Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 64 - Sama-Sama Keras


__ADS_3

Sementara di tempat lain, pria tampan bertubuh tegap dan berisi itu tengah memantau keadaan di luar dari jarak beberapa meter. Ponselnya beberapa kali bergetar, sudah kali kesekian dia tolak tampaknya Keyvan belum menyerah juga.


Dari sudut kamar putri bungsunya dia bisa menangkap sosok menantunya tengah berdiri di depan pagar, bisa dipastikan pria itu basah kuyup. Mungkin Keyvan takkan berhenti sampai ponselnya benar-benar mati.


"Mas."


Mikhail menoleh kala suara lembut istrinya terdengar usai pintu terbuka. Wajah lelah sang istri sejenak membuat rasa lelahnya terhenti, akan tetapi luka dalam batin Mikhail masih sedalam itu tentu saja.


"Kenapa kamu kesini? Khayla tidur sendirian?"


"Sama Rani ... Mas ngapain masih di sini? Tidur, Mas."


Mikhail menghela napas kasar, dia menghampiri sang istri dan menariknya dalam pelukan. Ya, meski mereka bukan pasangan muda lagi, akan tetapi Mikhail masih tetap membutuhkan pelukan Zia sebagai penenangnya.


"Kamu yang seharusnya tidur, Mas jaga anak-anak," ucap Mikhail tersenyum tipis, suaranya bahkan terdengar serak akibat meluapkan amarah.


"Nanti saja, Mas ... aku tidak bisa."


Jika Zia tidak bisa, maka sama halnya dengan dia. Mikhail tidak pernah berpikir untuk tidur setelah mengetahui apa yang terjadi pada putrinya. Harga dirinya sebagai papa benar-benar tergores.


"Sayang, maaf ... seharusnya dulu Mas berpikir dua kali dan mempertahankan Mikhayla dengan cara yang lain," sesal Mikhail yang mungkin takkan berhenti berhari-hari, pria itu bahkan meneteskan air mata mengingat putrinya sehancur itu ketika di tangan Keyvan.


"Bukan salah kamu, Mas."


Nasi sudah menjadi bubur, Zia tidak menyalahkan cara Keyvan yang menikahi putrinya. Akan tetapi, kali ini jiwanya tidak dapat berbohong jika secercah penyesalan itu jelas saja ada.


Bukan hanya penyesalan karena memberikan ruang untuk Keyvan memiliki Mikhayla secara utuh, melainkan juga penyesalan karena tidak melarang sang putri lebih keras malam itu.


"Mas penyebab Khay merasakan hal semacam ini, Zia ... andai Mas bisa menjaga dia lebih baik, mungkin saat ini Khayla tidak akan menangis seperti tadi."


Mikhail tak hentinya menyalahkan diri. Mikhayla yang meraung kala mendapat pelukannya masih terngiang dalam diri Mikhail, sesakit itu rasanya ketika sang putri hendak mengadu tapi mulutnya sudah terkunci karena malu.

__ADS_1


Zia mengerti perasaan Mikhail, mereka sama sekali tidak pernah menyakiti putrinya. Bahkan 18 tahun usia Mikhayla, sekalipun belum pernah dicubit walau mereka semarah apapun.


Wajar saja jika kemarin Zia terkejut kala mendapati tubuh putrinya memerah dan itu bukan di satu titik saja. Mikhayla memang tidak segera mengaku, hanya saja kelembutan Zia membuat Mikhayla perlahan bercerita dan mengungkapkan apa yang terjadi sesungguhnya.


"Sshutt ... Nanti mereka terganggu, Mas."


Mikhail sampai lupa jika mereka bukan di kamar utama melainkan di kamar putrinya. Pasca keluar dari kamar Mikhayla, pria itu pergi ke kamar anak-anaknya yang lain. Hanya memastikan, hatinya sama sekali tidak tenang malam ini.


"Tidak apa-apa, di sini semua jelas terpantau ... lihat, mungkin dia kedinginan di luar sana."


"Evan?" tanya Zia tak percaya, jika benar itu menantunya kenapa tidak diizinkan masuk saja, pikirnya.


"Hm, biarkan saja."


"Apa tidak kasihan, Mas? Kita bawa Mikhayla juga tanpa izin dia. Turunlah, setidaknya berikan penjelasan kalau putri kita lebih baik di sini," tutur Zia mencari jalan tengah karena tidak mungkin sampai pagi Keyvan tetap di sana.


.


.


.


Keyvan menghempaskan ponselnya hingga hancur di sana. Beberapa kali mencoba menghubungi Mikhail meski harus perang dengan air hujan nyatanya tidak membuahkan hasil. Kesabarannya memang tidak sebesar itu, Keyvan yang merasa tidak punya cara lagi nekat naik pagar dan hal ini membuat Bastian dan juga Rahman ketar-ketir.


"Bas, anjjingnya lepas saja kalau pria ini keras kepala."


"Dasar bodoh, sampai Mikhayla bangun kau mau tanggung jawab?"


Brugh


Pagar itu cukup tinggi, dan Keyvan semudah itu melewatinya. Tidak diizinkan dengan cara yang biasa, maka Keyvan akan masuk dengan caranya. Dia masih sempat menarik sudut bibir kala berhadapan dengan Bastian, sudah tentu dia akan berlari dan menerobos masuk ke dalam rumah mertuanya.

__ADS_1


"Keluar, Van ... jangan membuat kami semakin sulit," tutur Bastian khawatir nanti Mikhail akan menjadikannya sasaran amarah akibat gagal mengemban amanah.


"Aku sudah katakan sebelumnya, tidak akan pulang sebelum istriku juga pulang." Watak keras Keyvan memang sepertinya tidak tertolong, terpaksa Bastian menggunakan cara kasar sementara Rahman sudah membukakan pintu gerbang agar Keyvan siap di dorong keluar.


Keyvan yang tidak ingin menggunakan tenaganya untuk menyakiti Bastian segera mendorong pria itu hingga terhuyung dan tidak mampu menahan keseimbangannya. Saat Bastian lengah, Keyvan berlari dan berusaha membuka pintu utama.


Terkunci, beberapa kali dia mencoba membukanya. Hingga, Keyvan terkesiap kala pintu itu terbuka dari dalam, di luar dugaan yang keluar kini Mikhail bersama dengan wajah datar dan tatapan penuh amarahnya.


"Pa ...." Suara Keyvan bergetar, bukan hanya karena dingin melainkan rasa bersalah pada mertuanya.


Bugh


Tanpa aba-aba, Mikhail mendaratkan pukulan tepat di perutnya hingga Keyvan terbatuk karena memang Mikhail memukulnya dengan sepenuh tenaga.


"Untuk apa kau datang sekarang? Hm?"


"Istri_ Mikhayla, izinkan aku masuk untuk menemui istriku, Pa."


"Istri? Kau gagal, Van ... pria sepertimu tidak pantas disebut suami."


Deg


Keyvan tertohok mendengar ucapan mertuanya. Kakinya mendadak lemas dan hilang tenaga, beberapa pernyataan mungkin membuat Keyvan biasa saja, tapi setelah mendengar ucapan Mikhail dia benar-benar terhenyak.


"Pulanglah, izinkan Mikhayla tidur di sini beberapa hari dan jangan diganggu lebih dulu," tutur Mikhail bersedekap dada dan dia berusaha sekeras itu untuk tidak menghajar menantunya.


"Aku akan pulang jika istriku juga pulang, Pa." Keberaniannya untuk mengatakan hal semacam itu masih ada, sontak Mikhail menarik sudut bibir dan berdecih seketika.


"Kau tidak mengerti bahasa manusia, Van? Pulanglah, selagi aku belum benar-benar marah." Sekian lama dia menahan, Mikhail mengeluarkan kalimat legend itu pada menantunya. Kesal karena Keyvan yang keras kepala dan memaksa Mikhayla untuk pulang, Mikhail menggertak Keyvan pada akhirnya.


- To Be Continue -

__ADS_1


__ADS_2