
"Sekali saja, tidak bisa? Aku yang bantu jelaskan besok pagi."
"Big no!! Nilaiku bisa hancur, ayolah kita pulang ke rumah Papa saja!! Masih ada waktu untuk aku menyelesaikannya," pinta Mikhayla dan benar-benar tidak bisa ditawar, tugas itu sebenarnya sudah diberikan sejak minggu lalu. Akan tetapi, dengan status dia sebagai istri Keyvan yang tentu harus melayani pria itu jelas saja fokusnya terpecah.
"Benar-benar tidak bisa?" tanya Keyvan kembali memastikan dan wajah Mikhayla kian menuntut suaminya untuk pulang.
"Tidak!! Aku tidak ingin mengulang tahun depan," ungkapnya terpaksa membuat Keyvan harus mencari jalan keluarnya.
"Baiklah kalau begitu aku saja yang pulang ke rumah Papa ambil tugasnya sementara kamu istirahat ya, jika ketahuan kita baru pulang Papa bisa marah, Sayang." Keyvan terpaksa mengambil jalan ini karena jujur saja dia memiliki rasa takut pada Mikhail akhir-akhir ini.
"Hm, bukunya ada di meja paling sudut yang tebelnya segini terus buku tulis, sama buku pedoman yang warna merah di sampingnya juga."
Ya Tuhan, Mikhayla. Keyvan terpejam sesaat namun dia harus bertindak secepatnya. Pria itu berusaha mengingat ucapan sang istri, melihat Mikhayla yang kini sama sekali tidak mengantuk melainkan ketar-ketir karena panik Keyvan menghela napas perlahan.
"Iya, nanti aku kabari kalau sudah sampai ... sekarang kamu mandi dulu ya, makan malam juga. Aku sudah minta Rani menyiapkan makan malam," tutur Keyvan sangat berharap Mikhayla akan menuruti ucapannya.
Meski dalam keadaan panik, Keyvan tetap berusaha tenang dan mengantar sang istri hingga ke depan pintu. Usai memastikan Mikhayla masuk. barulah dia berlalu dan pulang untuk mengambil buku-buku yang Mikhayla butuhkan, dan untuk kali ini jelas saja dia pergi dengan kecepatan maksimal.
"Harun-Harun ... awas saja kau," omel Keyvan diperjalanan, di hadapan Mikhayla mungkin dia terlihat tenang, akan tetapi tidak jika dia sendirian.
Dia terus saja menggerutu hingga tiba di kediaman sang mertua. Rahman yang masih berjaga jelas dibuat terkejut dengan kedatangan Keyvan seorang diri malam-malam begini.
"Ada apa, Tuan?"
"Ambil buku, Khayla ... Pak, saya tidak lama, sebentar ya."
Keyvan turun dan berlalu seketika usai bicara pada Rahman. Pria itu berlari dan benar-benar terlihat panik, urusan anak muda memang ada-ada saja, pikir Rahman.
Tiba di rumah, beruntung saja orang-orang yang Keyvan khawatirkan akan bertanya sudah masuk kamar semua. Pria itu segera naik ke kamar Mikhayla untuk mengambil buku-buku yang sudah Mikhayla jelaskan sebelumnya.
"Buku-bukunya banyak sekali ya Tuhan," keluh Keyvan ketiga menghadapi meja belajar Mikhayla yang nyatanya tidak sesederhana itu. Lebih parahnya lagi, buku merah yang Mikhayla maksud justru membuat Keyvan bingung.
"Buku merah apanya? Di sini merah semua, ays!! Menyebalkan sekali."
Kesabaran Keyvan tidak sebesar itu jika tidak di hadapan Khayla. Dia frustasi kala menyadari hampir semua buku Mikhayla berwarna merah. Berusaha menghubungi sang istri tidak juga diangkat. Sudah pasti Mikhayla tengah membersihkan diri hingga lupa diri begini, pikir pria itu.
"Ck, apa aku bawa semuanya saja ya?"
Khawatir salah dan mendapat omelan dari sang istri, Keyvan segera membawa semua buku Mikhayla. Sebenarnya sudah terbiasa, sejak bulan lalu Keyvan membawa buku-buku Mikhayla kemanapun mereka tinggal.
__ADS_1
Semudah itu memutuskan pilihan, lebih baik dia mengorbankan sedikit tenaga daripada salah dan harus kembali lagi. Tanpa banyak berpikir, Keyvan segera keluar kamar dan menutup pintunya pelan-pelan. Meski tidak ada yang akan terganggu tetap saja dia harus berhati-hati karena situasi saat ini sunyi sekali.
"Kenapa pulang sendiri?"
"Aaarrgghh!! Papa?"
Kehadiran Mikhail yang tiba-tiba membuat Keyvan hampir saja pingsan. Entah kenapa harus dengan cara mengejutkan seperti itu, pikir Keyvan luar biasa kesal.
"Berlebihan sekali, kenapa bukunya dibawa semua?" tanya Mikhail bersedekap dada, pria itu menatap Keyvan penuh selidik dan meminta penjelasan yang sebenarnya.
"Mikhayla ada tugas, Pa. Aku tidak tahu bukunya yang mana, jadi kubawa semua." Keyvan berkata jujur tanpa ditutupi sama sekali.
"Hadeuh masih saja kebiasaan, ya sudah ... bantu tugasnya, sudah menikah masih saja. Dasar malas," gerutu Mikhail yang membuat Keyvan paham jika Mikhayla memiliki kekurangan juga pada faktanya.
"Aku pulang dulu, Pa."
"Hm, jangan lupa minum kopi ... aku pastikan dia akan merepotkanmu," ujar Mikhail merasa kasihan pada menantunya, belum apa-apa Mikhail sudah membayangkan nasib Keyvan besok pagi.
.
.
.
Setelah selesai dengan segala drama malam ini, Keyvan sudah tampak segar dan melihat sang istri yang mulai mengeksekusi tugasnya. Wanita itu tampak diam dan bingung apa yang hendak dia tulis, Keyvan yang penasaran kini mendekat.
"Pegal, tanganku sakit dan ini harus ditulis tangan." Mikhayla menjawab sebal dan Keyvan hanya menarik sudut bibir, jika dia lihat memang tulisan tangan Mikhayla sudah berubah bentuknya lantaran terlalu lelah.
"Kenapa harus? Apa dosenmu tidak mengikuti perkembangan zaman?" tanya Keyvan bingung sendiri kenapa bisa tugas sebanyak itu harus selesai dengan tangan mungil istrinya.
"Kok tanya aku? Tanya sama Prof. Harun sana."
Kali pertama istrinya menjawab ketus karena tampaknya sebal sekali, belum satu jam dan tangan Mikhayla tidak mampu lagi. Padahal, biasanya dia bisa bertahan lebih lama dari itu.
"Haha, bisa marah juga ternyata ... Sabar, Sayang. Kalau lelah jangan dipaksa, tidur saja ya." Keyvan mengusap pelan puncak kepalanya, berharap dengan cara itu istrinya sedikit lebih sabar.
"Tugasnya belum selesai, ini masih banyak." Mikhayla menghentakkan kakinya dan menunduk hingga kepalanya membentur meja. Keyvan yang paham jika istrinya lelah luar biasa segera mengambil pulpen yang Mikhayla genggam, sengaja menarik kursi lagi agar bisa duduk di dekat sang istri.
"Mana yang harus ditulis, tulisan kita hampir sama jadi tidak akan jadi masalah," ungkap Keyvan kemudian dan berhasil membuat Mikhayla tersenyum simpul, kekesalan yang bersemayam dalam dirinya hilang begitu saja pasca Keyvan datang menjadi penyelamatnya.
__ADS_1
"Aku juga bingung jawabannya, sekalian carikan ya," ucapnya tampak santai dan kini memeluk lengan Keyvan, pria itu menghela napas pelan sembari berusaha untuk tetap sabar.
"Aku tidak pernah mempelajari ini, Sayang." Mikhayla menatapnya penuh kekecewaan, harapannya pada Keyvan terlalu besar hingga pada akhirnya dia menghela napas kasar dan berniat menarik kembali pulpen di tangan Keyvan.
"Iyaya, kita cari sama-sama ... jangan marah." Memilih mengalah meski sebenarnya Keyvan sama sekali tidak paham apa yang Mikhayla pelajari, akan tetapi demi sang istri dia rela mengerahkan kemampuannya.
"Tidak marah, siapa yang marah."
Tidak marah kata dia, tapi wajahnya cemberut dan Keyvan tengah berusaha agar suasana hati istrinya kembali baik-baik saja setelah ini. "Tapi sebelumnya, boleh aku minta sesuatu?" Keyvan melupakan prinsip hidupnya, hampir saja dia menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Apa?"
"Ini," ucap Keyvan menyentuh bibirnya, Mikhayla yang paham isi otak Keyvan segera mengikis jarak tanpa banyak tanya.
Cup
Cup
Cup
"Sudah, tiga kali malah."
"Itu kecupan, yang lebih dari itu," pinta Keyvan meminta lebih, dia tidak merasa puas jika hanya sekilas. Sementara Mikhayla yang paham pola pikir Keyvan jelas tidak akan terjebak kali ini, dia menarik sudut bibir sembari membelai wajah tampan sang suami.
"Selesaikan dulu tugasku, setelah itu bebas ... Jangankan ciumman, semuanya aku berikan, Sayang," bisik Mikhayla pandai sekali membuai Keyvan dengan harapan.
"Benarkah? Kamu tidak berbohong?"
"Ehm, tentu saja. Sejak kapan aku suka berbohong," ucapnya manis sekali, cara Mikhayla yang kini mengusap rambutnya membuat Keyvan berdesir.
"Oke!! Aku pegang janjimu." Keyvan bersemangat untuk menyelesaikan ini, beberapa hal rumit bisa dia selesaikan. Apalagi hanya tugas semacam ini, pikir Keyvan.
Coba saja, paling sampai subuh kamu masih berkutat di meja ini, Suamiku tercinta ... Aah enaknya jika SKS begini (Semua Kewajiban Suami).
- To Be Continue -
Rekomendasi novel sore ini.
__ADS_1