Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 89 - Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

"Van, kenapa masih masuk? Biasanya calon pengantin sibuk ... Iya kan, Ken?" tanya Justin sengaja mengusik Keyvan yang kini tampak fokus dengan dokumen-dokumen yang ada di hadapannya.


"Papa yang urus," jawab Keyvan singkat, hal itu sukses membuat Keny dan Justin menganga.


"Woah, mertuamu baik sekali ... beda kelas dengan mertuaku," tutur Keny menggeleng pelan, dia yang sudah menikah dua tahun sampai saat ini masih menjadi musuh bebuyutan orangtua istrinya.


"Kau kurang kaya, Ken."


"Siallan, memang hati mertua Evan yang mulia, buktinya masih baik padahal putrinya diculik bahkan hampir di_"


"Keny!!" sentak Keyvan seraya melemparkan pulpen tepat di wajahnya, memang seharusnya dia tidak bercerita terlalu banyak pada Keny agar kejadian semacam ini tidak terjadi.


"Bukan maksudku membahas hal itu, Van ... aku hanya kagum pada mertuamu, itu saja."


Pria itu benar, Keyvan tidak membantah jika mertuanya memang luar biasa baik. Padahal Mikhail juga sibuk, dengan profesinya sebagai Presdir MN Group dia masih sempat mengambil alih pesta pernikahan Keyvan bersama putrinya.


"Mertuaku memang baik," ucap Keyvan membenarkan kemudian kembali fokus dengan pekerjaannya.


Beberapa detik terdiam, Keyvan kemudian menatap Justin sebelum bertanya sesuatu yang mungkin sedikit aneh bagi mereka.


"Justin, bagaimana cara agar istri cepat hamil?" Pertanyaan aneh terlontar dari bibir Keyvan hingga Keny dan Justin saling menatap satu sama lain.


"Kau bertanya pada siapa? Yang istrinya hamil hanya Keny di sini," ungkap Justin sedikit meninggi, dia bahkan tidak pernah punya cita-cita menghamili wanita mendapat pertanyaan ini jelas saja sedikit terkejut.


"Kenapa dengan pertanyaanmu? Bukankah Lio_ ah iya, lupa."


Keny mengusap wajahnya, dia benar-benar lupa tentang itu. Sementara Justin menatap keduanya bergantian hingga suasana di ruangan itu mendadak berubah.


"Kau yakin Liora sejahat itu, Van?" tanya Justin kemudian, jujur saja ucapan Mike sedikit tidak bisa dia percaya karena memang dia mengenal Liora sejak lama.


"Foto-foto di ponsel Mike sudah menjawab keraguan Evan, Justin ... kau jangan lupa bagaimana latar belakang dan pergaulan Liora sebebas apa ketika belum menikah." Keny angkat bicara, meski mereka juga berteman akan tetapi naluri Keny berkata jika Mike jujur dan memang Keyvan korban dalam hubungan ini.


"Benar juga, tapi itu hanya foto biasa dan tidak ada video mereka berdua sedang diranjang atau semacamnya."


Bugh

__ADS_1


"Sinting, tidak semua orang sepertimu, Justin." Keny yang gemas dengan isi otak Justin sontak mendaratkan pukulan di pundak sahabatnya itu, bahkan ingin rasanya dia melempar Justin dari lantai paling atas.


"Itu hanya pendapatku, kalau menurutmu sendiri bagaimana, Van?"


"Awalnya tidak percaya, tapi foto dan pengakuan Mike sudah cukup, Justin ... Apalagi, sekarang istriku belum hamil juga, sementara bersama Liora hanya sekali tanpa pengaman dan dia bisa hamil secepat itu," ujar Keyvan menatap nanar tanpa arah, jujur saja kala mendengar pernyataan Mike tersebut ada sebuah kekhawatiran dalam diri Keyvan.


"Belum saja, yang penting usaha, Van ... Lagipula buat anak adalah pekerjaan paling menyenangkan," sahut Keny benar-benar memberikan ketenangan dan mendapat tatapan mata malas dari Justin, bingung sendiri kenapa bisa seorang wanita tertarik menjadi istri sahabatnya ini.


"Benar juga, atau kalau kau butuh bantuan aku siap, Van." Justin seenaknya bicara hingga wajah Keyvan merah seketika, bukan malu melainkan marah tentu saja.


"Keluar kalian berdua!! Merusak suasana hatiku saja." Pembicaraan mereka semakin tidak beraturan, Keyvan yang sebal kini mengusir keduanya untuk segera pergi dari ruangannya.


.


.


.


Sementara di sisi lain, Mikhayla yang masih produktif tetap mengikuti perkuliahan seperti biasa. Pengumuman itu berdampak positif lantaran memang desas-desus itu berhenti dan Alka tidak memiliki keberanian untuk mengusiknya lagi, hanya saja saat ini Mikhayla merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya hingga dia memilih pulang sebelum kelas berakhir.


Hatinya sedikit gusar dan segera dia meminta Bastian untuk mendatangi kantor Keyvan. Belum pernah, dan entah kenapa Mikhayla benar-benar ingin datang menemui sang suami, entah karena kerinduan atau memang ada yang terjadi pada Keyvan.


"Masih, kemarin pernah antar Bos besar ke kantor Evan, suamimu orang hebat ternyata, Khay." Bastian memuji Keyvan sebaik itu, tanpa dia ketahui jika Keyvan justru menganggap pria itu sebagai saingan.


Mikhayla tidak lagi banyak bertanya, dia menikmati perjalanan bersama Bastian sembari berharap tidak terjadi hal buruk dengan suaminya. Jika dia ingat-ingat, mereka berdua tidak pernah makan siang bersama jika tengah sibuk dengan dunia masing-masing, jujur saja dia menginginkan hal yang sama seperti mamanya.


Cukup jauh perjalanan yang diempuh, bersama Bastian dia memasuki gedung mewah itu. Sebenarnya hal semacam ini sudah biasa bagi Mikhayla, dia yang memang memiliki latar belakang keluarga kaya jelas tidak terkejut lagi. Akan tetapi, yang dia lihat kali ini memang lebih megah dari gedung perusahaan papanya.


"Om, aku tidak terlihat norak kan?"


"Tidak, sejak bayi Nona Khayla sudah elegan."


Hiperbola memang bukan hanya dianut Mikhail saja, melainkan anak buahnya juga. Mikhayla berdecak kala dianggap elegan sejak bayi oleh Bastian, ingin dia terbahak tapi dia menjaga diri sebaik-baiknya.


Baru saja hendak melangkah, dari kejauhan dia melihat tiga pria tampan tengah berjalan berdampingan. Hati Mikhayla bergetar padahal setiap malam dia memandangi pemilik wajah tegas yang kini tengah mengenakan kemeja hitam itu.

__ADS_1


"Om, hidungku tidak mimisan kan?" tanya Mikhayla pelan dengan pandangan yang masih fokus ke depan, memandangi wajah tampan Keyvan.


"Tidak, tapi Nona berkeringat ... saya ambilkan tisue di mobil ya?"


"Tidak, aku baik-baik saja."


Semakin dekat, jantung Mikhayla semakin tidak aman. Mungkin karena ini pertama kali dia melihat Keyvan seserius itu di kantor. Langkah tegas dan tubuh tegapnya membuat Mikhayla bergejolak dan ingin sekali berteriak pada dunia membanggakan jika pria itu adalah suaminya.


"Jika memang kami berjodoh sampai mati, dia akan melihatku dalam tiga detik," gumam Mikhayla pelan dan terdengar jelas oleh Bastian.


One ... Two ... Three ...


"Mikhayla."


Tepat, Keyvan yang menyadari kehadirannya segera menghampiri Mikhayla bahkan mendahului Justin dan Keny yang sedang bicara serius padanya.


Tatapan orang-orang jelas saja tertuju pada mereka, Keyvan yang diketahui sebagai duda itu jelas membuat mereka yang belum mengetahui hal ini bingung.


"Hai, kenapa tidak kasih kabar kalau datang ke sini, Sayang?" tanya Keyvan lembut dan ini di luar dugaan Mikhayla yang mengira pria itu akan marah dengan kehadirannya.


"Ganggu ya?"


"Tidak, aku baru saja ingin makan siang ... kamu juga belum kan?" tanya Keyvan yang kemudian diangguki Mikhayla dengan cepat, kehadiran sang istri yang tidak pernah dia duga ini memang sedikit mengejutkan. Akan tetapi, Keyvan sebahagia itu bahkan tidak ragu memeluknya meski akan menimbulkan pandangan negatif untuknya.


"Ya sudah, kita makan siang bersama kalau begitu ... Om, gabung sama mereka ya. Justin, titip Om Babas kami harus berdua," ujarnya seenak dengkul merubah rencana, Justin dan Keny yang sudah bahagia akan ditraktir pria itu hanya menatapnya datar namun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Harinya Evan, suka-suka dia lah." Keny pasrah menatap punggung sahabatnya yang kini kian menjauh, semudah itu dia menentukan kala Mikhayla yang menjadi alasan.


"Kau tidak akan ditelpon istrimu saat makan kan?"


"Aman-aman, hari ini sudah izin makan siang di kantor," jawab Keny santai, wajah Justin sudah tidak baik-baik saja dan naffsu makannya perlahan hilang.


Drrrrt Drrrt Drrt


"Halah, ya sudah Om kita makan berdua saja," ungkap Justin menarik pergelangan tangan Bastian, sontak hal itu jadi sorotan. Sementara Keny kini tengah memastikan siapa yang menelponnya, "Ck, ternyata cuma kurir ... Justin!! Tunggu aku!!"

__ADS_1


- To Be Continue -



__ADS_2