
Malam hampir usai, sementara Keyvan masih terjaga di sisi istrinya. Pria itu menatap wajah Mikhayla lekat-lekat, penyesalan dan kekecewaan kini menyatu dalam diri Keyvan. Beruntung saja dia tidak benar-benar merenggut kesucian Mikhayla malam itu, jika sampai benar terjadi alangkah besarnya penyesalan Keyvan.
"Tetap di sisiku, Sayang ... benar kata Keny, terkadang dewasanya seseorang tidak dinilai dari usia."
Keyvan bermonolog, setelah cukup lama dia memandangi wajah sang istri, untuk kali pertama dia menitikkan air mata tanpa terduga. Sialnya, air mata Keyvan menetes tepat di bibir Mikhayla, wanita itu merasa terganggu dan menjjilat bibirnya sekilas hingga Keyvan menganga kemudian.
"Ehm, asin ... kenapa jahil sih? Mikhayla yang kini masih mengumpulkan nyawa sontak duduk di hadapan Keyvan, sungguh dia benar-benar dibuat terkejut dengan tetesan air yang terasa asin di bibirnya.
"Hm? Tidak ada yang jahil."
Keyvan mengalihkan pandangan seraya mengusap air matanya kasar. Jika sampai Mikhayla menatapnya jelas saja dia malu, pria itu berusaha terlihat baik-baik saja padahal jiwanya memang sedikit lemah malam ini.
Sementara Mikhayla yang masih bingung dengan cairan asin itu kini tengah mendongak, menatap langit-langit sembari berpikir apakah memang ada tikus atau cicak di sana, pikir Mikhayla.
"Tadi ada yang aneh di atas? Hewan atau apa gitu buang air terus kena bibirku?" tanya Mikhayla sembari terus menggosok bibirnya, dia yang trauma akan hal-hal seperti itu jelas saja menduga jika yang jatuh ke bibirnya berasal dari hewan di langit-langit kamar.
"Buka matamu dan perhatikan kamarnya, apa mungkin di sini akan ada tikus dan yang lainnya?" Keyvan tidak habis pikir kenapa bisa sang istri menduga sejauh itu, dia yang tadi sedih mendadak hilang lantaran sikap membingungkan istrinya.
"Tapi cicak mungkin saja, sebentar aku cuci dulu ... perasaanku tidak enak, nanti sial seumur hidup."
Semakin tidak jelas, Keyvan menahan pergelangan tangannya agar Mikhayla tetap di sisi. Pria itu menggeleng pelan kemudian menghela napas kasar.
"Tetap di sini, kamu tidak akan sial hanya karena menelan air mataku," ujar Keyvan serius, Mikhayla dengan wajah tidak yakinnya masih ragu dan berusaha memastikan apa benar air mata Keyvan yang membasahi bibirnya.
"Apa iya?"
"Hm, cuma sedikit tidak akan membuatmu mati."
Mikhayla tidak menjawab ucapan pria itu lagi, saat ini dia hanya terfokus menatap lekat manik indah Keyvan yang memang terlihat sayu. Merasa mata Mikhayla kian tajam dan menatapnya tak berkesudahan, pria itu mencoba menghindari dan Mikhayla segera menangkup wajah Keyvan dengan kedua telapak tangannya.
"Belum tidur ya sejak tadi?" tanya Mikhayla tepat sekali menebak jika sang suami tidak tidur, terbukti jelas dengan mata Keyvan yang terlihat tidak sehat sama sekali.
"Tidak bisa, belum ngantuk."
__ADS_1
Mata sudah memerah dan wajahnya tampak lesu, bisa-bisanya Keyvan berucap jika dirinya belum ngantuk. Mikhayla tidak sebodoh itu, sekalipun Keyvan berbohong dengan segala ucapannya dia paham betul apa yang terjadi sebenarnya.
"Matanya sudah merah begitu, apa yang ditangisi sampai hampir pagi begini?"
Jemari mungilnya menyeka sisa air mata di sudut mata sang suami, perlakuannya berhasil membuat Keyvan sontak menghangat. Kapan terakhir kali seseorang peduli dengan air matanya, bertahun-tahun mungkin baru kali ini Keyvan memperlihatkan air matanya di hadapan wanita. Itu pun karena tidak sengaja dan Keyvan tidak mungkin menghindar tentu saja.
"Banyak, kamu salah satunya," jawab Keyvan singkat dengan senyum tipis hampir tidak terlihat itu, niat Keyvan tersenyum tampaknya memang benar-benar hanya seujung jari.
"Sisanya?"
"Semua tentang hidupku, pengkhianatan orang-orang yang aku percaya, permainan wanita yang aku kira setulus itu ... cih, sampai aku berpikir hanya mendiang Mama yang benar-benar mencintaiku dengan tulus di dunia ini, tapi setelah melihatmu lebih lama aku rasa pikiranku salah, Khay."
Benar dugaan Mikhayla, suaminya memang menyimpan sakit sedalam itu. Tadi malam memang dia sudah memperlihatkan gelagat tidak beresnya, akan tetapi Keyvan sama sekali belum bicara terus terang apa sebabnya.
.
.
.
"Tidak ada, mungkin kurang sabar dan sedikit pemaksa saja sebenarnya."
Mikhayla tidak asal menjawab, memang nyata jika Keyvan kerap tidak sabar dan pemaksa dalam segala sesuatu. Mendengar jawaban Mikhayla, pria itu mendelik seketika.
"Kenyataan, kenapa matanya begitu?" Mikhayla mencebik lantaran Keyvan seolah tidak terima dikatakan demikian, padahal memang dia pemaksa dan tidak sabar sama sekali.
"Hanya itu?"
"Iya hanya itu," jawab Mikhayla mantap sembari mengangguk berkali-kali, wajah Keyvan tidak lagi semurung ketika awal dia membuka mata, sungguh Mikhayla menyesal tidur lebih dulu jika tahu begini.
"Ehm aku ingin tanya satu hal, jawab sejujurnya dan jangan ditutup-tutupi." Keyvan masih penasaran, apa mungkin dia juga akan dinilai sama di mata wanita yang berbeda.
"Apa?"
__ADS_1
"Kamu puas dengan permainanku di atas ranjang?"
Gleg
Pertanyaan yang sama sekali tidak pernah Mikhayla duga sebelumnya. Kenapa tiba-tiba Keyvan menanyakan hal segila itu, dia yang ditanya dia pula yang mendadak memerah persis kepiting rebus dan bingung hendak menjawab apa.
"Jawab, Sayang ... jujur saja tidak masalah, kalau memang iya aku akan berusaha atau kita perlu ke dokter dan lainnya."
Belum sempat Mikhayla menjawab sang suami sudah menuntutnya, Mikhayla menepuk bibir Keyvan pelan dengan jemarinya. Sebal sendiri lantaran Keyvan jadi uring-uringan perkara permainan di atas ranjang itu.
"Menurutmu? Harusnya aku yang bertanya, di antara kita berdua yang tidak pernah puas itu kamu, lupa?"
Keyvan diam sesaat, kembali dia berpikir dan mengingat-ngingat lagi dan memang benar apa yang istrinya katakan. Mikhayla menatapnya datar dan merasa pertanyaan Keyvan sangat amat konyol, tanpa dijawab seharusnya dia bisa menyimpulkan sendiri.
"Aku serius, Khay."
"Tidur yuk, suamiku ini kurang istirahat sepertinya," tutur Mikhayla lembut sembari meminta Keyvan untuk berbaring di sisinya.
Keyvan yang memang sedang merasa kacau menuruti kemauan sang istri dan kini menenggelamkan wajahnya di dada Mikhayla, sesekali posisinya terbalik karena memang Keyvan butuh itu.
"Jangan pernah mencari kebahagiaan bersama pria lain dibelakangku, Mikhayla."
"Tidak, aku sudah sangat bahagia saat ini ... tidurlah, aku bukan Liora dan tidak perlu disamakan sekalipun itu hanya pikiran," ucap Mikhayla sembari merengkuh sang suami, tidak perlu dijelaskan secara gamblang dia paham apa yang Keyvan alami.
Baru juga beberapa menit, deru napas Keyvan kini terdengar teratur pertanda dia mulai terlelap dalam pelukan dan belaian lembut sang istri, demi apapun Mikhayla mencintai laki-laki ini dan setakut itu dia hilang sebagaimana takut kehilangan Mikhail, sang papa.
- To Be Continue -
Hai-hai cintaku, boleh bantu sesuatu gak?
Tolong bantuin rate 5 untuk Keyvan sama Mikhayla ya💕
Baru 251 yang kasih, terima kasih💋
__ADS_1