Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 121 - Balas Dendam


__ADS_3

"Mikhayla."


Beberapa hari pasca pulang dari rumah sakit, suara Keyvan perlahan kembali. Meski memang belum sebaik itu, akan tetapi tidak benar-benar bisu seperti kemarin. Hal ini tidak terlepas dari peran Mikhayla yang merawat sang suami dengan berbagai caranya.


"Iyaa ... Apa, Sayang? masih sakit?"


Manis sekali, jika diperlakukan sebaik ini sepertinya Keyvan rela sakit-sakitan. Pria itu tersenyum hangat kala sang istri menghampirinya ke tempat tidur, belum waktu tidur sebenarnya. Akan tetapi sejak kemarin memang Keyvan lebih nyaman bermalas-malasan.


"Bukan, tolong ambilkan jeruk itu ... tanganku tidak sampai, Sayang," pinta Keyvan menunjuk keranjang buah yang memang sengaja diletakkan di atas nakas sejak tenggorokan pria itu tidak baik-baik saja.


Karena Keyvan masih sakit dan bahkan suaranya yang terdengar serak, Mikhayla menurut begitu saja dan tidak berpikir jika saat ini Keyvan tengah memanfaatkan keadaan. Pria itu mengulas senyum kala Mikhayla menyerahkan buah jeruk yang memang tampak meggoda itu.


"Kupas, Khay ... aku masih lemas."


"Bentar ya."


Sama sekali dia tidak curiga kenapa suaminya berubah manja. Dia berpikir wajar saja karena biasanya sang papa akan lebih manja dari ini jika sedang sakit. Terlebih lagi penyebab Keyvan tidak memiliki suara adalah dia, jelas saja Mikhayla merasa dirinya harus bertanggung jawab.


Tidak berhenti sampai di sana, bahkan setelah siap Keyvan masih meminta bantuan Mikhayla untuk menyuapinya. Ingin marah tapi tidak bisa, pria itu terkekeh dalam batinnya kala melihat sang istri yang luar biasa sabar menghadapi keinginannya yang sesuka hati ini.


Awalnya memang tampak biasa, Mikhayla menyuapi sang suami sebagaimana mestinya. Hingga tiba di saat dia menyuapi Keyvan menggunakan mulutnya, hal yang belum pernah dia lakukan akan tetapi Keyvan suka menerimanya.


"Kenapa tiba-tiba begini?" tanya Keyvan kemudian, bukan berarti tidak suka tapi memang Mikhayla kerap melakukan hal manis tanpa diduga.


"Penasaran saja, Alka dul_"

__ADS_1


"What? Kalian berdua pernah melakukan hal semacam ini?" tanya Keyvan sontak bangun mengeluarkan jeruk yang padahal baru masuk di mulutnya, demi apapun dia tidak suka jika disama-samakan bersama anak kecil itu.


"Pernah memintaku begini, tapi aku tidak pernah mau ... ternyata memang seru."


Keyvan kebiasaan menunjukkan reaksi berlebihan padahal kebenarannya belum pasti. "Kamu bohong, 'kan?" tanya Keyvan seakan sengaja mecari keributan padahal sudah dijawab sebagaimana mestinya.


"Bohong apanya, aku sudah jujur."


Pertanyaan Keyvan membuat Mikhayla naik darah, malam ini dia tidak berniat bertengkar sama sekali. Sisa jeruk yang masih dia pegang sengaja Mikhayla masukkan sekaligus ke mulut Keyvan hingga pria itu hampir saja tersedak.


"Mikhayla!! Sopan kamu begini?" tanya Keyvan usai mengeluarkan jeruk dari dalam mulutnya, baru beberapa menit yang lalu istrinya berbuat manis dan kini berubah secepat itu.


"Kamunya buat emosi, aku sudah jawab jujur masih juga dibilang bohong begitu."


"Aku hanya memastikan, tidak seharusnya bersikap kasar, Sayang ... kalau aku tersedak bagaimana? Kamu lupa, suaraku habis begini karena siapa? Karena kamu, Khayla."


Untuk pertama kalinya Keyvan bersikap demikian. Entah sebuah pembelaan atau memang ungkapan kemarahan, yang jelas Mikhayla dibuat sebal luar biasa.


"Malah diperpanjang ... kenapa jadi bahas-bahas masalah kemarin? Lagian salah sendiri kenapa teriak-teriak begitu?"


Sejak kapan Mikhayla mau kalah, bahkan berhadapan dengan Mikhail saja dia mampu. Kini, Keyvan tiba-tiba membuatnya marah. Padahal, dia memang tengah hamil dan sudah pasti pengaruh hormonnya luar biasa.


"Tetap saja kamu sebabnya, andai permintaanmu tidak macam-macam seperti kemarin aku pas_ aaawwh, Khay?"


Kesal lantaran Keyvan mendadak cerewet, Mikhayla membuat Keyvan bungkam kala milik Keyvan dia genggam dari balik celananya. Tidak hanya berhenti di sana, Mikhayla mengikis jarak dan mengecup bibir sang suami berkali-kali. Bukan hanya dibuat diam, Keyvan bahkan dibuat hampir tidak bernapas dengan tindakan sang istri.

__ADS_1


"Mikhayla?"


"Kenapa? Teruskan marahnya, aku terima ... marahlah sesuka hatimu, Sayang."


Percayalah Keyvan bahkan dibuat lupa daratan. Dalam keadaan begini bagaimana bisa dia marah lagi, sontak Keyvan meraih tengkuk leher Mikhayla dan meraup bibir mungil sang istri begitu dalamnya. Beberapa menit lalu mereka adu mulut, kini keduanya adu mekanik dan saling memperlihatkan skill bersilat lidah secara nyata.


Perdebatan kecil yang tadi mendominasi kamar, kini berubah menjadi deccapan yang keluar antara keduannya. Keyvan yang tidak bisa berhenti hanya sebatas ciumann saja sudah mulai membuka kancing piyama sang istri, tanpa pikir panjang Mikhayla melakukan hal sama dan keduanya benar-benar melanjutkan perangnya dengan cara lain.


Ditengah Keyvan sudah terbuai begitu dalam dan miliknya kian menegang, Mikhayla menjauh begitu saja padahal yang Keyvan kenakan saat ini hanya cellana pendek saja. "Khay? What the .... Ays!! Khayla?!!"


"Apalagi? Bukannya udah berenti marahnya?" tanya Khayla turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya, Keyvan yang saat ini masih terbaring jelas saja kesal bahkan sakitnya naik ke ubun-ubun.


"Berhenti apanya? Khayla, kamu balas dendam apa gimana?" tanya Keyvan panik. Yang benar saja jika sampai benar dipermainkan. Milik Keyvan susah begitu sesak dan tidak bisa dikondisikan lagi, bisa-bisanya sang istri hendak berlalu.


"Balas dendam yang mana? Aku lupa."


"Jangan pura-pura boddoh, tanggung jawab sekarang," titah Keyvan menatapnya tajam namun Mikhayla hanya menjulurkan lidah dan berhasil membuat sang suami naik darah.


"Dih apaan, jangan sentuh aku ya."


"Berani ya, mau aku buat tidak bisa berjalan besok pagi?" tanya Keyvan dengan nada ancaman namun tidak membuat Mikhayla takut sedikitpun, dengan santainya dia menutup wajah Keyvan dengan piyamanya. "Tidur sana, jangan marah-marah terus nanti cepat tua ... nanti pas anak kita sekolah kamu dikira kakeknya kan malu," ujarnya seraya terkekeh tiada hentinya.


"Kamu meledekku? Kesalahan kamu malam ini berkali lipat, Khayla ... jangan pikir bisa tidur nyenyak," ungkapnya menarik paksa sang istri hingga terjerambab di atas tubuhnya.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2