Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 144 - Kali Terakhir


__ADS_3

Faktanya, memang tidak baik berbangga diri karena biasanya akan patah di akhir. Beberapa menit awal memang Justin masih merasa putri Keyvan bisa diatur. Akan tetapi, sepuluh menit kedua dan seterusnya dia mulai tidak terkendali, apalagi saat ini Zavia sudah bisa berjalan sendiri, kesana kemari sesukanya hingga membuat keringat Justin bercucuran padahal tidak sedang angkat berat.


"Via ... Via jang_ Zavia!!"


PRANK


Justin menganga, langkahnya terlambat dan kini dia menjatuhkan jam pasir yang ada di sudut meja Keyvan. Sontak Justin berlari dan mengangkat tubuh Zavia, dadanya berdebar melihat bagaimana ruangan kerja Keyvan saat ini.


"Ya Tuhan, Sayang ... diam dulu ya," pinta Justin memeluknya erat, keringat sudah membasah di kening pria itu, beberapa kali dia kerap mendengar keluhan Keyvan dan seakan tidak percaya jika putrinya lebih aktif dari ikan lele. Kini, Justin membuktikan sendiri dan lututnya sudah dibuat lemas.


"Tutu ...."


"Apa? Susu maksudmu?" tanya Justin kemudian, dia menatap mata bulat Zavia yang kini tampak tidak bersalah sama sekali.


"Tutu."


Hal bagus jika dia meminta susu, artinya Zavia berniat untuk tidur segera. Pria itu mengeluarkan susu dari tas beruang yang sama sekali tidak menarik matanya. Pengalaman pertama dan dia tidak akan berpikir untuk mengulang lagi, melelahkan.


Justin membiarkan Zavia minum susu dengan menjadikan pangkuannya sebagai bantal. Kakinya naik salah satu sudah persis orang dewasa yang bersantai menikmati waktu istirahat.


"Aku akui, Papamu hebat Zavia."

__ADS_1


Justin menghela napas perlahan, dia mengacak rambut seraya menunggu Keyvan pulang dengan perasaan gusar. Ruangan ini sudah seperti diacak maling, beberapa benda di ruangan Keyvan sudah tidak pada tempatnya lagi karena Zavia pindahkan sesuka hati.


Beberapa waktu menunggu kini Zavia mulai diam, baru sadar jika anak itu tertidur kala dotnya jatuh ke lantai. Justin menghela napas panjang, syukurlah pada akhirnya dia lelah dengan sendiri.


Perlahan Justin berpindah, hingga anak itu benar-benar terlelap nyaman di sofa. Andai saja dia tidak tidur, tidak bisa Justin bayangkan bagaimana nasibnya hari ini. "Astaga, Zavia."


Baru saja beberapa menit Justin tenang, pintu tampak terbuka dari luar. Sepertinya Keyvan sudah kembali, dan kini didampingi Keny yang ikut masuk di belakangnya.


"Zav_"


"Shuut, tidur," ucap Justin spontan seraya menempelkan jemari di bibirnya.


"Woah, benar-benar tidur?" tanya Keyvan kagum dengan kemampuan Justin yang mampu menidurkan Zavia.


"Ya sudah, nanti minta dibersihkan saja ... wajar saja dia tidur," ucap Keyvan seraya menghela napas panjang.


"Hooam aku ngantuk juga lihat Zavia tidur." Kebetulan sofa yang satunya juga sangat pas untuk Keny berbaring, tanpa pikir panjang pria itu menghempaskan tubuhnya.


"Keny bas_ saah," ucap Justin tertahan namun semua sudah terlambat karena kini pria itu sudah mengerjapkan mata dan tampak merasakan sesuatu yang aneh.


"Be-bekas apa? Jangan bilang ompol," ucap Keny ragu seraya perlahan beranjak dari sofa dan dia membeliak kala melihat permukaan sofa yang memang tampak basah.

__ADS_1


"Zavia pakai popok, tidak mungkin itu ompol," ujar Keyvan kemudian.


"Coba cium, Van," pinta Keny mengarahkan bokkongnya ke arah Keyvan, sontak pria itu berdecak kesal dan tidak terima perlakuan Keny.


"Kau pastikan sendiri gila!!"


"Astaga, Justin jawab itu air apa?" tanya Keny butuh kepastian itu ompol atau bukan.


"Air manni, banyak tanya!! Makanya lihat-lihat kalau duduk," jawab Justin ngasal, dia sudah terlalu lelah akibat menjaga Zavia dan kini hadir makhluk bernama Keny yang kebiasaan membuat urat Justin kencang.


"Kau_"


"Air mineral, itu botolnya ... Zavia yang siram sofanya, mungkin menurut dia sofa itu kotor santai saja lah," ungkap Justin memperkecil masalah padahal Keny benar-benar basah hingga bagian dalamnya.


"Santai dengkulmu, basahnya sampai kemana-mana ini ays Zavia ... ada-ada saja ya, Tuhan, bagaimana, Van?"


"Mau bagaimana? Tidak mungkin tukar pakai celanaku, pulang sana," tutur Keyvan lantaran memang sudah tidak ada lagi jalan keluar, dia berusaha menahan tawa namun pada akhirnya tidak bisa. Keyvan takkan meminta maaf atas ulah Zavia pada Keyvan, baginya yang salah adalah Keny yang asal dalam bertindak.


"Dia tidak menangis, Justin?"


"Tidak, Van. Aku yang menangis."

__ADS_1


- To Be Continue -


__ADS_2