
Setelah drama dan perjuangan yang cukup panjang, tadi malam Keyvan bisa tidur nyenyak tanpa khawatir tertangkap basah atau lainnya. Meski ada dua pria yang mungkin tidak bisa tidur nyenyak akibat ulahnya, Keyvan terpaksa harus sedikit jahat demi memperjuangkan dirinya.
Seperti biasa, pagi-pagi Keyvan akan terbangun lebih dulu dan memandangi wajah lelap Mikhayla dengan jarak beberapa centi di hadapannya.
"Tidurnya tergantung mood sepertinya," ucap Keyvan seraya menarik sudut bibir usai mengingat bagaimana posisi tidur sang istri sebelumnya.
Mulutnya menganga, menampilkan gigi kelinci yang begitu lucu di mata Keyvan. Dengkuran halus masih terdengar dan Keyvan sama sekali tidak berniat untuk mengusik lelap tidurnya.
Beberapa menit dia menunggu, hingga Keyvan menarik sudut bibir kala sang istri membuka matanya perlahan. Bukan hanya mata, melainkan mulutnya juga terbuka lebar bahkan Keyvan sedikit ngilu melihatnya.
"Tutup, Khayla."
Keyvan menutup mulut Mikhayla yang menguap lebar dengan telapak tangan. Selesai menguap selebar gua hantu itu, Mikhayla kembali memejamkan mata layaknya beberapa saat lalu.
"Tidur lagi ... bangun, ini sudah siang, Sayang."
Keyvan sedikit mengguncang tubuh sang istri. Alih-alih bangun, Mikhayla merubah posisi tidurnya dengan menenggelamkan wajah ke dada bidang Keyvan. Kembali mendengkur seakan tidak ada masalah sama sekali, mungkin jika ada bencana alam Mikhayla juga tetap akan tertidur.
Ingin dibangunkan namun tidak tega, terpaksa Keyvan biarkan hingga nanti Mikhayla bangun sendiri. Ya, sekalipun matahari sudah meninggi maka tidak masalah tentu saja.
__ADS_1
Jika di kamar dua insan itu tengah menyalurkan cinta kasihnya, di bawah sana Bastian dan Rahman tengah berdiri sembari memperhatikan balkon kamar Mikhayla. Otak keduanya tampak berpikir kenapa bisa seseorang naik dengan begitu mudah bahkan tidak ketahuan sama sekali.
"Apa mungkin dia keluarga spiderman?"
"Dugaanmu berbobot sekali, Man ... kita tidak sedang berada di dunia fantasy, jangan gila."
Rahman hanya bertanya, tapi disemprot Bastian hingga pria itu jadi malas bicara. Padahal, ide untuk menghilangkan rasa jenuh dengan musik dangdut tadi malam adalah ide dari Bastian sendiri, bukan dirinya.
Memang tidak dipotong gaji, tapi keduanya tidak akan mendapat tunjangan hari besar seperti biasanya. Bonus-bonus yang jadi pelipur lara akibat sikap uring-uringan Mikhail, kini tidak akan lagi mereka dapatkan untuk kurun waktu dua tahun lamanya.
"Heeuh, ada-ada saja ... memang anak muda biasanya begitu kalau sudah cinta. Mana peduli nasib orang lain, Evan tidak tahu saja seberapa sulit kita saat ini akibat ulah dia masuk ke kamar Nona seenaknya."
Rahman yang sejak tadi memendam kekesalannya kini mulai membuka suara, demi apapun dia kesal sekali dibuatnya. Bonus dari Mikhail adalah bagian paling menyenangkan dalam hidup Rahman, dan kini Keyvan merusak kebahagiaan hidupnya. Sungguh menyebalkan sekali.
"Hm, benar sekali. Sebenarnya wajar saja, pria sedewasa Keyvan dapat daun muda seperti Nona Mikhayla pasti sulit berpisah, Bas," ucap Rahman justru menggiring opini Bastian dan berakhir dengan ghibah di pagi hari, padahal mereka kini tengah berada tepat di balkon kamar seseorang yang mereka jadikan bahan gunjingkan.
"Ahahah benar juga, kecanduan tentunya."
"Iyaa, itu maksudku!! Apalagi Evan itu ditinggal istrinya meninggal ... Nah khawatir marmutnya kedinginan karena hilang sarang jadi dia tidak akan pernah melepaskan Nona muda."
__ADS_1
Selain pintar jaga rumah, mereka juga memiliki keahlian khusus semenjak mengabdi di keluarga ini. Rahman dan Bastian yang tadinya tengah mempelajari jalan Keyvan bisa masuk, justru cekikikan membahas hal unfaedah yang mungkin saja membuat mereka dibakar hidup-hidup.
"Marmut? Hahaha kecil sekali ... cuma segenggam berarti."
Lihat saja, pembahasan mereka berakhir kemana-mana. Bastian membandingkan genggaman tangan dengan miliknya, dan hasilnya berhasil membuat mereka terbahak hingga rahang keduanya terasa sakit.
"Iya, genggaman tangan Nona bukan genggaman tanganmu, Bas!!"
Bastian tampak berpikir, kembali membayangkan sekecil apa genggaman tangan Mikhayla. Beberapa detik keduanya kembali tertawa hingga tidak menyadari sepasang mata elang tengah memperhatikan mereka dari atas sana.
"Kalian tidak punya pekerjaan lain? Istriku masih tidur ... berisik."
Gelak tawa keduanya sontak terhenti, begitupun dengan Rahman. Wajah bangun tidur Keyvan entah kenapa tampak mengerikan padahal pria itu tidak melakukan apa-apa, hanya menatapnya tajam tanpa berkedip.
"Su-sudah bangun, Tuan? Heheh maaf, kami kira Tuan dan Nona sudah bangun." Rahman yang takut gaji pokoknya dikurangi memilih sok akrab pada Keyvan, sementara Bastian masih shock dan bingung hendak bicara apa.
Keyvan hanya menghela napas kasar kemudian kembali masuk ke kamar. Meninggalkan Bastian dan Rahman yang kini tengah saling menatap dan melempar kesalahan.
"Ah iya satu lagi, milikku bukan marmut!! Tapi belut listrik, paham kalian!!" Keyvan menekan setiap kata-katanya, dia sempat mendengar jika Rahman dan Bastian menyamakan miliknya dengan seekor marmut, sontak saja dia merasa terhina.
__ADS_1
Rahman dan Bastian kembali dibuat terkejut kala Keyvan sengaja kembali keluar demi mengatakan hal semacam itu. Sungguh di luar nalar Bastian.
- To Be Continue -