia harus melangkah maju ke depan. Demi dirinya agar tidak ada lagi yang dapat menghinanya serta membuat orang-orang yang sudah menginjak harga dirinya akan mendapatkan balasan yang setimpal.
"Kau akan menyesalinya, Bella...." gumamnya dengan penuh kebencian. Rasa cinta itu masih ada, akan tetapi Eden bertekad akan membuat wanita itu menyesal di kemudian hari. Sorot matanya yang tajam tidak berpindah, hingga berdiri beberapa menit lamanya, Eden tidak tahan berada disana lebih lama lagi. Cukup hari ini saja ia mengenang wajah cantik kekasihnya. Karena setelah ini ia akan mengubur hati dan kenangan bersama dengan kepergian wanita itu.
__ADS_1
Eden kemudian menghembuskan napas kasar seolah rasa sakit akan ikut terbuang bersama dengan helaan napasnya tersebut. Sebelum kemudian ia berlalu meninggalkan gedung hotel dengan perasaan berkecamuk.
-Lanjut di lapaknya Ranty Yoona-