
Tiba di mobil Keyvan tidak segera memacu laju kendaraannya melainkan memastikan hidung Mikhayla baik-baik saja. Dia berdecak heran melihat kening istrinya yang kini memerah, jelas saja itu sakit. Mikhayla selalu berkata baik-baik saja padahal hidungnya sudah mengalirkan darah begitu, sungguh Keyvan benar-benar heran dengan pola pikir istrinya.
"Kenapa sebo-doh ini? Ada cara lain dan kamu memilih membenturkan kepalamu ke meja ... marah padaku atau apa?" tanya Keyvan usai memastikan pendarahan di hidung istrinya berhenti.
"Mana aku tahu kalau mejanya sekeras itu, hidungnya juga tiba-tiba mimisan begini."
Setelah kemarin pendarahan dibagian bawah, sekarang bagian atas. Keyvan tidak habis pikir kenapa bisa demikian padahal sudah berusaha untuk merawat sang istri sebaik-baiknya jika sedang bersama.
"Jangan menyalahkan mejanya, otakmu saja yang tidak berfungsi dengan benar."
Sedikit kesal lantaran mulut sang istri selalu bisa menjawab semua pernyataan yang keluar dari bibirnya, Keyvan berucap demikian seraya menepuk pelan puncak kepala Mikhayla.
"Namanya juga musibah ... mau sepintar apapun, kalau lagi waktunya kejedot ya kejedot."
Lihatkan? Dia benar-benar mampu bersilat lidah hingga Keyvan memilih mengalah. Tidak akan selesai jika terus adu mulut bersama istrinya, dia yang terbiasa dengan wanita pendiam dan tidak banyak bicara seperti Liora harus mampu beradaptasi dengan seseorang yang memiliki kepribadian sebaliknya.
Meski dia memilih diam, Keyvan tetap ke rumah sakit demi memastikan jika mimisan yang Mikhayla alami bukan dampak dari kecelakaannya beberapa minggu lalu, karena memang walau terlihat tenang Keyvan sekhawatir itu.
"Mikhayla, boleh aku tanya sesuatu?"
Mikhayla menoleh dan menatap bingung ke arah sang suami. Biasanya dia bertanya tanpa izin lebih dulu, bisa dipastikan ini penting dan harus dijawab sesuai dengan keinginan Keyvan.
"Tanya apa?"
"Apa yang Alka lakukan padamu? Pagi tadi maksudku."
Meski dia sebenarnya mengetahui apa yang terjadi, Keyvan hanya ingin memastikan kejujuran sang istri. Mata-matanya bekerja dengan sempurna hari ini, ditambah lagi Keyvan mendengar apa yang Mikhayla katakan sepanjang hari.
"Dia marah ... seolah-olah masih punya hubungan, menjijikkan sekali." Mikhayla berdecih dan berhasil membuat Keyvan menarik sudut bibir, dua sangat menyukai Mikhayla yang marah begitu.
__ADS_1
"Oh iya?"
"Hm, satu lagi ... dia mempermasalahkan kita ciuman, padahal memang hakku apa salahnya," omel Mikhayla sembari merapikan rambut dengan jemari lentiknya.
"Akhiri hubungan kalian, jangan sampai nyawanya yang kuakhiri."
Seram sekali, mata Mikhayla membulat sempurna mendengar ucapan Keyvan. Meski sebenarnya dia juga tidak peduli walau nyawa Alka berakhir secepatnya, akan tetapi membayangkan suaminya menghilangkan nyawa seseorang dengan sengaja dia bergidik ngeri.
"Sudah ... aku sudah akhiri."
Keyvan membahas hal yang sudah dia ketahui sejak pagi, murni hanya ingin menguji jujur atau tidaknya sang istri. Setelah mendengar jawaban Mikhayla, dia benar-benar yakin sang istri tidak akan berbuat macam-macam di belakangnya.
.
.
.
Setelah dahulu sempat dihebohkan akibat pendarahan, kini dia juga melakukan hal yang sama. Khawatir berlebihan hingga menduga tulang hidung istrinya patah, padahal Mikhayla bukan mengalami kecelakaan atau jatuh dari ketinggian.
"Tidak, Pak ... Anda tidak perlu khawatir, saya hanya sarankan istri Anda untuk perbanyak istirahat."
Mikhayla sudah menduga drama semacam ini akan terjadi. Hanya saja untuk protes dia tidak punya keberanian sebanyak itu, bahkan ketika Keyvan memilih rumah sakit paling terkenal di ibu kota dia juga terima-terima saja.
Tak lama pasca drama perdebatan antara Keyvan dan dokter tersebut, mereka meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang berbeda. Mikhayla tampak tenang sementara Keyvan ragu dan berpikir hasil pemeriksaannya salah lantaran dokternya asal-asalan.
"Coba diam sebentar."
Mikhayla pasrah saja kala Keyvan meneliti wajahnya dari jarak sedekat itu. Deru napas sang suami bahkan dapat dia rasakan, entah apa yang akan Keyvan lakukan terhadapnya.
__ADS_1
"Kenapa harus secantik ini?"
Mikhayla menepis tangan Keyvan dari wajahnya, tujuan awal apa dan kini justru berbeda hasilnya. Keyvan tersenyum simpul dan keduanya kembali melangkah beriringan menyusuri koridor rumah sakit.
Awalnya semua baik-baik saja, hingga Keyvan menghentikan langkah kala menyadari seseorang yang hendak datang dari arah berlawanan.
"Kenapa berhenti?"
"Kita keluar lewat tempat lain saja, Khay."
Keyvan menarik pergelangan tangan sang istri pelan-pelan. Mikhayla tidak sempat bertanya hanya menurut saja kala suaminya berbuat demikian.
Kenapa bisa dia juga di tempat ini?
Langkahnya semakin cepat, Mikhayla dibuat panik dan berlari kecil mengikuti langkah Keyvan. Untuk pertama kali, dia ketakutan padahal tidak tahu sebabnya apa.
"Masuklah," titah Keyvan ketika selesai menutup pintu mobil.
Untuk saat ini dia memang belum bisa menunjukkan Mikhayla kepada orang-orang yang mengenal dirinya dan Liora. Apalagi, pasca kecelakaan terjadi identitas serta wajah Mikhayla secara jelas diberitakan media sebagai penyebab utamanya.
- To Be Continue -
Haloo Bestie, aku mau rekomendasiin karya Kakakku yang keren ini. Penulis suhu comeback ke NT, samperin ya, Best❣️
Judul : One Night Destiny
Author : Eka Pradita
__ADS_1