Tawanan Cinta Pria Dewasa

Tawanan Cinta Pria Dewasa
BONUS CHAPTER 02


__ADS_3

Pacaran yang Zavia maksudkan memang benar adanya. Meski Keyvan maupun Mikhayla kerap sibuk, sama sekali Zavia tidak merasakan kekurangan kasih sayang. Mikhail yang memang mencintai anak kecil jelas saja merasa hadirnya Zavia adalah kebahagiaan terbesar di usia yang tidak muda lagi tersebut.


Seperti hari ini contohnya, mengingat Keyvan yang tiba-tiba demam dan Mikhayla masih hamil muda, Mikhail berinisiatif membawa Zavia keluar. Jalan-jalan tepatnya, mereka hanya berdua karena Lengkara dan Ameera lebih memilih ikut Zean dan juga Sean menikmati hari liburnya. Karena tujuan mereka berbeda, dan pinggang Mikhail sedikit sakit jika harus ke pantai di luar kota akhirnya memilih berbagi tugas bersama Zia.


Istrinya jaga anak, sementara dirinya jaga cucu. Pembagian tugas yang sudah sangat adil dan sama sekali tidak merugikan pihak manapun. Penampilan Mikhail yang masih terlihat awet muda dari luar jelas saja mengira jika dia adalah duda beranak satu yang tengah menikmati akhir pekan.


Kebahagiaan Zavia berkali lipat jika ditangan Mikhail. Bagaimana tidak, dia bahkan sebebas itu melakukan ini dan itu jika bersama Mikhail. Tujuan mereka adalah kebun binatang, Mikhail membawa Zavia ke tempat ini jelas saja karena ingin cucunya sembari belajar.


"Opa perutnya sama," ucap Zavia menunjuk dua ekor kudanil yang berdiam diri seakan tidak peduli dengan kehidupan hari ini.


"Hahah iya sama, mereka kan kembar, Sayang."


"Bukan, Opa. Maksud Via tu perut mereka sama seperti perut Opa," ujar Zavia membuat Mikhail sontak terdiam kemudian, sejak dalam kandungan sepertinya memang Zavia suka sekali mencela badan Mikhail. Sungguh menyedihkan sekali, pikir pria itu.


"Iya, 'kan, Opa?"


Zavia tidak becanda, dia memang mengatakan jika perut Mikhail seperti perut kudanil. Matanya yang bulat meminta validasi dari Mikhail dan mengiyakan dugaannya. Ingin marah, tapi tidak bisa. Mana mungkin Mikhail bisa marah jika yang melakukan body shaming terhadapnya adalah cucu yang seimut ini.


"Kita lihat yang lain saja ya."


Khawatir jika terus dianggap mirip kudanil pria itu pergi ke tempat lain hingga berjumpa dengan hewan yang membuat Zavia bertepuk tangan lantaran terlalu gemas.


"Via bawa pulang boleh?" tanya Zavia menunjuk seekor harimau dari jarak jauh. Sontak hal itu membuat Mikhail bergidik ngeri.


"Tidak boleh ... nanti habis ikan-ikan kita kalau pelihara kucing sebesar itu," ucap Mikail memberikan alasan yang sama sekali tidak logis hingga membuat kening Zavia berkerut dan protes lantaran pria itu asal bicara.


"Itu harimau, Opa ... bukan kucing. Bulu kucing Gagitu," protes Zavia yang merasa Mikhail sedikit mengada-ngada dan sama sekali tidak dapat dipercaya.

__ADS_1


"Oh Harimau, Opa pikir kucing," tutur Mikhail seakan memuji kemampuan cucunya.


Zavia yang sejak tadi berada dalam gendongan Mikhail berusaha mengulurkan tangannya dari kejauhan seakan mengajak hewan buas itu berkenalan. Cukup lama Mikail membawa Zavia hingga pinggangnya terasa sakit dan keringat bercucuran di keningnya.


"Opa capek?" tanya Zavia sedikit tidak masuk akal padahal jelas saja iya.


"iya ... kita duduk sebentar ya," pinta Mikhail kemudian menurunkan sang cucu yang tampak bingung kala mendongak ke arahnya.


"Via berat ya, Opa?" tanya Zavia seperti biasa tidak sadar diri jika tubuhnya memang lebih besar daripada anak-anak seusianya.


"Sedikit," ucap Mikail hingga membuat Zavia cemberut karena Mikail menganggapnya berat.


"Berarti Zavia gendut ya, Opa?" Zavia meraba perutnya yang memang besar, Mikhail terkekeh melihat kelakuan cucunya yang begitu persis mikayla ketika masih kecil. Melihat Zavia saat ini Mikhail seakan kembali ke masa 20 tahun silam.


"Cucu Opa kan memang gendut," jawab Mikhail sama sekali tidak peka jika Zavia sangat tidak suka dicap gendut oleh siapapun.


"Halah, siapa yang bilang begitu?" tanya Mikhail kemudian mengusap kedua pipi Zavia.


Sebenarnya anak itu tidak termasuk gendut seperti yang dimaksudkan. Hanya saja memang perkembangannya sedikit lebih cepat hingga tubuhnya jauh lebih besar dibandingkan anak seusianya hingga Zean menjulukinya bongsor. Mungkin gen Keyvan lebih mendominasi jika perihal fisik cucunya.


"Papa bilang begitu, Mama juga bilang begitu, semua bilang gemoy bukan gendut ... kalau gendut itu Opa." Mana mau dia kalah, bahkan mungkin jika harus berdebat Zavia akan berjuang hingga titik darah penghabisan demi menolak julukan gendut itu.


"Menggemaskan sekali ... jangan cepat besar, Zavia. Opa nanti kesepian," ucap Mikhail serius.


Enam tahun berlalu begitu cepat bagi Mikhail dan memang hal semacam ini kerap sekali dia rasakan setiap putrinya beranjak besar. Kini hal semacam ini dia rasakan kembali ketika Zavia mulai tumbuh besar.


"Kenapa jangan, Opa? Kata Mama Zavia harus cepat besar biar boleh pacaran," ucapnya membuat Mikhail tersedak ludah dan sontak ingin marah pada Mikhayla yang kemungkinan besar menjadi sebab cucunya berpikir semacam itu.

__ADS_1


"Jangan pernah percaya Mamamu ... dilarang pacaran, kalau sampai pacaran Opa potong telinganya mau?"


Zavia sontak memegangi kedua telinganya kala Mikhail selesai mengatakan hal itu. Matanya membola dan berpikir jika benar-benar akan dipotong segera.


"Opa jahat, Zavia aduin Papa nanti."


"Badan besar pengadu, malu sama perut."


"Perut Opa yang besar!! Perut Via langsing," omelnya tidak terima lantaran masih saja dianggap besar.


"Langsing dari mana? Via langsing kalau dilihat dari matahari."


"Ahahaha Opa gosong dong kalau lihat Vianya dari matahari." Mikhail sedang berusaha membuat cucunya tertekan, akan tetapi tampaknya dia salah dugaan dan sama sekali Zavia tidak terlihat sedih pada akhirnya.


- Zavia with Opa -


Btw masih inget ini siapa nggak? Aku buka novel sebelumnya dan kangen banget❤



.


.


Masih ada yang nungguin kah?


Rekomendasi novel buat temen makan bakwan, cus.

__ADS_1



__ADS_2