Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 113 - Pemaksa/Penyiksa.


__ADS_3

Mendekati ujian akhir semester, Mikhayla belajar sedikit lebih keras. Hal tersebut harus dia lakukan, mana mungkin bisa ada seseorang yang membantu dirinya nanti. Sekalipun itu Mikhail maupun Keyvan, untuk itu dia bahkan tidur larut malam walau sudah Keyvan tekankan jangan sampai menyiksa dirinya.


Seperti malam ini, belum terlalu larut hanya saja jam segini adalah saat untuk mereka naik ke tempat tidur. Lima hari tanpa belaian, membuat Keyvan haus dan meminta waktu Mikhayla malam ini saja. "Sayang, kapan selesainya?"


Sejak tadi pria itu sudah berusaha merusak konsetrasinya. Akan tetapi, kecupan bibir dan gigitan kecil di telinganya hanya membuat Mikhayla terkekeh sebentar. Setelah itu dia fokus lagi, heran sendiri kenapa berbanding terbalik dengannya yang pantang sekali digoda.


"Sebentar ya, empat puluh menit lagi."


Empat puluh menit? Mana bisa, miliknya sudah sesak kini. Pria itu menempelkan keningnya di lutut Khayla, percayalah Keyvan sudah berusaha dari duduk hingga berdiri demi membuat istrinya memilih dia. Akan tetapi, wanita itu hanya mengacak rambutnya sebentar dan setelah itu perhatiannya kembali ke buku, buku dan buku.


"Khayla tolonglah, lima hari kita tidak melakukannya ... kamu kuat?"


Mikhayla menatapnya bingung, ya kuat-kuat saja. Buktinya saat ini Mikhayla tidak tersiksa hanya karena memang dia dituntut untuk fokus dulu kali ini. "Setelah ini ya, sebentar saja ... tahan dulu."


Tahan kata dia? Yang benar saja, Keyvan seakan gila dan dia yang sejak tadi menggigit bibir kini membopong sang istri tanpa aba-aba. Mikhayla yang tidak menduga jika akan terjadi serangan semacam ini jelas saja terkejut bahkan pulpen miliknya terpental cukup jauh di sudut kamar.


"Aku tidak sesabar itu, Sayang."


Keyvan menghempas pelan tubuh Mikhayla di atas tempat tidur, tidak lupa menyingkirkan guling dan selimut yang menurut Keyvan mengganggu ritualnya. Mikhayla hanya terkekeh kala mendapat serangan bertubi dari Keyvan, jika ditanya dia merindukan sentuhan Keyvan atau tidak jelas saja iya. Akan tetapi, ambisinya untuk bisa mendapat nilai sempurna memang menggebu walau terpaksa.


Keyvan tidak bercanda, pria itu benar-benar membawa Mikhayla ke tempat tidur untuk ibadah bersama pasangan halalnya. Naffsunya terlalu menggebu hingga melummat bibir ranum Mikhayla begitu rakus. Tidak mau kalah, Mikhayla membalas aksi Keyvan hingga deccapan yang keluar akibat paguutan keduanya terdengar memenuhi kamar.


Napas Khayla terengah-engah, keduanya meraup oksigen yang seakan tidak cukup untuk melegakannya dalam waktu singkat. Keyvan tersenyum, bibir Khayla yang tampak basah itu kian menggoda dan membuatnya kian tertantang berbuat lebih.


Keyvan turun nenelusuri lekuk tubuh sang istri, sama sekali tidak dia lewatkan sedikitpun. Malam ini, akan dia buktikan siapa yang sebenarnya merindukan kehangatan ini.

__ADS_1


"Sshhh_ Vaaan," dessah Mikhayla kala Keyvan berhasil membuat pinggangnya terangkat, dia yang sejak tadi ditolak ingin membuat Mikhayla memohon setelah ini.


Sebuah kenikmatan tiada tara yang membuat Mikhayla mendongak dengan mulutnya yang kini terbuka lebar kala Keyvan melummat bagian bawahnya. Ini gila, Mikhayla meracau tak karuan, getaran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuhnya.


Jika dahulu Mikhayla akan berusaha menutupi, kini dia membuka kakinya lebar-lebar tanpa diminta lebih dahulu. Semakin memudahkan Keyvan untuk membuatnya terbang ke angkasa, dia yang tadi sudah merasakan sesak di bagian bawahnya kini justru mengutamakan kepuassan istrinya lebih dulu.


"Hmmp_" rintihhan Mikhayla tertahan, dia menggigit bibir agar tidak terlalu berisik. Hingga, di saat dirinya hampir mencapai puncak Keyvan menghentikan aksinya dan membiarkan Mikhayla menatapnya bingung.


Masih terdiam, Mikhayla sebal luar biasa kala Keyvan justru meraih tisu dan mengelap tangannya seolah sudah menyelesaikan tugasnya. Tidak hanya itu, dia juga melakukan hal sama bagian inti Mikhayla yang sejak tadi sudah begitu bassah.


"Sudah? Cuma begitu?" tanya Mikhayla mendelik tak suka, beberapa waktu lalu dia yang meminta bahkan memaksa, kini justru Keyvan sudahi ditengah jalan.


"Hm, kenapa memangnya?" tanya Keyvan santai dengan senyum tipis di bibirnya, pria itu ingin membuat sang istri merasakan hal yang sama dengannya.


.


.


.


"Terus maunya gimana? Hm?" tanya Keyvan menunduk dan mengikis jarak hingga keduanya hanya terpisah beberapa centi saja.


Tatapan keduanya terkunci, Mikhayla menelan salivanya. Dia gugup, gengsi tapi hassrat yang sengaja digantung Keyvan ingin dia tuntaskan juga. Sebagai wanita dewasa, Mikhayla butuh Keyvan malam ini.


"Terusin," gumamnya pelan tapi masih bisa terdengar oleh Keyvan, terlihat jelas Mikhayla benar-benar menginginkan suaminya namun malu untuk meminta.

__ADS_1


"Apa? Aku tidak bisa mendengarmu, terlalu kecil, Sayang."


Mikhayla yang kesal mencubit perut Keyvan, dia yakin pria itu pura-pura tidak mendengar. Keyvan terkekeh melihat wajah cemberut Mikhayla, bisa dipastikan kepalanya akan sedikit sakit setelah ini.


"Apa?"


"Ya itu, yang tadi belum selesai." Mikhayla berucap kecil sekali, sedikit berbisik padahal di kamar hanya ada mereka berdua saat ini.


"Katakan yang jelas, apa yang harus aku lakukan, Istriku sayang."


Aneh sekali, untuk hal lain Mikhayla bisa terang-terangan meminta. Tapi untuk yang kali ini dia malu sekali padahal sudah di depan mata. "Teruskan yang tadi ya?" tanya Keyvan pada akhirnya, mungkin jika meminta Khayla memohon tidak akan ada habisnya.


"Ehm." Mikhayla mengangguk dan tersenyum simpul hingga Keyvan tidak berpikir dua kali.


Apa yang Keyvan dapatkan dari Mikhayla memang tidak dapat dia definisikan dengan kata-kata. Nyatanya, kenikmatan percintaan kedua insan yang saling mencintai memang tidak bisa terungkap dengan lisan.


Keyvan menggerakkan pinggulnya perlahan hingga membuat Mikhayla benar-benar melupakan perkara ujian akhir minggu depan. Dessahan dan rintihhan sang istri kian menjadi kala Keyvan memacu hentakkan pinggulnya seraya merengkuh tubuh mungil sang istri, lagi dan lagi pria itu kembali menghangatkan rahim Mikhayla dengan lahar panas yang menyembur di bawah sana.


Dengan napas yang kini masih terengah, Mikhayla terpejam dan membiarkan Keyvan masih berkuasa di atasnya. Dalam keadaan sama-sama lelah, Keyvan kini ambruk di sisi sang istri. "Tidurlah, jangan pikirkan apapun." Keyvan mengecup keningnya sebagai tanda kasih permainannya telah usai.


- To Be Continue -


Mikhayla : Hallo everyone, siapa yang pernah diprank pasangannya begini?๐Ÿ˜’


Mo kabor, siapin vote buat senin besok jan lupa๐Ÿ’‹ Authornya gerah buat ginian!!

__ADS_1


Salam labu aer๐Ÿ’‹


__ADS_2