Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 54 - Tidak Semudah Itu.


__ADS_3

"Kenapa? Biasanya suka dipeluk?" tanya Keyvan mengerutkan dahi merasa benar-benar bingung dengan reaksi Mikhayla saat ini.


"Takutnya nular, jangan dekat-dekat."


Sudah salah menduga, ternyata jawabannya membuat Keyvan ingin melayang di udara. Mikhayla menolak karena khawatir sang suami merasakan hal sama, sebelum terjadi alangkah lebih baik dihindari. Ya, begitulah pesan keramat dari sang papa yang masih dia terapkan hingga saat ini.


Alih-alih menjauh pria itu kian mengeratkan pelukannya. Setiap saat ada saja hal yang membuat istrinya bukan wanita biasa, meski terkadang Mikhayla tampak seperti balita yang terkadang sesukanya. Namun, di sisi lain Mikhayla akan mampu bersikap dewasa sesuai dengan perannya sebagai istri untuk Keyvan.


"Tidak akan, sekalipun benar bisa terjadi hal semacam itu kenyataan aku rela menerima semua rasa sakitmu."


Mikhayla sontak mencubit pelan perut sang suami kala mendengar kalimatnya yang kini semanis madu. Padahal dia sudah hampir tiap hari mendapat kalimat bualan dari Alka sewaktu pacaran, seharusnya dia biasa saja. Akan tetapi hal itu terasa berbeda jika terlontar dari bibir Keyvan.


"Awww sshh ... sakit, Khay."


Nampaknya memang sejak zaman purbakala wanita sama saja. Salah tingkah dan justru berakhir menyakiti pasangannya, cubitan yang Mikhayla berikan juga bukannya pelan. Melainkan disertai tenaga dalam, jelas saja dia meringis karena memang cubitan sang istri terasa luar biasa panasnya.


"Hiperbola, aku geli lama-lama," ucap Mikhayla sama sekali tidak bermaksud menyinggung, hanya saja dia bingung bagaimana cara untuk menutupi kegugupannya.


"Hahaha, digelitiki saja tidak kenapa bisa geli."


Keyvan yang sejak tadi memang memeluknya, kini kian mengeratkan pelukan hingga Mikhayla seakan tidak punya ruang untuk bernapas. Keyvan terlalu gemas, sementara Mikhayla tidak sadar jika semua yang dia lakukan justru membuat Keyvan menggila setiap detiknya.


"Kenapa meluknya harus gini, aku sesak," desis Mikhayla merasa sedikit risih dengan pelukan sang suami yang berlebihan saat ini.


"Kamu pusing?"


"Sedikit," jawabnya singkat, padat dan membuat Keyvan makin menerka-nerka.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan kamu hamil, Khay?"


Bugh


"Masa secepat itu, yang kita buat bayi ... bukan puding."


Mikhayla yang tadinya terpejam terbangun tiba-tiba akibat ucapan Keyvan. Suaminya hanya terkekeh mendengar jawaban asal ceplos dari sang istri.


"Memangnya butuh berapa lama?" Keyvan penasaran, karena ketika dia membuat Liora hamil juga tidak menghitung berapa lama prosesnya.


"Tergantung kesuburan kita berdua, tapi tidak secepat itu juga."


"Terus kamu mendadak panas begini karena apa?" tanya Keyvan menarik sudut bibirnya, hal aneh dan tidak bisa masuk logika jika dalam sekejab Mikhayla bisa sepanas itu.


"Entahlah, mungkin karena di sana dingin."


Benar juga, meski cuaca cerah akan tetapi memang udara di sana terasa dingin. Jawaban yang sedikit mengecewakan sebenarnya, karena Keyvan berharap istrinya tidak nyaman begini dikarenakan faktor lain yang akan menjadi berita baik untuknya. Ya, meski dia paham kabar yang dia harapkan itu bukan yang Mikhail tunggu juga.


Dia menggeleng, sejak tadi sebenarnya Keyvan sudah bertanya. Akan tetapi, dia memang enggan untuk berurusan dengan dokter dan merasa tidak begitu parah, hanya panas yang biasanya akan mereda dengan sendirinya.


"Telpon Papa mau?"


"Jangan, nanti mereka khawatir ... kalau Papa sudah datang ke sini memangnya kamu tidak tertekan batinnya?"


Sebenarnya tertekan, karena jika berada di bawah pengawasan Mikhail ruang geraknya terbatas dan bahkan tidak memiliki waktu untuk Mikhayla. Jangankan bercumbu, hendak memeluk saja tidak bisa karena was-was diintip sang mertua.


Tanpa dia duga jika Mikhayla memahaminya sebaik ini. Liora saja yang dahulu sudah dewasa secara usia, jika untuk Keyvan terkadang dia tidak bisa memahami sepenuhnya. Semakin yakin jika Mikhayla yang dahulunya seakan wanita polos yang tidak mengerti apa-apa hanya tameng untuk menghindarinya.

__ADS_1


"Benar juga, tapi Papa sepertinya orang yang baik jika sudah saling mengenal."


"Papaku baik, bahkan sangat-sangat baik ... jadi menyesal suka bohong di belakang Papa." Matanya tampak sendu, penyesalan itu memang nyata dan Mikhayla tidak bisa membohongi batinnya.


"Bohong yang bagaimana?"


"Ehm banyak ... pamitnya ke perpustakaan, tapi akunya pergi ke tempat lain yang Papa larang."


"Club malam maksudmu?" Keyvan mengerutkan dahi, andai benar Mikhayla senakal itu ingin sekali dia gigit sang istri saat ini.


"Bukanlah, walau bohong yang terakhir memang aku ke sana. Tapi, sebelum-sebelumnya tidak, paling parah ya ke Apartement Alka sebenarnya," tutur Mikhayla tanpa dosa dan berhasil membuat suaminya panas dingin, suasana hati Keyvan mendadak berubah dan dia hanya menghela napas kasar mendengarnya.


"Tapi ada Mamanya, jadi aku di sana cuma makan siang." Mengerti maksud helaan napas Keyvan yang terdengar berbeda itu, Mikhayla segera memberikan penjelasan pada sang suami.


"Hm, selagi dia tidak memakanmu tidak masalah ... tapi jangan pernah melakukan hal semacam itu padaku, Khay. Papa mungkin bisa memaafkan kebohonganmu, tapi aku tidak. Kamu tidak lupa bagaimana aku marah kan?"


Pembahasannya jadi serius, Keyvan menatapnya lekat-lekat demi tersampaikan betapa seriusnya dia bicara. Mikhayla mengangguk perlahan, paham sekali bagaimana jika suaminya marah.


"Sangat-sangat ingat ... aku bahkan hampir diperkossa, mana mungkin bisa lupa."


"Ya makanya jangan membuat marah kalau tidak mau diperkossa," ucap Keyvan menarik sudut bibirnya, sedikit geli tapi bibirnya bicara begitu saja.


"Tidak masalah, aku pasrah kalau sekarang mah ... tidak akan menolak sumpah," jawabnya seenak jidat dan membuat Keyvan bingung sendiri hendak menjawab apa setelahnya.


"Siallan, bisa diam sebentar, Mikhayla ... sepertinya kepalaku mulai sakit juga." Heran juga seorang Mikhayla akan selalu membuat resah dengan segala tingkahnya.


"Kepala yang mana?" tanya Mikhayla dengan santainya dan mendongak menatap wajah tampan Keyvan.

__ADS_1


"Diam, Khay ... sudah sakit masih saja," gumamnya pelan, bingung sekali kenapa makin kesini Mikhayla makin menjadi.


- To Be Continue -


__ADS_2