
Dikasih hati, mintanya jantung. Iya, itu adalah kalimat yang pas untuk seorang Keyvan. Menyesal sekali Mikhayla berinisiatif mengecupnya beberapa saat lalu, kini dia terjebak dalam rengkuhan Keyvan yang ternyata benar-benar menuntut lebih.
Baru saja membahas sifat Keyvan yang pemaksa, kini pria itu benar-benar memperlihatkan jika dia memang pemaksa. Mikhayla seperti kesulitan menyeimbangi skill Keyvan yang dia anggap sebagai pro-player sejak malam itu, hal ini semakin membuatnya ragu jika Keyvan tidak pandai bermain wanita.
Awalnya saja yang kecupan, lama-lama berubah menjadi lummatan dengan gigitan kecil di bibir sang istri. Keyvan menyesapnya lembut namun tetap sedikit menuntut, belum lagi tangannya sudah menelusuri lekuk tubuh Mikhayla hingga Mikhayla sejenak meremang rasanya.
Jika sudah mendapatkan kesempatan, Keyvan mana mungkin melepaskan. Bibir ranum Mikhayla dia lummat hingga sang istri kewalahan dibuatnya, niat hati hanya menambah kecupan di pipi, nyatanya kini Keyvan mengambil alih hingga Mikhayla sesak dibuatnya.
"Manis," puji Keyvan mengusap bibir istrinya yang kini basah dengan jemarinya. Pria itu tersenyum simpul kala Mikhayla memperlihatkan wajah cemberutnya.
"Ingat baik-baik ... kecupan berbeda dengan ciuman, Mikhayla."
Licik sekali, Mikhayla mendorong dada Keyvan hingga pria itu terkekeh. Yang benar saja, jika setiap berterima kasih harus sesak begitu berat juga baginya. Mikhayla merapihkan pakaian yang hampir saja dibuka sang suami, jemarinya memang secepat itu bertindak.
Keyvan beranjak bangun dan duduk di tepian ranjang, memerhatikan langkah Mikhayla yang menghampiri meja belajarnya, sudah jelas buku-buku itu akan dia bawa semua.
"Apa tidak sekalian sama mejanya?"
Itu sindiran, Keyvan bingung melihat Mikhayla yang seperti akan pindah besar-besaran. Akan tetapi, bukannya paham jika Keyvan hanya sarkas, Mikhayla justru menganggap suaminya benar-benar mengizinkannya.
"Boleh ya, Om? Aku sayang sama mejanya."
Keyvan menghela napas perlahan, memang pantang bicara asal jika pada istrinya. Pria itu bingung sendiri, seolah Keyvan tidak bisa membeli meja belajar yang lebih. baik dari itu.
"Bercanda, Mejanya tetap disini ... kamu beli yang baru, Khayla."
Bukan hanya memikirkan cara membawanya. Melainkan dia khawatir orang tuanya akan terkejut jika menyadari kamar Mikhayla sudah kosong begitu.
"Seharusnya diam saja tadi," gumam Mikhayla pelan sekali, dia mengalihkan pandangan dari Keyvan dan kembali fokus dengan pekerjaanya.
"Aku bisa mendengarmu, Khay."
Hah? Mikhayla sontak menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bisa-bisanya Keyvan tersadar dan mendengar dia bergumam sepelan itu. Beruntung saja Mikhayla tidak mengucapkan kata-kata mutiaranya.
.
__ADS_1
.
.
Rencana Keyvan tidak terealisasi pada akhirnya. Meski dia berencana hanya mengambil perlengkapan Mikhayla, malam ini Mikhail belum mengizinkan mereka pulang segera.
"Siapa namamu?"
Sempat mendapat perlakuan tidak sopan dari Zean, Keyvan sama sekali tidak dendam. Usai makan malam, dia menghampiri Zean yang tengah bermain game di sofa ruang tamu.
"Zean."
Jawabannya singkat sekali, Keyvan hanya menarik sudut bibir mendengar cara Zean menjawab. Begitu berbeda dengan Mikhayla yang berani sekali berkata padanya, entah karena baru mengenal atau memang begitu watak Zean.
"Jangan terlalu dekat, matamu bisa rabun nanti."
Fokus Zean terganggu, dia menghela napas kasar dan mengakhiri permainan. Dengan wajah datarnya dia menatap Keyvan seraya meletakkan ponselnya ke sisinya.
"Om siapa sebenarnya? Kenapa Mikha pulang-pulang bawa Om segala?"
Pertanyaannya sedikit menyebalkan. Tapi tidak mengapa, Zean berhak bertanya seperti itu. Keyvan menopang dagunya, sempat tidak terbiasa dengan panggilan Om yang Mikhayla berikan. Kini, dia mengerti jika dia memang pantas disebut Om setelah Zean juga memanggilnya begitu.
"Apa memangnya?"
"Apa di matamu aku setua itu?" tanya Keyvan menatap mata tajam Zean, pria itu tersenyum kemudian setelah bertanya hal sensitif itu.
"Hm, Om seperti seumuran Mama ... tapi kenapa Papa bilang om suaminya kak Mikhayla?"
Fakta, tapi tidak bisa dia bantah. Umur dia dan Zia hanya terpaut tujuh tahun saja, wajah Zia yang memang awet muda jelas membuat Zean berpikir mereka seumuran. Sebagai pria yang sudah bisa berpikir dewasa, Keyvan tidak mungkin marah perkara dikatakan tua oleh adik iparnya.
"Ah begitu ternyata, tapi aku tetap suami kakakmu ... jadi panggil aku sebagaimana mestinya, Zean."
Dia berani memerintah Zean sementara istrinya tidak dia protes. Pria itu mungkin terima dianggap tua oleh istrinya sendiri tapi tidak dengan yang lainnya. Zean yang sama kerasnya seperti Keyvan jelas tidak akan menurut begitu saja, dia hanya menghela napas kasar kemudian melanjutkan permainannya.
Baru saja hendak memulai ulang, Zean sudah menggila lantaran kalah dalam permainan. Kata-kata mutiara yang keluar dari mulutnya sejenak membuat Keyvan membeliak.
__ADS_1
"Sini kuajarkan strategi jika ingin menjadi pemenang."
Keyvan mengambil alih ponsel Zean, dia yang sedang kesal pasrah begitu saja. Jemari Keyvan yang biasa bertempur dengan sibuknya pekerjaan, kini tampak ahli dengan benda pipih di ponselnya.
Zean yang sejak tadi menolak kehadiran Keyvan, kini tampak bisa menerima hanya dengan kemampuan Keyvan merebut hatinya. Kekesalan pada pria itu kini tergantikan dengan kekaguman pada sosok orang baru yang masuk dalam keluarganya ini.
"Woah ... Kakak keren sekali, aku pikir tidak suka game seperti Papa."
Keyvan tidak salah dengar, Zean memanggilnya dengan sebutan kakak dan bahkan berani menepuk pundak Keyvan lantaran dibuat kagum luar biasa dengan kemampuannya.
"Oh iya? Terus Papa sukanya apa?" tanya Keyvan spontan, dia juga ingin mengenal Mikhail dari kacamata yang lain.
"Kartun, Papa suka kartun."
Hah? Keyvan butuh beberapa waktu untuk memahami. Yang benar saja pria itu suka kartun? Mendengar ucapan Zean dia teringat akan kebiasaan istri kecilnya setiap selesai mandi dengan balutan handuk di atas lututnya.
"Kau bercanda?"
"Tidak, Kak ... memang Papa suka kartun, bahkan kalau menonton sampai berdebat karena aku dan Sean suka action tapi Papa sukanya kartun."
Keyvan tersedak ludah mendengarnya, pria dengan penuh wibawa dengan tatapan mata tajam bak elang itu memiliki fakta unik yang sama sekali tidak dia duga.
"Ehem!! Kalian bahas apa?"
Suara khas yang terdengar berat itu membuat Keyvan dan Zean sontak menoleh. Mereka dibuat terkejut dan bahkan melongo kala menyadari pria gagah dengan secangkir teh di tangannya tengah berdiri dengan tatapan mautnya.
- To Be Continue -
Hai-hai, ini para istri online Keyvan pada mau tabok bahkan buang othornya ke laut ... aduh ngerinya🤣😂
Sabar cintaku!! Aku up ini banyak ih. Kemarin aku dapat komen di Mikhail kalau ceritaku terlalu panjang epsnya, terus rada loncat-loncat kejauhan dan buat bingung. Jadi untuk yang kali ini aku akan berusaha buat novel yang lebih detail dan berurutan antara eps sebelumnya dengan seterusnya, ya aku mencoba lebih baik guys.
Oh iya, ada yang mau aku sampaikan. Terkhusus di Mikhayla Give awaynya aku ambil dari top 3 pendukung hadiah dan 10 komentar terseru, teraktif, ter-bar" juga boleh. Kenapa begini thor? Hal ini aku buat karena di Syakil aku lihat komennya ada yang bingung perihal kasih dukungan lewat hadiah, jadi untuk seru-seruan aku mau ambil 10 Komentar terbaik dan tersetia sama Keyvan😘
Top 1-3 Pendukung hadiah 50K ... syarat Diamond🤣 (Banyak syarat ya, Thor!! Iya dong, masa ga adil jaraknya jauh banget antara 1 sama 2 dan 3)
__ADS_1
25K untuk 10 komentar terpilih, ini biar adil ya, Bestie.
Dah Babay, tampar Keyvan pakek vote setiap senin jangan lupa!!