
Terlalu bahagia hingga Keyvan lupa istrinya juga butuh dia. Sontak dia kembali sementara buah hatinya dibersihkan lebih dulu. Sadar betul jika dirinya salah Keyvan mengecup sang istri berkali-kali begitu lembutnya. Akan tetapi, hal itu berbuntut panjang karena setelah kedatangan keluarganya di sore hari wanita itu benar-benar cemberut karena merasa sebal Keyvan abaikan.
"Van, sudah kamu azani?"
Mikhail bertanya tanpa menatap Keyvan, tatapan mata pria itu hanya terfokus pada bayi mungil yang kini berada dalam pelukan Keyvan. Menggemaskan sekali, di usianya yang belum siap jadi kakek Mikhail dianugerahkan seorang cucu perempuan yang luar biasa menggemaskan.
"Sudah, Pa."
Keyvan tidak kebanyakan drama seperti dia, jika dahulu Mikhail harus pingsan dan sebagainya Keyvan tidak demikian. Hanya saja, dia memang melakukan sedikit kesalahan yang membuat istrinya sedikit sebal.
Baru saja beberapa saat Keyvan memeluknya jelas saja kini Mikhail ikut sibuk sendiri dan tidak bisa menahan diri. Sempat khawatir lantaran Mikhayla hamil di usia muda kini semua terbayarkan kala sang putri mampu melahirkan bidadari kecilnya.
"Cantik sekali, baby girl ...."
"Cucu kamu, Mas."
Mikhail sudah berusaha melupakan fakta jika dia sudah tua. Bisa-bisanya kini Zia dengan sengaja datang dan mengatakan hal semacam itu, jelas saja Mikhail terdiam sejenak. "Cucu kamu juga," balasnya tidak mau kalah dan menegaskan jika yang tua bukan hanya dia sendiri tapi Zia juga.
"Iya dong, ini dia cucuku ... gendut ya, ini Khayla keseringan makan ice cream sepertinya," ungkap Zia menyentuh pelan wajah bayi Mikhayla yang begitu halus.
"Ck, tanganmu kotor, Sayang jangan disentuh begitu."
__ADS_1
Sensitif sekali, Keyvan saja tidak protes dan kini Mikhail yang tidak suka Zia menyentuh wajah cucunya. Interaksi dua orang itu tergambar jelas di hadapan Keyvan, gambaran masa depan dia dan Mikhayla mungkin tidak akan jauh dari sana.
"Hai, masih marah ya? Maaf, Sayang ... aku terlalu bahagia, sama sekali tidak berniat mengabaikan kamu, sumpah." Keyvan berucap pelan seraya meraih jemari kiri Mikhayla, harus dengan cara apa dia meminta maaf tapi suasana hati Mikhayla masih buruk sepertinya.
Istrinya dingin sejak tadi, bahkan ketika diminta memeluk putrinya pertama kali Mikhayla hanya berbicara sendiri menyapa putrinya. Tampak bahagia sendiri dan dia memilih untuk mengabaikan Keyvan walau sebenarnya masih butuh bantuan sang suami.
"Kamu tu jahat, padahal belum selesai ... dimana-dimana istrinya peluk dulu, cium dulu atau gimana, bukan main lari begitu."
Dia bicara tapi memalingkan wajah. Keyvan terkekeh sebenarnya, sudah punya anak tapi cara Mikhayla marah masih seperti dulu. Apalagi di sini ada kedua orangtuanya jelas saja dia tidak selepas untuk mengutarakan kemarahannya.
"Iya, Sayang maaf ... lain kali tidak akan begitu, janji."
Keyvan mengecup jemarinya berkali-kali. Padahal hanya sebentar dan itupun tidak benar-benar diabaikan, akan tetapi Mikhayla justru merasa dirinya seakan jadi yang kedua. "Lain kali apanya, lahirannya sudah selesai."
"Ngaco," celetuk Mikhayla tapi dia tidak menepis genggaman Keyvan, wanita itu memang tidak mungkin bisa benar-benar marah karena pada akhirnya dia akan luluh juga.
Kelahiran putri pertama Keyvan dan Mikhayla tidak hanya menjadi kebahagiaan mereka saja. Selain keluarga inti sang istri yang sudah pasti bahagia luar biasa, teman-teman Keyvan juga sama.
Justin dan Keny bahkan belum berkeinginan untuk pulang. Mereka masih menunggu di luar lantaran jika masuk khawatir diusir Mikhail, padahal tidak semenyeramkan itu sebenarnya. Sementara Aisyah terpaksa pulang lebih dulu karena tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga sudah menunggu.
Beberapa menit menunggu, Keyvan keluar dari ruangan lantaran ingat betul jika mereka mengatakan tidak akan pulang cepat. "Van, mertuamu masih di dalam?" tanya Keny cepat kal Keyvan baru saja muncul dari pintu itu.
__ADS_1
"Masih, kenapa memangnya?" tanya Keyvan mengerutkan dahi, sejak awal kedatangan Mikhail mereka memang terlihat takut dan itu sedikit aneh menurut Keyvan.
"Aku ingin bertemu istrimu ... eh putrimu, bisa-bisanya mulutku salah," ujar Keny menutup mulutnya dengan jemari, pikiran pria itu sebenarnya sudah kembali pada putri Keyvan yang hanya sempat dia lihat beberapa menit sebelum posisinya tergantikan oleh keluarga Mikhayla.
"Masuk saja, Papa mertuaku tidak sekasar itu percayalah."
"Kau bisa jamin? Alisnya tebal aku takut, Van." Keny memang sedikit penakut tampaknya akhir-akhir ini hingga dia menganggap Mikhail lebih menakutkan daripada Keyvan.
"Ck, jangan jadi pecundang begitu, Keny ... Papa mertuaku baik apalagi pada kalian, lagipula Mikhayla ingin bicara kalian, terutama Justin." Keyvan berusaha membuat mereka percaya walau memang cukup sulit sebenarnya.
"Aku?"
"Hm, ayo masuklah."
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1
Hai-hai, hari ini aku bawa rekomendasi buat bahan bacaan kalian sementara Mikhayla Up