
Hari berlalu, tanpa terasa pesta pernikahan mereka kian dekat, dan hari ini adalah jadwal fitting terakhir. Keyvan tentu saja tidak masuk kerja lebih dulu, dia ingin hal-hal semacam itu tidak dia lewatkan.
"Apa tidak bisa dirubah saja? Gaunnya terlalu terbuka, aku tidak suka."
Seminggu sebelum harinya, Keyvan protes dan tidak suka lantaran gaun yang Mikhayla pilih begitu terbuka di bagian pundaknya. Kembali lagi, hal ini diakibatkan Keyvan yang terlalu mempercayakan apapun pada sang istri dengan berlandaskan kalimat terserah selagi istrinya suka.
"Waktunya mepet sekali, tapi saya usahakan," ujar wanita cantik yang tampak seumuran dengannya itu, hal semacam ini sudah biasa dan sebagai seorang designer yang sudah berpengalaman tentu bisa dia atasi.
"Kenapa diubah, aku maunya begini ... kamu sih kemarin bilangnya iya-iya aja," kesal Mikhayla namun tidak terlihat marah pada Keyvan karena memang saat ini mereka tidak hanya berdua saja.
Keyvan memang tidak ikut dari awal, yang menentukan semua itu adalah Mikhayla bersama sang Mama. Sementara dia hanya menyetujui dan bertanggung jawab untuk membayarnya, dan ketika sudah hampir usai begini Keyvan justru protes lantaran tidak setuju dengan hasil gaun yang telah selesai digarap itu.
"Ah iya, satu lagi ... jangan terlalu ketat terutama di bagian perutnya, aku tidak mau istriku tidak nyaman. Perihal bayaran jangan khawatir, aku akan membayar dua kali lipat dari harga bajunya," tambah Keyvan tanpa peduli meski sebenarnya itu akan sulit, Mikhayla menatap wanita kenalan mamanya itu dengan tatapan penuh rasa bersalah. Akan tetapi hendak bagaimana lagi karena pada faktanya dia memang Keyvan juga memiliki hak atas segalanya.
"Ah iya, akan kami selesaikan secepatnya."
Segala sesuatu memang akan lebih cepat jika uang sudah berbicara. Keyvan mengakhiri pertemuan hari ini dan membebani wanita itu dengan begitu banyak perbaikan hingga Mikhayla hanya bisa mengucapkan maaf atas sikap suaminya yang ternyata bisa lebih cerewet dari seorang Zia.
Selesai dengan urusan gaun, Keyvan mengajak Mikhayla untuk makan siang sebentar di luar. Meski selalu bersama, ada saja hal yang Keyvan rindukan bersama sang istri, salah satunya adalah makan berdua.
"Kenapa makannya di sini?" tanya Mikhayla sedikit ragu kala Keyvan memilih salah satu restoran yang biasa menjadi tempat favorit dia dan teman-temannya sewaktu masih begitu dekat.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Aku ingin di sini, Khay."
Jika biasanya wanita tidak akan mengalah, lain halnya dengan mereka. Keyvan meminta dengan senyum tulusnya, dan lagi-lagi dia mengalah. Tidak masalah, semoga saja tidak ada mereka yang mungkin bisa menghilangkan naffsu makannya, pikir Mikhayla.
Perlakuan Keyvan masih sama, bahkan semakin manis saja. Pria itu menggenggam jemari tangan Mikhayla sembari memasuki restoran dengan langkah pelannya, hari ini dia sedang memaklumi kaki istrinya yang tidak bisa melangkah secepat dirinya.
Mereka datang tepat jam makan siang, dan tentu saja ramai. Keyvan memilih tempat duduk yang paling sudut dengan alasan lebih nyaman, seperti biasa Mikhayla hanya menurut saja tanpa membantah keinginan sang suami.
Sembari Keyvan memilih menu, Mikhayla mengelilingi tempat ini dengan tatapan tajamnya, khawatie saja jika manusia-manusia itu berada di tempat yang sama saat ini.
"Ck, kenapa mereka ada di sini?"
Benar saja firasat Mikhayla, dari jarak yang tak begitu jauh dia melihat Alka bersama teman-temannya tengah menikmati makan siang bersama. Hanya saja memang belum menyadari kehadiran Mikhayla, sementara Keyvan yang menyadari perubahan sang istri sontak melihat ke arah mata Mikhayla memandang.
"Tidak, hanya sesekali."
Mereka tidak begitu sulit dalam mengungkapkan sesuatu. Mikhayla paham pertanyaan Keyvan begitupun dengan sebaliknya, saat ini Mikhayla memang tidak pernah bersikap pura-pura bodoh demi membuat suaminya sakit kepala.
"Ehm, temanmu hanya mereka?" tanya Keyvan melihat ke arah mereka, mereka masih terlihat muda dan tidak percaya jika sudah memiliki kehidupan yang luar biasa gelapnya.
"Dulu, sekarang tidak ada lagi."
__ADS_1
Mikhayla bicara fakta, saat ini memang tidak ada yang bisa dia sebut sebagai teman di antara mereka. Sekalipun dia berteman itu juga hanya dengan orang-orang yang tidak begitu dekat dengannya, dalam hidup Mikhayla memang tidak ada istilah sababat atau lainnya.
"Hidup tanpa teman, apa baik-baik saja, Khay?"
"Ini temanku, hidupku baik-baik saja, 'kan?" Mikhayla bertanya sembari menempelkan telapak tangannya di dada Keyvan, sebuah jawaban yang lagi-lagi mampu membuat pria itu seakan terbang ke lapisan langit yang lain.
"Kata mama tidak perlu banyak teman jika hanya membuat luka. Apalagi kalau sudah punya suami, cukup jalani hidup bersama pasangan karena sampai akhir hanya dia yang kita miliki ... Berdoa saja dia setia, untuk sekarang cita-citaku cukup begitu saja."
Setia, Keyvan sejenak tertampar dengan cita-cita sederhana Mikhayla. Apa mungkin pernikahan ini yang membuat cita-cita sang istri kian sederhana? Atau memang dari dalam benaknya sudah berubah, pikir Keyvan.
"Kenapa jadi berubah? Masa depanmu jadi dokter bagaimana?"
"Ya itu juga tetap jadi cita-cita, tapi fokus utama ya jadi ibu rumah tangga," ujar Mikhayla mantap sekali seakan benar-benar mampu mengemban tugas sebabai ibu rumah tangga sepenuhnya.
.
.
.
- To Be Continue -
__ADS_1
Yang belom khilaf kirim votenya ditunggu yaa, maaciiiiih💋