Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BAB 87 - Ketakutan Masa Depan


__ADS_3

Dampak dari Mikhayla yang mengumumkan tangal pesta pernikahannya bersama Keyvan ternyata tidak sesederhana itu. Saat ini, baik Mikhail maupun Zia semua mendadak gusar dan bergerak cepat akibat ulah putrinya. Tidak hanya itu, Syakil dan Amara yang baru saja hendak tenang di negaranya terpaksa pulang lantaran Mikhail ingin pihak keluarga besar harus datang dari jauh-jauh hari.


Tidak ingin pernikahan putrinya tanpa kenangan seperti dia, Mikhail mengambil alih dan mempersiapkan segalanya tanpa harus membuat Keyvan sakit kepala. Ya, dia paham ulah sang putri bisa jadi membuat Keyvan naik darah, dan sebagai mertua yang baik dia tidak ingin menantunya tertekan dengan keadaan ini.


Malam harinya Keyvan dan Mikhayla menyampaikan niatnya secara resmi, besok paginya Mikhail sudah bergerak. Pria itu melibatnya banyak orang, bahkan tiga minggu sebelum pesta kediaman Mikhail sudah ramai. Pria itu sengaja memperkenalkan Keyvan dengan pihak keluarga besar, baik dari pihaknya maupun Kanaya. Meski sudah ada beberapa yang mengenal, akan tetapi tidak seluruhnya mengetahui pernikahan mereka sudah dilakukan.


"Khay, perasaan dulu bilangnya nggak punya pacar ... eh tiba-tiba punya suami," tutur Erika penasaran, sahabat lama Zia ini dibuat terkejut atas berita yang Mikhail sampaikan dan meminta dia bersama Zidan untuk datang menuju kediamannya.


"Si Khay kecil-kecil tapi seleranya sama seperti Zia waktu muda, bener nggak?" Zidny yang kini tengah memotong apel ikut bicara, suasana di rumah Mikhail benar-benar sehangat itu, para sahabat dan keluarga benar-benar Mikhail satukan demi membuat Keyvan dikenal.


"Hahah benar juga, bentukkannya mirip sih ... cuma gantengan Evan dikit," Laura yang sejak tadi memotong bolu kukus kesukaan Mikhail turut bersuara. Andai dahulu Keyvan hidup di zamannya, mungkin dia dan Zidny tidak akan berebut Mikhail sewaktu muda.


"Dapat dari mana, Khay?" tanya Erika penasaran, karena dahulu Zia mendapatkan Mikhail dengan cara yang tidak waras, dia khawatir hal sama juga akan terjadi.


Pertanyaan seperti itu banyak sekali dia dapatkan, Mikhayla mendadak memerah dan bingung jika harus bercerita. Mana mungkin dia katakan sejujurnya jika Keyvan menculik dan menikahinya secara paksa malam itu.


"Dari Tuhan, Tante."


Jawaban yang tidak akan pernah salah, tapi sama sekali tidak benar juga. Mikhayla menjawab seenteng itu dan berhasil menciptakan gelak tawa di dapur. Zia juga tidak bisa membantu putrinya karena di sini ada Laura yang merupakan istri Zico, rasanya tidak mungkin Zico akan merahasiakan hal ini dari istrinya.


"Memang jodohnya, Erika ... pertanyaanmu membuat keponakanku pusing saja," ucap Amara kemudian membuat Zia dan Khayla menghela napas lega.


Apa yang dia alami tidak selamanya bisa diterima dan dimaklumi oleh banyak orang. Memang bagi yang mengerti tidak akan berpikir macam-macam, hanya saja hati orang siapa tahu, pikir Khayla.


"Benar juga, semua karena kehendak Tuhan ... dua tahun pacaran bisa kalah sama yang baru kenal dua minggu, Khay." Erika mulai bersuara dan Zia yang kini menata jus sontak meliriknya tajam.


"Oh iya? Siapa yang begitu? Kok tega ya sama pacarnya?" Laura memang paling pandai menghangatkan suasana bahkan hampir terbakar.


"Ya tega dong, yang datang malaikat mana bisa nolak," tambah Zidny tertawa sumbang.


"Hahaha Mama kenapa jadi diam begitu? Papa ya maksudnya?" tanya Mikhayla mempertegas keadaan, Zia seakan tidak punya wajah saat ini di hadapan mereka.

__ADS_1


"Bu-bukan."


"Tante Zidny bilangnya malaikat, ya Papa lah." Mikhayla memang belum pernah mendengar penjelasan secara rinci, akan tetapi dia bisa menyimpulkan dari cara mereka bicara dan Zia yang menanggapinya.


"Sudah-sudah, Mamamu sudah memerah itu, Khayla. Jangan dibahas lagi," ucap Zidny kemudian, kasihan juga melihat Zia yang kini tampak malu di hadapan putrinya.


"Oh iya, Erika anakmu gimana?" Zia mengalihkan pembicaraan karena memang malu dengan pembicaraan mereka, ingin sekali dia melemparkan gelas tepat di wajah Erika.


"Alhamdulillah, putriku sudah lebih baik, Zia. Ternyata demam biasa, mas Zidan terlalu berlebihan kemarin," tutur Erika kemudian, beberapa waktu lalu memang kabar itu sampai ke telinga Zia bahkan wanita itu sempat hampir terbang ke Solo demi menjenguk putri sahabatnya.


"Wajar saja lah, mas Zico juga sama. Anaknya masuk angin dia yang muntah karena paniknya berlebihan, memang laki-laki tu begitu."


"Suamiku apalagi, malah dari aku hamil sudah heboh ... aku biasa saja dianya yang mual," sahut Amara kembali mengingat bagaimana Syakil beberapa tahun lalu.


"Hahah iya, suamiku juga begitu ... padahal kita sebagai istri tu butuhnya ditenangin. Lah ini makin buat rumit, mana nggak ada sabar-sabarnya sama sekali," omel Zidny yang tiba-tiba mengeluhkan tingkah suaminya.


Pembicaraan di dapur jadi semakin kemana-kemana, Mikhayla yang biasanya akan diusir jika Zia sudah membahas hal beginian kini tidak lagi. Dia berhak untuk tahu, hitung-hitung menambah pengalaman Mikhayla.


Sabar apanya? Tenang dari mananya, Mikhayla terbahak dalam hati kala mendengar pujian Erika yang sejak awal bertemu tidak berhenti kagum pada suaminya.


.


.


.


Tanpa mereka ketahui, saat ini Keyvan tengah menetralkan napasnya lantaran merasa sakit kepala dengan kehadiran banyak balita dan anak seumuran Lengkara di sana. Bukan tidak suka tempat keramaian, tapi suara dan jeritan mereka membuat telinga Keyvan sakit.


"Astaga, keluarganya besar sekali."


Keyvan butuh ketenenangan, dia butuh istrinya dan hal semacam ini memang kerap terjadi jika di rumah sang istri. Akan tetapi, biasanya tidak seramai ini, lagipula Lengkara dan Ameera tidak berisik seperti tadi.

__ADS_1


Ceklek


"Akhirnya, dari mana saja kamu?"


Benar kan dugaan Mikhayla, kesabaran Keyvan tidak lebih tebal dari selembar kertas. Lihat saja sekarang, baru juga masuk Mikhayla sudah dibuat terkejut lantaran pria itu menghampirinya dengan wajah yang memerah dan basah karena keringat.


"Kenapa?"


"Pusing, Khay ... kenapa sepupumu banyak sekali?" tanya Keyvan dengan wajah lesunya, beberapa saat lalu sebuah bola mendarat tepat di keningnya dan itu sakit sekali.


"Ya memang banyak, itu anak-anaknya sahabat Mama ... sengaja dikumpulkan karena Papa merindukan mereka semua," tutur Mikhayla pelan, dia menyadari kening Keyvan terlihat memerah dan sepertinya itu adalah sebab dia terlihat marah.


"Kenapa bisa begini?" tanya Mikhayla menyentuhnya pelan, dia tidak tahu bagaimana keadaan di luar sama sekali.


"Dilempar bola," ucapnya datar seraya menggigit bibir, andai saja bukan di rumah ini mungkin Keyvan sudah naik darah.


"Lempar siapa? Apa adik-adikku?"


"Bukan, anak laki-laki gendut yang terlihat seumuran dengan Lengkara ... Anak siapa itu? Menyebalkan sekali," gerutu Keyvan kesal lantaran memang bocah itu yang sengaja melemparkan bola tepat di wajahnya dari jarak jauh.


"Hahahah itu Zeeshan, anaknya om Syakil."


"Kenapa kamu tertawa? Kalau mataku yang kena bagaimana? Hampir saja aku buta, Mikhayla!!" tegas Keyvan dan itu sama sekali tidak menakutkan, melihat suaminya tertekan begini Mikhayla justru memiliki satu pertanyaan menarik.


"Yakin mau punya anak? Dilempar bola saja sudah marah begini," tutur Mikhayla sembari terkekeh dan ini memang lucu baginya.


"Ya-yakin, aku akan usaha agar anak kita tidak nakal." Keyvan seyakin itu jika anaknya tidak akan nakal, tanpa dia ketahui jika Mikhayla masih kecil tidak jauh berbeda dengan anak Syakil yang membuat dia sebal itu.


- To Be Continue -


Hai-hai, mau minta tolong lagi. Aku tadi baru cek Zayyan dan kaget lihat bintangnya turun di 4,8 ๐Ÿ™‚ Entah siapa yang kasih rate jelek sampai dia bisa terjun padahal baru tiga episode, mohon kasih bintang 5 ya, temen-temen๐Ÿ’•

__ADS_1



__ADS_2