Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 130 - Berjuang (Semuanya)


__ADS_3

Entah apa mimpi Justin tadi malam hingga datang ke kantor hanya untuk menjadi sasaran wanita hamil. Mikhayla yang sakit perut tapi dia menjerit kesakitan hingga tubuhnya berkeringat, hingga tiba di rumah sakit Keyvan belum juga tiba entah dimana sebenarnya.


"Anda suaminya?" tanya pria berjas putih itu lantaran sejak tadi Justin terus berada di sisi Mikhayla sejak awal turun dari mobil.


"Buka ... Aaaarrrrgghhh!! Keny!! Astaga, telpon Evan lagi ... Ays, Khayla sakit!!"


Dia bahkan tidak bisa bicara dengan benar lantaran Khayla terus menjadikan rambutnya sebagai sasaran. Demi apapun sejak dahulu tidak ada pernah ada yang berani menyakiti Justin, kini dihadapan Mikhayla pria itu merasa tubuhnya bahkan remuk seketika.


"Jadi bukan suaminya?"


"Bukan, Dok ... tolong tenangkan sedikit, sementa ... Aaarrgghhh!!"


Justin mendongak dan memejamkan mata lantaran Mikhayla benar-benar menarik rambutnya sekuat tenaga. Wanita itu memang tidak berteriak, tapi kekuatan tangannya dalam menarik rambut Justin hingga akar seakan mengalahkan tenaga kuli panggul. Ya, ini pertama kali Justin merasakan sakitnya disiksa wanita.


"Sakit ...."


"Iya, Khayla ... sabar ya, tunggu Evan datang sebent aarrggh ya Tuhan!! Genggam tanganku, jangan dirambut."


Justin menyerah, persetan Keyvan akan marah atau bagaimana nantinya setelah melihat ini. Akan tetapi, yang jelas dia ingin menyelamatkan nyawanya lebih dulu. "Calmdown, Khayla jangan melahirkan sekarang ... Okay," tutur Justin menenangkan istri sahabatnya itu.


"Bang Justin diam dong!!"


"Kamu jangan tarik rambut Abang makanya!"


Dokter yang hendak menanganinya jadi bingung sendiri. Mikhayla yang hendak melahirkan tapi Justin tampaknya perlu juga diselamatkan. Masalahnya, wajah pria di sisi pasien bahkan lebih mengkhawatirkan dari pasiennya itu sendiri.


"Tenang, Pak ... sebagai pendamping Anda harus bisa lebih tenang."


Bagaimana bisa konsentrasi jika suara Justin bahkan lebih besar dari teriakan ketika mengejar maling. Keny yang kini mondar mandir terus berusaha menghubungi Keyvan namun sialnya pria itu mematikan ponselnya usai diminta cepat beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Dokter, saya dehidrasi ... boleh minum sebentar?" tanya Justin dengan suara lemahnya, terlalu banyak berteriak memhuat tenggorokannya sakit.


Ada saja yang diminta, seorang perawat segera membawakan segelas air untuk pria itu lantaran khawatir benar-benar pingsan setelah ini. Justin menegak air itu hingga tandas, dadanya bahkan basah lantaran gemetar ketika memegang gelasnya. Demi apapun, rasanya sungguh luar biasa dan Justin sangat berharap Keyvan segera datang menyelamatkannya.


"Aku butuh suamiku, Bang Justin," keluh Mikhayla susah payah menahan sakitnya, hal sama yang Justin rasakan hingga dia mengangguk seraya berucap lemah.


"Aku juga butuh dia, Khayla."


Jika harus bertahan beberapa saat lagi mungkin Justin benar-benar akan kehilangan tenaga. Pria itu sejenak terpejam seraya mengambil napas dalam-dalam karena memang Khayla sedikit lebih tenang saat ini.


"Dok, kenapa dia berhenti? Apa cuma kontraksi palsu?" tanya Justin kemudian, jika benar demikian maka Keyvan harus ganti rugi padanya atas apa yang dia dapat hari ini.


"Bukan begitu, tampaknya dia hanya menahan ... sabar saja, masih lama."


Benar saja, baru saja selesai ucapan pria itu, tangan Mikhayla yang tadinya dia genggam kini kembali menarik rambut Justin hingga dia menutup mulutnya kuat-kuat. Ya, tentu saja dia khawatir suaranya benar-benar habis kali ini.


"Mikhayla."


"Van?"


Di saat yang hampir saja terlambat Keyvan akhirnya datang dengan langkah pasti dan meminta Justin bergeser. Bak anugerah di siang hari, Justin benar-benar bersyukur pria itu datang tepat pada waktunya.


Syukurlah dia tidak bermimpi, Mikhayla yang tadinya hanya berusaha menahan sakit kini menangis kala Keyvan meraih jemarinya. Justin yang kehilngan tenaga kini terdiam begitu saja dan perlahan keluar dari ruangan, sudah cukup dan dia trauma masuk ruangan semacam ini.


"Sayang maaf, aku terlambat."


Keyvan mengecup keningnya begitu dalam, Mikhayla tampak lebih tenang ketika Keyvan hadir di sisinya. Walau memang tidak bisa dipungkiri rasa sakit itu luar biasa bahkan hendak membuka mata saja rasanya sulit.


"Kenapa lama?"

__ADS_1


Matanya membasah, ingin sekali marah tapi tenaganya jelas sudah tidak ada. Sementara Keyvan kini masih memendam kemarahan pada Keny yang salah memberikan informasi rumah sakitnya, andai saja tidak drama semacam itu pasti Keyvan tidak akan terlambat karena ini.


"Maaf, Sayang ... tadi ada drama sedikit, sudah lupakan fokus saja untuk hari ini ya."


Jika melihat pasiennya lebih tenang begini dokter dan tim medisnya bisa perpikir sedikit jernih. Ya, walau memang tidak mungkin seorang pasien yang melahirkan akan sesantai itu, akan tetapi kali ini setelah Keyvan datang Mikhayla sedikit bisa dikendalikan.


Beberapa waktu berlalu, Keyvan memang berhasil membuatnya tenang. Akan tetapi, hal semacam itu tidak dapat dijadikan jaminan hingga akhir proses dia akan selamanya tenang.


"Aaaaaaawwww sakiiiit," keluh Mikhayla lagi-lagi terpejam dan dokter di sana siap-siap untuk mendengar teriakan dari Keyvan, tampaknya tenang Mikhayla hanya bersifat sementara.


Dan


"Hhmmppp!!"


Ya Tuhan tenaganya kenapa sekuat ini


Keyvan menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan agar tidak mengeluarkan suara bak sangkakala itu. Setelah tadinya rambut Justin, kini berganti. Tidak hanya rambut yang Mikhayla jadikan sasaran tapi juga menggigit tangan Keyvan hingga pria itu menjerit tertahan.


Dokternya sibuk membimbing Mikhayla menarik napas sementara Keyvan sibuk mengatur napas, seketika ruangan tersebut benar-benar melelahkan untuk Keyvan. Lelah melihat perjuangan sang istri dan lelah karena jadi sasaran amukan Mikhayla, pria itu benar-benar menangis dan bukan hanya karena satu sebab saja.


"Tarik nap_"


"Sakit, aku tidak mampu lagi ...." Dada Mikhayla tampak naik turun perlahan dan memang semelelahkan itu.


"Khayla jangan bercanda, sedikit lagi, Sayang ayolah."


- To Be Continue -


Hai-hai, aku mau menyampaikan permintaan maaf karena kemarin hanya sempat up satu bab. Jadi kemarin aku tu kesana kesini buat siapin berkas supaya bisa lamar kerja, sampai di malam hari dan ternyata malah yaah😌 Bantu doanya temen-temen agar segera dapat kerja karena memang sedang di titik downnya apalagi dengan cercaan para tetangga. Aku bisa up secara konsisten itu ketika mood terjaga dan ga banyak pikiran, dan kemarin memang tidak baik-baik saja. Aku butuh Aamiin yang tulus dari kalian gengs, hidup di sini luar biasa cercaannya karena mereka memang tidak mengetahui apa yang aku lakukan (Rutinitas sebagai penulis). Terima kasih ya sudah mengikuti tulisan-tulisanku dan merasa terhibur, aku sayang kalian semua❤

__ADS_1


__ADS_2