
"Pa, biar Khay_"
"Papa tidak memintamu bicara, Khayla ... Saat ini Evan yang Papa minta, bukan kamu apalagi Mama." Tak terbantahkan dan hal itu membuat Zia mengelus dada, entah kapan Mikhail akan berubah dan tidak seegois ini tentu saja.
"Papa dengarkan aku!! Bang Evan sakit, Pa. Dia tidak punya suara, Papa cukup tanya sama Khayla saja jangan marah-marah ... Khayla hamil karena memang mau, bukan dipaksa," jelas Mikhayla tanpa diminta dan ini sudah menjadi tekatnya sejak kemarin akan membela Keyvan bagaimanapun caranya.
"Rasakan!! Itu azab menantu durjana ... berani melanggar janji dan membohongi Papa sampai begini," omel Mikhail dan membuat Mikhayla mendelik lantaran khawatir Keyvan merasa tersinggung dengan ucapan asal Papanya.
Menantu durjana, sebuah panggilan unik dan mungkin hanya dia yang punya. Keyvan terkekeh dalam benaknya, dia merasa hal ini sedikit lucu hingga pria itu tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang tampak menahan tawa.
"Evan!! Tidak ada yang lucu di sini, kenapa kau tertawa begitu? Meledek Papa atau kenapa?"
Salah lagi, selain durjana tampaknya dia juga menantu serba salah. Keyvan bingung kenapa Mikhail dan Mikhayla kompak menyiksanya sejak kemarin, apa mungkin karena ikatan batin mereka kuat, pikirnya.
"Papa jangan marahin suami Khayla terus, Khayla tersinggung loh."
Dia berucap dengan memperlihatkan wajah sedihnya. Tidak sedang sandiwara tapi memang hatinya tidak rela Keyvan dibentak seperti itu, suaminya sudah dewasa lagipula tidak seharusnya diperlakukan persis anak remaja sekalipun Mikhail adalah mertuanya.
"Jadi kamu sekarang lebih sayang Evan daripada Papa, Khayla?" tanya Mikhail seakan tidak rela putrinya mengungkapkan hal itu, sungguh hal semacam ini membuatnya kecewa berat.
"Bukan begitu, Papa ... Khayla sayang semuanya, tapi memang saat ini Papa kelewatan."
"Lupakan, tadi kamu bilang apa? Kamu yang mau? Yakin begitu, Mikhayla?" selidik Mikhail masih securiga itu Keyvan yang pemaksa, padahal justru sebaliknya.
"Iya, Khayla yang mau ... jangan marah ya, Pa. Lagipula tujuan nikah kan memang buat punya anak. Iya, 'kan, Sayang?" tanya Mikhayla sempat-sempatnya memina persetujuan dan dengan polosnya Keyvan mengangguk hingga Mikhail merasa benar-benar tidak memiliki kekuasaan walau seujung kuku atas diri Mikhayla.
__ADS_1
"Khayla!! Astaga ...." Jika orang lain kerap dibuat mengurut dada oleh anak laki-laki lain halnya dengan Mikhail, entah kenapa putrinya bisa menjelma menjadi seperti ini ketika dewasa.
"Khayla serius, Pa ... kemarin Khayla juga sudah katakan untuk Papa agar bersikap sama seperti Khayla ketika menerima kehamilan Mama andai nanti punya adik lagi, dan Khayla mau Papa juga begitu."
"Apa benar bukan dipaksa Evan?" tanya Mikhail memastikan dan hal ini dia angguki begitu mantapnya, habis sudah dan memang Mikhail tidak lagi memiliki tempat di benaknya.
"Sama sekali tidak, malah Khayla yang memaksa," tutur Khayla kemudian, Keyvan yang sejak tadi sedikit menunduk kini menatap ke arah istrinya.
"Memaksa?"
"Iya, Khayla yang paksa ... Bang Evan belum mau, Khayla sampai nangis-nangis minta anak," ujarnya tanpa dosa dan membuat wajah Mikhail merah, perpaduan antara malu dan amarah yang menjadi satu dan tidak bisa terhindarkan kini.
"Kamu yang paksa, artinya Evan sudah berniat mengikuti perintah Papa?" tanya Mikhail pada menantunya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala karena memang begitu yang dia bisa.
"Pengamannya sudah Khayla bolongin, Pa. Jadi percuma mau pakai sekalipun," celetuk Mikhayla mengada-ngada dan itu sukses membuat membuat kepala bagian belakang Mikhail mendadak sakit, sungguh dia tidak bisa berkata apa-apa lagi menghadapi putrinya ini.
"Eh, Papa!!"
"Aaaa kepala Papa sakit sekali rasanya," keluhnya seakan memang sesakit itu, sementara Zia hanya memutar bola matanya malas dan menduga itu hanya cara dia mencari perhatian belaka.
"Sudahlah, Mas. Jangan dibuat pusing, kehamilan Khayla itu anugerah juga buat kita ... jaga emosinya, aku tidak punya keinginan jadi janda dalam waktu dekat, Mas."
Suara Zia halus sekali, tapi entah kenapa makna tersirat di dalamnya sedikit menyakitkan hati. Mikhail mendelik, mencari makna ucapan asal sang istri yang seenak dengkul itu. "Maksudmu?" Cukup mata yang bicara, dan itu jelas menunjukan jika Mikhail seakan hendak menelannya.
"Bukan maksud apa-apa, cuma aku ingin Mas jangan terlalu mengganggap hal ini sebagai masalah ... Mikhayla itu sudah punya kehidupan sendiri, Evan juga
__ADS_1
sudah dewasa lagipula harusnya kita bersyukur Evan menginginkan anak dari putri kita," tutur Zia selembut-lembutnya dan dia hanya ingin keluarganya kembali hangat tanpa adanya kemarahan, itu saja.
"Hm ... sudah terjadi begini mau bagaimana lagi, hanya saja Papa benar-benar meminta kau menjaga putriku, Evan." Mikhail pasrah, dia tidak akan mengusik jika sudah terjadi hal semacam ini. Toh dia juga sudah berjanji untuk menerima jika memang sudah terjadi.
Keyvan mengulas senyum, dia mengangguk kemudian dan meraih tangan sang papa sebagai ucapan terima kasihnya. Beruntungnya, Mikhail memang tidak semarah itu dan tidak semenakutkan yang dia kira.
.
.
.
"Sudah pulanglah, perbanyak minum air putih ... dan lain kali jangan terlalu banyak mengeluarkan suara, apalagi berteriak," tutur Mikhail tanpa terduga seraya menepuk pundak Keuyvan yang tengah mencium tangan kanannya.
Semudah itu memang suasana hati Mikhail berubah, sedetik kemudian lembut dan begitupun sebaliknya tergantung situasi. Keyvan yang sejak lama tidak merasakan perlakuan manis seorang papa merasakan kehangatan luar biasa dalam dirinya saat ini.
"Terima kasih, Papa ... maaf, pertemuan pertama kita seburuk itu."
- To Be Continue -
Coba ramein dulu kolom komentar, kenapa pada banyak yang berubah jadi introvert nih istri-istri Evan😂.
Hai-hai, sementara up mampir dulu ke karya temen aku ya, Best🧐
__ADS_1