
Pulang dengan keadaan kacau, selesai membuat Leon tersiksa batin Keyvan tetap marah. Pria itu menatap nanar ke luar sana, jalanan yang licin dan hujan rintik tidak membuat dia mengurangi kecepatan sama sekali. Tujuannya kini hanya pulang, tidak peduli sekalipun jalanan akan membuat dia celaka malam ini.
Tidak seperti biasanya, keadaan rumah tampak sepi. Jika biasanya dia akan disambut dengan beberapa orang ketika pulang, kini tidak lagi. Semudah itu keadaan berubah, kekayaan yang dia punya tidak mejamin seseorang akan setia.
Keyvan melangkah panjang memasuki rumahnya. Belum sempat dia meniti anak tangga, istri Wibowo menghampiri dengan tubuh bergetarnya. Apalagi, melihat noda darah di pakaian Keyvan wanita itu kian pucat pasi.
"Ada apa?" tanya Keyvan dengan suara dinginnya, dia belum memiliki keinginan untuk banyak bicara.
"Nona muda tidak di sini, Tuan."
"Maksudmu?"
"Nona pulang ke rumah orang tuanya, beberapa jam lalu ayahnya datang menjemput mereka, Tuan," jawab wanita itu dengan suara bergetarnya, berada di posisi sulit untuk saat ini karena memang sebelumnya dia juga sudah sempat diamuk Mikhail.
"Papa?"
"Benar, Tuan."
Mata Keyvan membulat sempurna, kakinya tiba-tiba terasa lemas hingga dia cepat-cepat berlari menuju kamarnya. Tadi sore Keyvan memang meminta Zia datang, itupun tanpa sepengetahuan Mikhayla karena istrinya tidak mengizinkan hal semacam ini diketahui orang tuanya.
Sama sekali Keyvan tidak menduga jika pada akhirnya pilihan untuk meminta Zia datang akan berakhir seperti ini. Napasnya baru saja lega, pria itu kembali keluar dan melajukan mobilnya menuju kediaman Mikhail dengan perasaan yang lebih kacau dari sebelumnya.
Sepanjang perjalanan yang Keyvan pikirkan hanya satu, kemarahan mertuanya. Bisa dipastikan sebab Mikhail membawa pulang Mikhayla tentu sebagai bentuk kemarahannya pada Keyvan.
__ADS_1
Tidak sampai di sana kekhawatiran Keyvan, setelah dia nanti tiba di sana apa mungkin Mikhail akan menerimanya. Hubungan mereka baru saja perlahan membaik, sementara watak mereka yang sama keras bisa dipastikan tidak akan mengalah satu sama lain.
"Aku datang, Khay ... kenapa melanggar perintahku," gumam Keyvan pelan, sempat berpesan agar tetap di dalam kamar apapun yang terjadi, nyatanya kini istrinya benar-benar pergi.
Perjalanan yang seharusnya ditempuh waktu cukup lama, dapat Keyvan taklukan sebentar saja. Walau cuaca malam ini sama sekali tidak bersahabat, pria itu masih bisa tiba dengan selamat.
Pintu gerbang tertutup rapat, hanya ada satu penjaga dan tidak bergerak cepat ketika Keyvan tiba. Bahkan kala Keyvan meminta bantuan agar pria itu mau membukanya, respon securitynya masih sama.
"Saya suami Mikhayla ... apa salahnya dibuka? Izinkan Saya masuk," ucapnya berusaha tetap sopan walau sebenarnya memaksa.
"Maaf, tapi saya tidak memiliki kewajiban membukakan pintu untuk Anda."
Penolakan dengan nada tegas Keyvan dengar dengan nyata. Pria itu bahkan sama sekali tidak menunduk seperti yang dia lakukan ketika Keyvan datang bersama Mikhayla.
"Pak ... Tolonglah, istri saya menunggu di dalam, saya sudah janji untuk pulang malam ini."
"Siapa, Man?"
Belum sempat Rahman menjawab, suara khas dari pria berbadan gempal itu terdengar jelas. Pria itu datang dengan menggunakan payung hitam karena memang malam itu hujan rintik walau tidak begitu deras.
"Menantu Bos besar, apa sudah diizinkan masuk?" tanya Rahman sedikit tidak tega melihat Keyvan yang kini mulai basah dan masih menunggu kepastian. Bastian hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Kau ... pulanglah, percuma datang karena saat ini Bos sedang marah besar."
__ADS_1
"Om, saya akan pulang jika sudah bersama Mikhayla ... Izinkan saya masuk, saya bisa jelaskan semuanya pada Papa," ucap Keyvan masih dengan suara tegasnya, dia berusaha sopan pada pria yang bernama Bastian Hutapea itu.
"Mikhayla? Dia lebih aman bersama orang tuanya ... saya saja marah, apalagi orang tuanya."
Beberapa jam lalu Babas dibuat hampir jantungan kala Mikhail marah usai menerima telepon dari Zia. Secepat itu pula dia mengajak Babas untuk menjemput Mikhayla dan Zia di rumah menantunya.
Jika kalian marah, lalu bagaimana denganku?
Keyvan mengepalkan tangannya, dia bahkan lebih marah dari itu. Rasa sakitnya bahkan lebih besar dari yang mereka pikirkan, dan kini memang siapapun yang menyayangi Mikhayla akan memposisikan Keyvan di posisi salah.
"Pulanglah, Van ... saat ini suasana masih panas, tolong pahami dan jangan memaksakan masuk jika tidak ingin masalah bertambah," tutur Babas kemudian, larangan Mikhail untuk tidak menerima Keyvan begitu jelas dan seorang Bastian tidak punya kuasa untuk membukakan pintu hanya karena kasihan.
"Tapi_"
"Pulanglah, Van ... biarkan Khayla tidur malam ini."
Keyvan mendongak, menatap jauh ke arah kamar tidur yang lampunya tidak lagi menyala. Meski paham Mikhail kini mungkin hendak mencincangnya hidup-hidup, pria itu masih memiliki keberanian untuk menghubungi Mikhail via telepon setelah Bastian menjauh, tentu saja yang dia inginkan hanya Mikhayla.
Kali pertama Keyvan berada di titik semenyedihkan ini. Dia ingin sekali marah kala panggilan untuk Mikhail ditolak berkali-kali, hujan yang tadinya hanya rintik biasa kini kian menjadi hingga pakaiannya semakin basah.
"Ya Tuhan, Pa. Tolonglah!!"
"Khayla, Mikhayla ... lihat dibawah!!" teriak Keyvan di titik frustasinya, Rahman yang berjaga di pos hanya menggeleng namun tidak bisa berbuat apa-apa, Bastian juga demikian.
__ADS_1
"Biarkan saja, kita lihat seberapa lama dia bertahan di sana."
- To Be Continue -